DATU DAN WALI

=============================================================================================

Mari kita dukung pelestarian khazanah cerita rakyat Daerah Kalimantan Selatan seperti Maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu kurungan serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin dan tumenggung mat lima mempertahankan benteng gunung madang, panglima bukhari dan perang hamuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais di bamban, datu janggar di malutu, datu bagut di hariang, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di taal, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Baseri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan. Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

Rabu, 23 Januari 2013

KISAH PANGLIMA BATUR



Panglima Batur adalah salah seorang pejuang Perang Banjar (Bandjermasinsche Krijg), yakni perang antara dua bangsa dan pemerintahan yang berdaulat, yakni antara bangsa Banjar di Kesultanan Banjarmasin di satu pihak yang wilayah utamanya meliputi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah sekarang dengan pihak Belanda. Pada saat berdirinya Kesultanan Banjar, semua suku yang ada dalam wilayah teritorial Kesultanan Banjar seperti suku Banjar, Bukit, dan Dayak (a.l. suku Dayak Dusun, Ngaju, Kayan, Siang, Bakumpai) baik yang beragama Islam maupun yang masih menganut kepercayaan Kaharingan adalah ”Bangsa Banjar”.
           Panglima Batur berasal dari suku Dayak beragama Islam di daerah Buntok-Kecil, 40 Km di udik Muara Teweh. Sebagai panglima ia mengabdi kepada pemerintahan Pegustian yakni pemerintahan kelanjutan Kesultanan Banjar di hulu Sungai Barito. Setelah Perang Banjar meletus pada tahun 1859, maka kemudian perang ini meluas hingga ke hulu Barito. Pangeran Antasari sebagai pimpinan perang mampu menyatukan kalangan pejuang dari etnis Banjar dan Dayak untuk bersama-sama melawan Belanda. Selepas Antasari meninggal di tahun 1862 di Bayan Begok daerah Puruk cahu, pimpinan perlawanan diteruskan oleh puteranya Sultan Muhammad Seman, dan ia dibantu oleh pengikut setianya yakni Panglima Batur. Oleh karena itu, perjuangan yang dilakukan Panglima Batur pada hakikatnya adalah untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dan tanah Banjar dari penguasaan Belanda.
           Panglima Batur bersama Sultan Muhammad Seman mempertahankan benteng terakhir di Sungai Manawing dalam perjuangan mereka melawan Belanda. Pada saat Panglima Batur mendapat perintah untuk pergi ke Kerajaan Pasir untuk memperoleh mesiu, saat itulah benteng Manawing mendapat serangan Belanda. Pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Christofel yang berpengalaman dalam perang Aceh, dengan sejumlah besar pasukan marsose yang terkenal ganas dan bengis, menyerbu benteng Manawing pada Januari 1905. Dalam pertempuran yang tidak seimbang ini Sultan Muhammad Seman tidak dapat bertahan. Sultan tertembak dan dia gugur sebagai kesuma bangsa. Ia adalah sultan terakhir dari Kerajaan Banjar dalam pemerintahan pelarian di daerah Barito. Sultan Muhammad Seman benar-benar konsekwen terhadap sumpah melaksanakan amanah ayahndanya Pangeran Antasari yang tidak kenal kompromi dengan Belanda, “Haram manyarah waja sampai kaputing”. Tertegun dan dengan rasa sedih yang mendalam ketika Panglima Batur kembali ke benteng Manawing yang musnah, dan Sultan Muhammad Seman, pimpinannya telah tewas. Panglima Batur dan teman seperjuangannya Panglima Umbung pulau ke kampung halaman mereka masing-masing. Panglima Umbung kembali ke Buntok-Kecil. Sultan Muhammad di Seman di makamkan di puncak gunung di Puruk Cahu.
           Sepeninggal Sultan, Panglima Baturlah satu-satunya pimpinan perjuangan yang masih bertahan. Ia terkenal sangat teguh dengan pendiriannya dan sangat patuh dengan sumpah yang telah diucapkannya, tetapi ia mudah terharu dan sedih jika melihat anak buahnya atau keluarganya yang jatuh menderita. Hal itu diketahui oleh Belanda kelemahan yang menjadi sifat Panglima Batur, dan kelemahan inilah yang dijadikan alat untuk menjebaknya. Ketika terjadi upacara adat perkawinan kemenakannya di kampung Lemo, dimana seluruh anggota keluarga Panglima Batur terkumpul, saat itulah serdadu Belanda mengadakan penangkapan. Pasangan mempelai yang sedang bertanding juga ditangkap dimasukkan ke dalam tahanan, dipukuli dan disiksa tanpa perikemanusiaan. Cara inilah yang dipakai Belanda untuk menjebak Panglima Batur.
           Dengan perantaraan Haji Kuwit salah seorang saudara sepupu Panglima Batur Belanda berusaha menangkapnya. Atas suruhan Belanda Haji Kuwit mengatakan bahwa apabila Panglima Batur bersedia keluar dari persembunyian dan bersedia berunding dengan Belanda, barulah tahanan yang terdiri dari keluarganya dikeluarkan dan dibebaskan, dan sebaliknya apabila Panglima tetap berkeras kepala, tahanan tersebut akan ditembak mati. Hati Panglima Batur menjadi gundah dan dia sadar bahwa apabila dia bertekad lebih baik dia yang menjadi korban sendirian dari pada keluarganya yang tidak berdosa ikut menanggungnya.
