DATU DAN WALI
=============================================================================================
Mari kita dukung pelestarian khazanah cerita rakyat Daerah Kalimantan Selatan seperti Maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu kurungan serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin dan tumenggung mat lima mempertahankan benteng gunung madang, panglima bukhari dan perang hamuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais di bamban, datu janggar di malutu, datu bagut di hariang, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di taal, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Baseri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan. Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.
Senin, 21 April 2014
Cerita Syekh Muhammad Thaib
Senin, 17 Maret 2014
Legenda "Kandangan Cingai"
Kalimat sastrawan Inggris itu, William
Shakespeare, tidaklah salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Dalam
konstalasi kehidupan, nama, tenyata turut merumuskan sesuatu yang amat
intim dengan keberadaan: identitas pembeda antara yang satu dengan yang
lain, termasuk dalam soal wilayah atau komunitas tertentu.
Dengan mengucapkan sebuah identitas
kewilayahan, seseorang pada dasarnya telah memilih satu pola untuk
bereaksi atau bersikap dalam suatu situasi, termasuk dalam hal merasa
tersinggung atau bangga, dalam hal kesediaan untuk mati atau menahan
diri.
Pernyataan yang berbunyi “Kandangan
Cing-ai!” merupakan contoh ihwal semacam itu. Kalimat pendek tersebut
sudah demikian populer, utamanya di kawasan Kalimantan Selatan. Turun
temurun dari waktu ke waktu, dari satu generasi ke generasi yang lain.
Di dalamnya, kendati kadang terkesan bernada arogan, tersirat suatu
kebanggaan terhadap banua, kebanggaan terhadap satu komunitas , yang
mempunyai ciri dan karakter tersendiri.
Kalangan budayawan dan sosiolog
beranggapan bahwa karakter urang Kandangan itu keras tatapi menyimpan
kelembutan, lamun dibaiki salipi di kantung gin dijulungi, tapi lamun
dijahati Saumur janang kaingatan. Karakter yang lain adalah teguh dalam
memegang prinsip, melatakkan harga diri di tempat yang tinggi, punya
solidaritas yang kental, berani dan jarang bapisah lawan gagaman.
Lalu darimanakah asal muasalnya sehingga wilayah yang dibelah oleh Batang Hamandit kemudian ditasmiahi dengan nama Kandangan?
Pertanyaan itu akan membuat orang
menengok jauh ke masa lalu. Ketika catatan sejarah tak mampu menjawab
maka tolehan ke abad-abad silam akan bermuara pada mitologi, legenda,
atau cerita rakyat.
Sahibul hikayat yang selama ini
terlanjur populer menyebutkan bahwa Kandangan berasal dari kata Kandang
Hadangan (Kerbau), konon, kawasan Batang Hamandit ini,baik yang berupa
rawa maupun tanah datar dan tinggi, merupakan tempat pemeliharaan dan
penggembalaan hadangan. Beratus-ratus hadangan dipelihara didalam
kandang-kandang yang tersebar diberbagai tempat. Tenarlah kawasan itu
sebagai Kandang Hadangan lama-lama pengucapannya aus menjadi Kandangan.
Perubahan kata Kandang Hadangan menjadi
Kandangan oleh sebagai masyarakat dianggap terlalu mengada-ada. Terlalu
banyak huruf yang hilang, jauh berbeda dengan kata Baraba-ai yang
menjadi Barabai, atau kata Muara Bahan yang menjadi Marabahan. Apalagi
karakteristik pemelihara hadangan dinilai jauh berbeda dengan
karakteristik urang Kandangan.
Versi lain memunculkan kaitan erat
dengan kultur agamis yang dipunyai masyarakat Kandangan. Konon, disuatu
waktu di tahun 1800-an, di daerah Karang Jawa diadakan Musyawarah para
Datu. Hampir seluruh datu Banua Banjar berhadir, termasuk Datu Syekh
Muhammad Arsyad Al-Banjari, Datu Aling, Datu Sanggul. Ketika Syekh
Muhammad Arsyad ditanya orang mau ke mana, beliau menjawab: mau
kondangan (diucapakan dengan dialek Banjar Kuala yang kental). Kata
kondangan itu terdengar seperti kata Kandangan, sehingga orang kemudian
menyebut tempat yang dituju Syekh Muhammad Arsyad itu sebagai Kandangan.
Versi lain lagi meyebutkan bahwa asal
nama Kandangan berhubungan dengan ketidaksukaan satu komunitas di
kawasan Batang Hamandit terhadap Lambung Mangkurat dari Negara Dipa.
Bagi mereka, Lambung Mangkurat punya
track-record buruk. Lambung Mangkurat dianggap membodohi rakyat dengan
mengatakan Putri Junjung Buih sebagai wanita hasil tapa, padahal wanita
itu orang hulu Balangan yang bernama Galuh Cipta Sari; menjadikan
Junjung Buih sebagai Ratu Boneka di Negara Dipa; membunuh dua kemenakan,
Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga; menjadi penyebab bunuh dirinya
Empu Mandastana dan sang istri, kakak dan iparnya sendiri; menjadikan
Raden Putra si orang Majapahit sebagai suami Junjung Buih sekaligus
menobatkannya menjadi Raja Negara Dipa. Lambung Mangkurat kemudian juga
membunuh Diang DipaRaja, istrinya sendiri; juga menjadi penyebab bunuh
dirinya Arya Malingkan dan istri, kedua mertuanya.