Dengan diiringi orang-orang tua dan orang sekampungnya Panglima Batur turun ke Muara Teweh. Benar apa yang menjadi kata hatinya, bukan perundingan tetapi ia ditangkap sebagai tawanan dan selanjutnya dihadapkan di meja pengadilan. Ini terjadi pada tanggal 24 Agustus 1905. Setelah dua minggu di tawan di Muara Teweh, Panglima Batur diangkut dengan kapal ke Banjarmasin. Di kota Banjarmasin dia diarak keliling kota dengan pemberitahuan bahwa inilah pemberontak yang keras kepala dan akan dijatuhkan hukuman mati.
Pada tanggal 15 September 1905 Panglima Batur dinaikkan ketiang gantungan. Permintaan terakhir yang diucapkannya dia minta dibacakan “Dua Kalimah Syahadat” untuknya. Dia dimakamkan di belakang Mesjid Jami’ lama Banjarmasin di tepian Sungai Martapura, tetapi sejak 21 April 1958 jenazahnya dipindahkan ke kompleks “Makam Pahlawan Banjar” Jalan Mesjid Jami Banjarmasin (Dikutip a.l. dari Buku Sejarah Banjar; foto Panglima Batur koleksi keluarga alm. H.M. Yakub Amin —lahir 1915, pensiunan TNI tahun 1950— diwarisi dari orang tua beliau, di Jalan Panglima Batur, Banjarmasin)......

KISAH TUMENGGUNG JALIL

Jalil (nama populer Tumenggung Jalil), kemudian bergelar Tumenggung Macan Negara, kemudian bergelar Kiai Adipati Anom Dinding Raja (lahir di Kampung Palimbangan, Hulu Sungai Utara tahun 1840 – meninggal di Benteng Tundakan, Balangan tanggal 24 September 1861 pada umur 21 tahun) adalah panglima perang dalam Perang Banjar dengan basis pertahanan di Banua Lima, pedalaman Kalimantan Selatan. Jalil merupakan seorang jaba (Banjar: bukan berdarah bangsawan). Sejak kecil dia dikenal pemberani dan pendekar dalam ilmu silat. Pada waktu berusia 20 tahun dia terlibat dalam perlawanan terhadap Belanda di Desa Tanah Habang dan Lok Bangkai. Karena kepahlawanannya dia dikenal
sebagai Kaminting Pidakan (Banjar: jagoan / jawara). Tumenggung Jalil Menyusun Kekuatan Jalil diberi gelar Tumenggung Macan Negara oleh Sultan Tamjidullah II, karena itulah ia dikenal juga dengan sebutan Tumenggung Jalil. Kemudian Tumenggung Jalil memihak kepada mangkubumi Pangeran Hidayatullah dan diberi gelar Kiai Adipati Anom Dinding Raja oleh Pangeran Hidayatullah.
Pada tahun 1859 Tumenggung Jalil telah menyusun kekuatan di Banua Lima. Tumenggung Jalil membuat pos-pos penjagaan di sekitar Babirik, Alabio dan Sungai Banar. Disekitar Masjid Amuntai didirikan benteng. Di sungai dibuat rintangan-rintangan sehingga mempersulit bagi kapal yangakan lewat. Pertempuran di Amuntai, Balangan dan Tabalong Pada awal Februari 1860, Belanda mengerahkan kapal- kapal perang Admiral van Kingsbergen dan kapal Bernet dengan beberapa ratus serdadu dan pasukan meriam dipimpin oleh Mayor Gustave Verspijck. Kapal perang itu akhirnya sampai di Alabio, dan seterusnya terpaksa menggunakan kapal atau perahu yang lebih kecil karena rintangan yang banyak di
sungai. Pertempuran terjadi di sekitar Masjid Amuntai.
Dari masjid inilah keluar prajurit-prajurit rakyat yang tidak mengenal lelah menyerbu dengan hanya bersenjatakan tombak, parang bungkul dan mandau dengan meneriakkan Allahu Akbar menyerbu Belanda. Korban berjatuhan dan perang berhadapanpun terjadi. Semangat membela agama dan berjuang melawan orang kafir dan mati dalam perang itu adalah semangat patriotisme yang tinggi yang mengisi dada setiap rakyat yang bertempur melawan penjajah Belanda.
Benteng di sekitar masjid dipertahankan dengan kuat di bawah pimpinan Matia atau
Mathiyassin, pembantu utama Tumenggung Jalil dengan gagah berani mehamuk menyerbu serdadu Belanda.
Beratus-ratus yang menjadi syuhada dalam pertempuran itu, 44 orang di antaranya dimakamkan di Kaludan. Rumah-rumah penduduk ikut menjadi korban terbakar serta kampung di sekitarnya menjadi saksi kepahlawanan rakyat Amuntai mempertahankan agama. Di antara kampung yang musnah adalah Kampung Karias, dan di antara rumah penduduk yang musnah terdapat rumah Tumenggung Jalil. Di bekas benteng yang hancur, dijadikan Belanda bivak, benteng baru terletak di pertemuan sungai Balangan dan sungai Tabalong. Pertempuran ini terjadi pada 9 Februari 1860. Pasukan-pasukan Pangeran Hidayatullah yang tersebar di sekitar Barabai bergabung dengan pasukan Tumenggung Jalil dan dapat menahan gerakan serdadu Belanda di sekitar Pantai Hambawang. Dalam pertempuran yang terjadi di Lampihong di antara serdadu Belanda yang menjadi korban adalah Kapten De Jong. Pertempuran ini menyebabkan serdadu Belanda mundur.
Bantuan serdadu Belanda kemudian diangkut dengan kapal perang Boni pada tanggal 15 Mei 1860 menuju dan memudiki sungai Tabalong. Sebelum mencapai daerah Tabalong, serdadu Belanda menghadapi serbuan rakyat di sepanjang sungai yang dilewati. Sesampai di daerah Tabalong, terjadi pertempuran dengan pasukan Tumenggung Jalil.
Perlawanan rakyat cukup sengit menyebabkan serdadu Belanda terpaksa mundur ke daerah Kalua dan Amuntai. Baru pada bulan Juni 1860 Belanda berhasil menduduki daerah Tabalong. Serdadu Belanda menghadapi perlawanan dari pasukan Pangeran Hidayatullah, pasukan Tumenggung Jalil dan pasukan Pangeran Antasari dengan Tumenggung Surapati yang berpusat di Tanah Dusun. Benteng Batu Mandi dan Benteng Tabalong Tumenggung Jalil kemudian membuat benteng di Batu Mandi dan dari benteng ini dapat memutuskan hubungan serdadu Belanda antara Barabai dan Lampihong. Benteng ini terletak di atas sebuah bukit dan di sekitarnya diberi rintangan-rintangan, seperti parit-parit, lubang perangkap, tali jerat dan potongan pohon kayu besar yang sewaktu-waktu dapat digulingkan dari atas bukit. Benteng ini dipercayakan kepada Penghulu Mudin. Ketika serdadu Belanda menyerbu dan menaiki bukit yang dijadikan benteng ini, banyak sekali korban dari pihak Belanda, karena jebak (ranjau) yang dibuat. Di antara yang jatuh korban adalah pimpinan penyerbuan ini Sersan van de Bosch. Karena gagal menaiki benteng tersebut, serdadu Belanda menembaki benteng ini dengan meriam dari bawah. Sementara itu Pangeran Antasari memperkuat benteng Tabalong. Pangeran Antasari menaikkan bendera di atas benteng itu, yaitu bendera merah dengan dua buah keris bersilang.
Benteng Batu Mandi dipersiapkan dengan sungguh-sungguh oleh Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah. Disamping itu terdapat pula Pangeran Syarif Umar (ipar Pangeran Hidayatullah) dan Pangeran Usman (kemenakan Pangeran Hidayatullah). Sedangkan Tumenggung Jalil mempersiapkan pertahanan di sepanjang sungai Balangan. Sebelum sampai ke benteng ini, terdapat kubu-kubu pertahanan di batang Balangan. Di daerah Batang Alai terdapat kekuatan dibawah pimpinan Demang Jaya Negara Seman dan Kiai Jayapati. Pusat kekuatan telah dibagi dan dipencar-pencar Pangeran Antasari tetap bertahan di sekitar Amuntai, Kalua dan Tabalong, sedangkan Jalil berada di pusat kekuatan di Pasimbi, yang berusaha menghambat gerakan serdadu Belanda menuju Batu Mandi. Kubu-kubu pertahanan Jalil selain di Pasimbi, juga terdapat di Lampihong , Layap, Muara Pitap dan lain-lain.
Ketika serdadu Belanda sampai ke benteng Batu Mandi pada tanggal 13 Oktober 1860 ternyata benteng itu telah dikosongi. Belanda sangat kecewa karena sebelum mencapai benteng Batu Mandi, serdadu Belanda menghadapi perlawanan yang gencar dari segala pelosok, ternyata benteng itu telah kosong. Pertempuran di Benteng Tundakan 24 September 1861 Penyerangan benteng Gunung Tongka oleh Belanda (gambar oleh G. Kepper) Garis pertahanan Pangeran Antasari antara benteng Pengaron, benteng Tundakan dan Gunung Tongka (di daerah Barito ) merupakan basis perjuangan yang tak mudah ditaklukkan Belanda. Tumenggung Jalil setelah terpukul di Banua Lima, kemudian menggabungkan diri ke benteng Tundakan bersama-sama Tumenggung Baro dan Pangeran Maradipa. Ketika terjadi pertempuran menghadapi pasukan serdadu Belanda yang menyerbu benteng Tundakan, banyak korban berjatuhan kedua belah pihak. Benteng di dipertahankan dengan sekuat tenaga oleh para pejuang tak kenal menyerah. Mati syahid adalah idaman mereka dalam setiap pertempuran menghadapi orang kafir Belanda. Pertempuran itu terjadi pada 24 September 1861. Tumenggung Jalil mempertahankan benteng itu bersama-sama Pangeran Antasari dan tokoh pejuang lainnya. Benteng Tundakan hanya dipertahankan dengan 30 pucuk meriam dan senapan jauh lebih kecil dibanding dengan persenjataan Belanda. Meskipun dengan persenjataan yang kecil, tetapi dengan semangat juang tak kenal menyerah, akhirnya Belanda terpaksa mundur dan dapat dihalau dari tempat pertempuran. Dengan demikian benteng Tundakan dapat dipertahankan dan diselamatkan. Setelah usai ternyata Tumenggung Jalil gugur sebagai kesuma bangsa. Mayatnya ditemukan dalam tumpukan tumpukan mayat-mayat serdadu Belanda, jauh di luar benteng. Ketika perang sedang berkecamuk, Tumenggung Jalil mehamuk ke tengah-tengah musuh, dan dia menjadi korban bersama-sama serdadu Belanda yang dibunuhnya. Tumenggung Jalil menjadi syahid, seorang putera bangsa terbaik telah hilang. Kebencian Belanda kepada Tumenggung Jalil sebagai musuhnya yang paling ditakutinya, berusaha mencari dimana kuburan Tumenggung
ini. Akhirnya penghianat perjuangan memberi tahu letak kuburan tersebut. Kuburan beliau dibongkar kembali oleh kaki tangan Belanda, tengkoraknya diambil dan disimpan di Negeri Belanda, sisa mayatnya dihancurkan dan dia pejuang bangsa yang tidak mempunyai kubur....