Ulah Lambung Mangkurat itu akhirnya
membuat komunitas Batang Hamandit memaklumkan perlawanan. Mereka
mendirikan benteng berupa kandang yang memagari keliling wilayahnya.
Kendati berkali-kali diserang, orang-orang dalam benteng itu tak jua
berhasil ditaklukkan. Lambung Mangkurat akhirnya membiarkan keberadaan
wilayah dan komunitas tersebut sepanjang tidak mengganggu Negara Dipa
dan kekuasaannya.
Orang-orang kemudian menyebut komunitas
dalam benteng itu sebagai Urang Kandangan, artinya orang yang berdiam
atau berada di dalam kandang.
Kendati diperlukan penelusuran lebih jauh, mitologi urang dalam kandang itu terlihat lebih pas dengan karakter urang Kandangan.
Tapi apa sih? Perlunya memunculkan lagi
mitologi yang telah terkubur daun-daun waktu ke milineum ketiga ini?
Apakah ingin membangun oposisi etnik di tengah nganga jurang
disentegrasi bangsa sekarang ini? Sama sekali tidak. Refleksi mitologi
itu sekedar menolehi modal dasar yang dipunya oleh urang Kandangan dalam
merenda masa depan.
Mitologi itu menunjukkan juriat, juriat
urang Kandangan. Dan persoalan juriat adalah persoalan akar yang
terhunjam dalam: akar budaya yang membentuk eksestensi seseorang atau
sekelompok orang yang menyebut diri sebagai urang Kandangan.
Dari akar budaya tersebut lahir beragam
ujaran datu nini yang kemudian menjadi patok nilai-nilai tradisi urang
Kandangan. Misalnya, kita bakulawarga kada wayah katam haja; pacah
sabuku pacah sakataraan; lamun bakawinan kada sarana disaru aku tapi
lamun bakalahian habari-ha; menunjukkan kentalnya citra kebersamaan.
Kebersamaan tidak cuma muncul pada saat-saat basuka-barami (dilambangkan
dengan wayah katam atau bakakawinan), tetapi juga pada saat-saat susah,
bahkan pada saat panyawaan menjadi resikonya (dilambangkan dengan pacah
sakataraan atau bakalahian). Modal kebersamaan semacam itu merupakan
harta waris yang seyogyanya dijaga barataan, terlebih dalam mencermati
dan menyikapi era otonomi daerah ini. Tanpa kebersamaan maka kayuhan
perahu otonomi daerah di tengah laut berbadai, seperti sekarang ini,
rasanya sukar, atau bahkan mustahil dilakukan.
Tapi citra kebersamaan tidaklah sesempit
pengertian unggut-unggut tarus nang kaya bilatuk manabuk sarang.
Kebersamaan tidaklah menafikan kritik. Kebersamaan tidaklah meminggirkan
pendapat orang lain atau merasa ampun saurang haja nang pambujurnya,
apalagi rasnang nang kaya mandur Ulanda. Kebersamaan adalah juga
keterbukaan dalam memberi dan menerima. Ketulusan tagur-managur atawa
ingat-maingati lamun kauyuhan jukung ampah manumbuk ambul.
Maka dengan modal kebersamaan, parigal otonomi daerah bukanlah hal yang perlu ditakutkan.
Kandangan Cing-ai! Banua kami nang rakat mupakat matan datu-nini
Kisah Masjid Banua Lawas
![]() |
| Mesjid Pusaka Banua Lawas |
![]() |
| Halaman Depan Mesjid Pusaka |
![]() |
| Makam penghulu Rasyid disamping Mesjid |
Legenda KALUA dan HINTALO
Kisah Syech Muhammad Nafis
![]() |
| Kubah tampak samping |
Dulunya Kubah Syech Muhammad Nafis ini tidak seindah sekarang, bangunan fisiknya hampir keseluruhan terbuat dari kayu, seiring ramainya pengunjung yang berziarah, maka Pemerintah Daerah dan pihak-pihak terkait yang ikut membantu pembangunan ini terus melakukan renovasi berkali-kali, sampai terlaksana seperti sekarang ini (pada gambar).
![]() |
| Pintu gerbang masuk Kubah |
![]() |
| Makam Syech Muhammad Nafis |
![]() |
| Musholla tampak samping |
![]() |
| Jalan di Kubah |
![]() |
| Surau Kecil tempat do'a selamatan |
![]() |
| Tempat berwudhu |
Selasa, 04 Februari 2014
LEGENDA CINDELARAS
Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.
Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja merasa puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras kemudian mengambil telur itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam yang sangat lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Tetapi ada satu yang aneh dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...", kokok ayam itu
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.
Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda."
Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.
LEGENDA BAWANG MERAH & PUTIH
Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.
Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.
Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”
Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.
Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.
Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.
Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.
Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah......