Kisah SYEKH ABDURRAHMAN SIDDIQ

ULAMA Syeikh Haji Abdur Rahman Shiddiq bin Haji Muhammad Afif bin Haji Anang Mahmud bin Haji Jamaluddin bin Kiyai Dipa Santa Ahmad bin Fardi bin Jamaluddin bin Ahmad al-Banjari.Jalur keturunan yang menyentuh Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama dunia Melayu yang sangat terkenal, ialah bahawa ibunya bernama Shafura binti Mufti Haji Muhammad Arsyad bin Mufti Haji Muhammad As’ad. Ibu Mufti Haji Muhammad As’ad bernama Syarifah binti Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, iaitu daripada perkahwinan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dengan Tuan Bajut. Dari jalur yang lain pula bahawa ibu Muhammad Afif bernama Sari binti Khalifah Haji Zainuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, iaitu daripada perkahwinan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dengan Tuan Guat.Berdasarkan catatannya sendiri yang penulis peroleh daripada keturunan beliau di Sapat dan Tembilahan, Inderagiri Hilir (1982) bahawa Haji Abdur Rahman Shiddiq lahir bulan Rabiulakhir, malam Khamis, sebelum Subuh, 1284 Hijrah/Ogos 1867 Masihi. Beliau memadamnya dan diganti dengan 1288 Hijrah/Jun/Julai 1871 Masihi. Penulis tidak sependapat dengan beberapa orang penulis yang menyebut bahawa Haji Abdur Rahman Shiddiq lahir pada tahun 1857 Masihi. Mengenainya barangkali satu kekeliruan menyesuaikan tahun 1284 Hijrah atau 1288 Hijrah ke tahun Masihi saja. Bahawa 1284 Hijrah bukan bersamaan dengan tahun 1857 Masihi tetapi yang betul ialah tahun 1867 Masihi. Catatan tambahan yang dilakukan oleh anaknya bahawa beliau wafat pada hari Isnin, jam 5.40, 4 Syaaban 1358 Hijrah/18 September 1939 Masihi, dalam usia 70 tahun.
PENDIDIKAN
Pendidikan asasnya diperoleh dari lingkungan keluarga ulama Banjar yang ada hubungan dengan beliau. Sama ada kedua-dua orang tuanya, mahu pun Abdur Rahman Shiddiq sendiri berhasrat untuk memperoleh ilmu yang banyak di Tanah Suci Mekah, namun beliau menempuh jalan yang berliku-liku. Abdur Rahman Shiddiq banyak memperoleh ilmu di alam terbuka, bumi dipijak, langit dijunjung di beberapa tempat yang dirantaunya. Mulai Banjar berlayar ke Jawa, ke Sumatera, sambil berlayar, di rantau orang mengajar dan berusaha untuk memperoleh wang untuk sampai ke Tanah Suci Mekah. Perjuangannya adalah suci untuk memperoleh ilmu memartabatkan Islam, semangatnya adalah teguh kukuh tidak akan terabai dan tergugahkan. Sempat belajar dengan beberapa orang ulama di Padang, sambil berdagang emas dan perak di Padang. Beliau juga merantau ke daerah Tapanuli. Pernah mengajar kitab Sabilul Muhtadin, karangan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, datuk neneknya di Barus dan Natal di daerah Tapanuli. Berdasarkan catatan Abdur Rahman Shiddiq bahawa dalam musim haji tahun 1306 Hijrah yang bererti bersamaan dengan Julai 1889 Masihi barulah cita-cita Abdur Rahman Shiddiq sampai ke Mekah, dan tinggal di sana hingga tahun 1312 Hijrah/1894 Masihi.Oleh sebab Haji Abdur Rahman Shiddiq sampai di Mekah pada tahun tersebut di atas dinyatakan oleh beliau sendiri, maka penulis tidak sependapat dengan kenyataan Imran Effendy Hs dalam buku Pemikiran Akhlak Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari, halaman 16, 18 dan 63 yang menyebut bahawa Haji Abdur Rahman Shiddiq berangkat ke Mekah pada 1882/3 Masihi. Catatan tulisan tangan Haji Abdur Rahman Shiddiq penulis miliki sejak tahun 1982 di Sapat daripada salah seorang keturunan beliau. Dalam catatan itu jelas bahawa sejak dilahirkan, catatannya berada di Padang pada 10 Zulhijjah 1305 Hijrah/18 Ogos 1888 Masihi, bahawa beliau bernama Abdur Rahman Shiddiq. Oleh sebab catatannya ditulis jauh sebelum beliau berada di Mekah, maka penulis juga tidak sependapat dengan buku di atas (halaman 18) yang menyebut bahawa gelar `Shiddiq’ diberikan oleh gurunya, al-Syata (maksudnya Sayid Abu Bakri asy-Syatha) di Mekah.Sewaktu belajar di Mekah, beliau bersahabat dengan beberapa orang, di antara mereka ialah Tuan Husein Kedah al-Banjari, keturunan Banjar yang dilahirkan di Kedah ini (lahir 1280 Hijrah/1863 Masihi)usianya lebih tua beberapa tahun daripada Haji Abdur Rahman (lahir 1288 Hijrah/1871 Masihi). Sahabatnya yang lain ialah Haji Abdullah Fahim (lahir 1286 Hijrah/1869 Masihi), Tok Kenali (lahir 1287 Hijrah/1871 Masihi) dan ramai lagi. Mengenai guru-guru yang mengajar di Masjid al-Haram pada zaman itu telah banyak disebut pada siri-siri yang lalu, oleh itu tidak perlu dibicarakan lagi.
AKTIVITAS
Sudah cukup jelas dan tidak perlu diragukan bahawa Haji Abdur Rahman Shiddiq pulang dari Mekah ialah tahun 1312 Hijrah/1894 Masihi. Oleh itu pendapat Imran Effendy Hs dalam bukunya (halaman 20) yang menyebut Haji Abdur Rahman Shiddiq pulang dari Mekah pada tahun 1890/1 dan pendapat Syafei Abdullah dalam bukunya Riwayat Hidup dan Perjuangan Ulama Syeikh H.A. Rahman Shiddiq, Mufti Inderagiri, menyebut tahun 1897 Masihi penulis tidak sependapat dan perlu penelitian yang lebih kemas lagi.Pulang dari Mekah terus ke Martapura, kemudian pindah ke Bangka dilanjutkan pengembaraan di seluruh Semenanjung menziarahi teman-temannya, di antaranya Tok Kenali. Beberapa sultan, di antaranya sultan Johor meminta beliau menjadi mufti , semuanya beliau tolak. Akhirnya Syeikh Haji Abdur Rahman Shiddiq membuka perkampungan sendiri yang kemudian diberi nama Parit Hidayat di Inderagiri Hilir. Di sanalah beliau membina umat membuka pengajian sistem pondok. Dalam masa kejayaannya membuka perkampungan untuk perkebunan kelapa dan pengajian itulah Syeikh Haji Abdur Rahman Shiddiq dilantik sebagai Mufti Kerajaan Inderagiri.
PENULISAN
Karya-karya Mufti Haji Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari yang telah ditemui penulis senaraikan sebagai berikut:1. Asrarus Shalah, diselesaikan pada bulan Rejab 1320 Hijrah. Kandungannya membicarakan mengenai sembahyang. Cetakan yang pertama Mathba’ Haji Muhammad Sa’id bin Haji Arsyad, Kampung Silong, Jalan Arab Street, Kedai Surat No, 82 Singapura, akhir Zulhijjah 1327 Hijrah. Cetakan selanjutnya oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 1348 Hijrah/1929 Masihi (cetakan ketiga).2. Fat-hul `Alim, diselesaikan pada 10 Syaaban 1324 Hijrah. Kandungannya membicarakan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah secara lengkap. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 28 Syaaban 1347 Hijrah/8 Januari 1929 Masihi.3. Risalatut Tazkirah li Nafsi wa lil Qashirin Mitsli, diselesaikan pada 20 Syaaban 1324 Hijrah. Kandungannya merupakan tazkirah dan nasihat yang dipetik daripada Majmu’ karangan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Cetakan pertama, Tempat Cap Haji Muhammad Amin, Singapura, 1324 H.4. Risalah Amal Ma’rifat, diselesaikan di Sapat, Inderagiri, 8 Rabiulawal 1332 Hijrah. Kandungannya membicarakan akidah menurut pandangan tasawuf. Cetakan yang kedua, 30 Muharam 1344 Hijrah oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 50 Minto Road, Singapura.5. Syair Ibarat dan Khabar Kiamat, diselesaikan 25 Zulhijjah 1332 Hijrah. Kandungannya menceritakan peristiwa Hari Kiamat ditulis dalam bentuk syair. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 50 Minto Road, Singapura, 9 Syaaban 1344 Hijrah.6. Risalah Kecil Pelajaran Kanak-kanak Pada Agama Islam, diselesaikan 1 Safar 1334 Hijrah. Kandungannya merupakan pelajaran fardu ain untuk kanak-kanak. Cetakan yang ketiga oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 1348 Hijrah/1929 Masihi.7. Aqaidul Iman, diselesaikan di Sapat, Inderagiri, 16 Rabiulawal 1338 Hijrah. Kandungannya membicarakan tentang akidah. Cetakan baru oleh Toko Buku Hasanu, Jalan Hasanuddin Banjarmasin atas izin Mahmud Shiddiq, Pagatan, Kota Baru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan, 1405 Masihi. Diterbitkan daripada salinan tulisan tangan oleh Hasan Bashri Hamdani.8. Syajaratul Arsyadiyah, diselesaikan 12 Syawal 1350 Hijrah. Kandungannya membicarakan asal-usul Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari dan keturunan-keturunannya. Cetakan pertama oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura.9. Risalah Takmilah Qaulil Mukhtashar, diselesaikan 10 Safar 1351 Hijrah. Kandungannya menceritakan tanda-tanda Hari Kiamat dan mengenai kedatangan Imam Mahdi. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, dicetak kombinasi dengan Syajaratul Arsyadiyah (103 halaman) oleh pengarang yang sama, dan Risalah Qaulil Mukhtashar fi `Alamatil Mahdil Muntazhar (55 halaman) karya Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari.10. Mau’izhah li Nafsi wa li Amtsali minal Ikhwan, diselesaikan 5 Rejab 1355 Hijrah. Kandungannya merupakan kumpulan pengajaran akhlak. Cetakan yang pertama oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 1355 Hijrah.11. Beberapa Khuthbah Pakai Makna Karangan Jaddi as-Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari, tanpa dinyatakan tarikh selesai penulisan. Kandungannya merupakan kumpulan khutbah yang pernah diucapkan oleh Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 101 Jalan Sultan, Singapura, tanpa dinyatakan tahun cetakan.12. Majmu’ul Ayat wal Ahadits fi Fadhailil `Ilmi wal `Ulama’ wal Muta’allimin wal Mustami’in, tanpa dinyatakan tarikh selesai penulisan. Kandungannya merupakan kumpulan hadis serta terjemahannya dalam bahasa Melayu. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 1346 Hijrah/1927 Masihi.13. Catatan, tanpa tarikh, ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu. Kandungannya merupakan beberapa catatan Syeikh Abdur Rahman Shiddiq mulai lahir malam Khamis, sebelum Subuh 1288 Hijrah/ Jun/Julai 1871 Masihi. Wafat hari Isnin, jam 5.40, pada 4 Syaaban 1358 Hijrah/18 September 1939 Masihi, dalam usia 70 tahun. Tahun 1306 Hijrah beliau ke Mekah. Tinggal di sana hingga tahun 1312 Hijrah. Selain itu terdapat catatan kelahiran dan wafat anak-anaknya dan lain-lain.......

KISAH SYEIKH SYIHABUDDIN

Syeikh Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari mempunyai 30 adik-beradik yang satu ayah saja, kerana Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari berkahwin sebanyak 11 kali.
Di antara adik-beradik Syeikh Syihabuddin al-Banjari, yang satu ayah termasuklah Mufti Jamaluddin al-Banjari. Pendidikan Syeikh Syihabuddin mendapat pendidikan dari ayahnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan melanjutkan pendidikan di Mekah. Di antara gurunya di Mekah ialah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, Saiyid Ahmad al-Marzuqi dan lain-lain.
Untuk menghadapi pelbagai cabaran dunia, Syeikh Syihabuddin menerima beberapa amalan dari ayahnya, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Saya sendiri ada sanad mengenai yang tersebut yang saya terima di Sapat, Inderagiri pada Isnin, 10 Rabiulakhir 1406 H/22 Disember 1985 dari Tuan Guru Haji Muhammad As’ad.
Beliau menerima dari ayahnya Syeikh Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari. Syeikh Abdur Rahman Shiddiq menerima dari ayahnya Syeikh Muhammad Afif al-Banjari. Syeikh Muhammad Afif menerima dari Syeikh Syihabuddin al-Banjari. Syeikh Syihabuddin menerima dari ayahnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Amalan yang tersebut ada persamaan dengan salah satu amalan yang termaktub dalam naskhah peninggalan pahlawan Mat Kilau. Ada kemungkinan Mat Kilau turut menerimanya dari Syeikh Syihabuddin al-Banjari. Syeikh Syihabuddin adalah putera Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dari isterinya bernama Baiduri (Bidur). Adik beradik satu ayah dan satu ibu (saudara kandung) dengan Syeikh Syihabuddin ada tiga orang dengan urutan:
1. Al-Alim al-Allamah Kadi Haji Abu Su’ud.
2. Al-‘Alim al-Allamah Kadi Haji Abu Na’im.
3. Sa’idah.
4. Al-Alim al-Allamah Khalifah Haji Syihabuddin (yang sedang dibicarakan).
           Kadi Haji Abu Su’ud bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari (nombor 1) mewarisi ilmu secara langsung dari ayahnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, selanjutnya menjadi Kadi yang pertama di Banjar dan beliau juga seorang pahlawan.
           Perkahwinan yang pertama dengan Aminah memperoleh anak seorang ulama, Alimul Allamah Haji Muhammad Sa’id Jazuli. Sewaktu kembali menunaikan haji kahwin lagi di Kedah memperoleh seorang putera, bernama Syeikh Muhammad Mas’ud (dapat dirujuk dalam riwayat Syeikh Muhammad Thaiyib al-Banjari dan Tuan Husein Kedah Al-Banjari, Generasi Penerus Ulama Banjar, 16 Ogos 2004. Ilmu Alimul Allamah Kadi Haji Abu Na’im (no. 2), beliau juga memperoleh ilmu langsung dari ayahnya, beliau menjadi Kadi yang kedua di Banjar. Anak Kadi Haji Abu Na’im ialah Haji Muhammad Afif. Anak Haji Muhammad Afif ialah Syeikh Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari, Mufti Kerajaan Inderagiri. Beliau inilah ulama yang pertama menyusun sejarah mereka yang diberi judul Syajarah al-Arsyadiyah. Alimul Allamah Haji Syihabuddin (no. 4) juga mewarisi ilmu dari ayahnya. Syeikh Syihabuddin adalah seorang Khalifah Mufti dan Kadi. Beliau menurunkan beberapa orang ulama di antaranya Alimul Allamah Mufti Haji Abdul Jalil dan Alimul Allamah Haji As’ad Fakhruddin.
Tahun 1258 H/1842, Raja-raja Riau di Pulau Penyengat Indera Sakti minta kesediaannya menjadi guru di Kerajaan Riau-Lingga. Raja Ali Haji dalam karangannya yang terkenal berjudul Tuhfatun Nafis telah menyebut peranan ulama Banjar di kerajaan Riau. Di antaranya Haji Hamim yang diangkat Engku Haji Abdullah sebagai wakilnya di negeri Lingga. Raja Ali Haji menulis: “Al-Kisah maka tersebutlah perkataan saudara Yang Di Pertuan Muda Raja Abdur Rahman itu, iaitu Raja Haji Abdullah yang dalam negeri Makkatul Musyarrafah itu. Maka apabila sampai ia setahun di dalam negeri Makkatul Musyarrafah itu, maka ia pun turunlah dari Mekah itu ke Jeddah. “Dan dari Jeddah selalu balik ke bawah angin serta ada ia membawa satu orang alim namanya Syeikh Ahmad Jabarti dan seorang lagi orang Banjar anak Syeikh Muhammad Arsyad Banjar yang masyhur dengan alim besar di bawah angin yang mengarang beberapa kitab fikah dan lainnya. Maka adalah nama anaknya Tuan Syihabuddin.” Petikan kalimat yang tersebut sangat banyak yang perlu dibahas, tetapi yang saya bahas sekarang hanyalah satu istilah ‘alim besar’, yang bererti seseorang itu alim mempunyai banyak bidang ilmu.
Karya Tuhfah an-Nafis karya Raja Ali Haji yang asli dalam bentuk manuskrip dan cetakan adalah tulisan Melayu/Jawi, maka transliterasi saya kepada Rumi ialah ‘alim besar’. Ini adalah bertentangan dengan transliterasi Viginia Matheson Hooker, ditulisnya ‘ilmu besar’ pada tempat ‘alim besar’ (Lihat Tuhfat Al-Nafis, terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, 1991, hlm. 600). Ahmad Basuni menulis dalam bukunya Djiwa Yang Besar, “H. Abul Muhd. Arsyad (bin Abdullah al-Banjari), seorang yang dalam ilmunya pernah menjadi Mufti, terkenal pula sebagai seorang pahlawan yang sukar dicari tandingannya.” (Djiwa Yang Besar, hlm. 59).
Yusuf Khalidi dalam bukunya Ulama Besar Kalimantan, menyebut bahawa Syeikh Syihabuddin diangkat sebagai Khalifah, iaitu menjawat jawatan Mufti dan Kadi. Bahawa beliau memperoleh 11 anak, namun yang dicantumkan Yusuf Khalidi dalam bukunya yang tersebut hanya tiga orang saja iaitu Al-Alim al-Allamah Mufti Abdul Jalil, Al-Alim al-Allamah Haji As’ad Fakhruddin dan Aminah. Anak beliau yang pertama Al-Alim al-Allamah Mufti Abdul Jalil (No. 1) memperoleh anak bernama Zakaria pernah tinggal di Johor kerana menyebarkan agama Islam.
Zakaria bin Mufti Abdul Jalil bin Syeikh Syihabuddin al-Banjari kahwin di Mersing, memperoleh 13 anak. Syeikh Utsman bin Syihabuddin al-Funtiani/al-Banjari yang menulis beberapa kitab mungkin adalah putera Syeikh Syihabuddin yang diriwayatkan ini.
Tiada data jelas mengenai perkara tersebut, tetapi beberapa orang tua-tua di Pontianak, Kalimantan Barat menceritakan bahawa Syeikh Utsman adalah anak Syeikh Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dengan isterinya yang berasal dari Karangan, Mempawah Hulu, Kalimantan Barat.
Hanya sebuah karya Syeikh Syihabuddin yang diketahui, itu pun adalah merupakan imlak gurunya bernama Allamah as-Saiyid asy-Syarif Ahmad al-Marzuqi (1205 H/1790 M-1262 H/1845). Mengenai ini dapat diketahui kenyataan dari gurunya Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, katanya, “Dan (bahawasa)nya telah selesailah daripada menjamakkan (mengumpulkan) dia dan kitabahnya (menulisnya) dengan imlak muallifnya di Mekah atas tangan yang menyurat imlaknya itu, (iaitu) Syeikh Muhammad Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad pada waktu zuhur, Selasa bulan Zulhijjah, tahun 1158 (hijrah).”
Setelah Syeikh Syihabuddin menulis imlak dari Saiyid Ahmad al-Marzuqi itu, lalu diserahkannya kepada Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani untuk penelitian dan diperbaiki jika terdapat kesilapan. Setelah diperiksa Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani lalu diserahkan kembali kepada Saiyid Ahmad al-Marzuqi.
Saiyid Ahmad al-Marzuqi memerintahkan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, supaya memberi judul kitab itu sekali gus supaya diterjemahkannya ke bahasa Melayu. Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani menamakan kitab itu Tahshilu Nailil Maram Syarhu ‘Aqidatil Awam dan judul yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu ialah Bahjatus Saniyah fi ‘Aqaidis Saniyah.
Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani mengakhiri terjemahannya, katanya, “Dan telah selesai fakir mentaswid (menulis) akan manzhum (yang dinazamkan) matannya dan syarahnya dengan bahasa Jawi, (oleh) Daud bin Abdullah Fathani, pada hari …nama hari tidak tertulis dalam semua cetakan), bulan Safar, waktu asar di Mekah al-Mukarramah.” Syeikh Abdur Rahman Shiddiq menyebut bahawa zuriat Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari yang berpangkat Mufti ada 10 orang dan yang berpangkat Kadi juga 10 orang. Antara yang menjadi Mufti termasuk Syeikh Syihabuddin al-Banjari. Senarai lengkap Senarai lengkap adalah seperti berikut,
1. Haji Jamaluddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
2. Haji Ahmad bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
3. Haji Muhammad As’ad bin Utsman. Beliau adalah Mufti yang mula-mula di Kerajaan Banjar.
4. Haji Muhammad Arsyad bin Mufti Haji Muhammad As’ad.
5. Haji Syihabuddin.
6. Haji Muhammad Khalid bin Hasanuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
7. Haji Muhammad Nur bin Kadi Haji Mahmud.
8. Haji Muhammad Husein bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
9. Haji Jamaluddin bin Haji Abdul Hamid.
10. Syeikh Abdur Rahman Shiddiq bin Haji Muhammad Afif bin Kadi Abu Naim bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Dari no. 1 sampai no. 5 pada zaman pemerintahan Sultan Banjar. Sedang yang no. 6 sampai no. 10 pada zaman penjajah Belanda. Dari maklumat yang lain ulama-ulama keluarga tersebut yang menjadi Mufti ialah:
1. Haji Muhammad Husein bin Mufti Haji Jamaluddin.
2. Haji Abdul Jalil bin Mufti Haji Syihabuddin.
3. Haji Muhammad Yunan bin Mufti Haji Muhammad Amin.
4. Haji Sa’id bin Haji Abdur Rahman.
5. Haji Mukhtar bin Kadi Haji Hasan.
Keluarga yang tersebut yang pernah menyandang pangkat Kadi pula ialah:
1. Kadi Abu Su’ud bin Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari.
2. Kadi Abu Naim bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
3. Haji Mahmud bin Haji Muhammad Yasin.
4. Haji Muhammad Amin bin Mufti Haji Jamaluddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
5. Haji Muhammad Ali al-Junaidi bin Kadi Haji Muhd. Amin.
6. Haji Muhammad Sa’id al-Jazuli bin Kadi Haji Su’ud.
7. Haji Muhammad Amin bin Kadhi Haji Mahmud.
8. Haji Abdus Shamad bin Mufti Haji Jamaluddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
9. Haji Muhammad Jafri bin Kadi Haji Abdus Shamad.
10. Kadi Haji Bajuri.
11. Haji Muhammad As’ad bin Mufti Haji Muhammad Nur bin Kadi Haji Mahmud.
12. Haji Ibrahim bin Mufti Haji Jamaluddin.
13. Haji Abu Talhah bin Kadi Abdus Shamad.
14. Haji Muhammad Thaiyib bin Haji Muhammad Qasim.
15. Haji Muhammad bin Haji Muhammad Qasim.
16. Haji Zainal bin Lebai Darun.
17. Haji Abdur Rahman bin Kadi Haji Muhammad Sa’id.
18. Haji Qasim bin Mu’min.
19. Haji Muhammad Sa’id bin Mu’min.
20. Haji Muhammad Arsyad bin Kadi Haji Abdur Rahman.
21. Haji Hasan bin Mufti Haji Muhammad Sa’id.
22. Haji Abdur Rauf.
23. Haji Abdul Jalil bin Kadi Haji Muhammad Arsyad.
24. Haji Ahmad bin Abu Naim.
25. Haji Muhammad Arsyad bin Kadi Haji Abdur Rauf.
Dari no. 1 sampai no. 3 menjadi Kadi pada zaman pemerintahan Sultan Banjar