DATU DAN WALI

=============================================================================================

Mari kita dukung pelestarian khazanah cerita rakyat Daerah Kalimantan Selatan seperti Maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu kurungan serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin dan tumenggung mat lima mempertahankan benteng gunung madang, panglima bukhari dan perang hamuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais di bamban, datu janggar di malutu, datu bagut di hariang, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di taal, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Baseri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan. Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

Minggu, 19 Mei 2013

LEGENDA SUMBER GARAM SEPANG

Legenda Asal Mula Rumah Panjang (Luu) oleh masyarakat Dayak di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur,dianggap benar-benar pernah terjadi. Legenda ini sangat menarik karena mengajarkan agar manusia tidak cepat puas dengan keadaan hidup yang sudah ada, namun harus selalu berusaha untuk merncapai kehidupan yang lebih baik. 
Konon dikisahkan ketika dunia masih sedikit penduduknya, di desa Tenukung Renayas hidup dua orang laki-laki bernama Aji dan Kilip.Di daerah Tenukung Renayas yang berarti ‘keadaan yang serba kosong dan sepi’, hidup mereka serba susah dan tidak ada kemajuan apa-apa. Oleh karena merasa tidak puas terhadap keadaan hidupnya, mereka bermufakat untuk pergi mencari pengetahuan ke daerah lain sehingga kelak dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Keduanya sepakat untuk pergi ke daerah yang mereka anggap lebih maju dan makmur, yaitu daerah yang disebut Telengka’ Bawotn Tatau.
Keduanya terus berjalan bersama-sama menuju ke tempat tujuan, segala susah senang di jalan mereka atasi bersama-sama. Namun ketika tiba di persimpangan jalan, keduanya menjadi berselisih pendapat. Masing-masing berpendapat bahwa jalan yang dipilihnyalah yang menuju ke Telengka’ Bawotn Tatau. 
Keduanya ternyata sama-sama ngotot bahwa jalan yang dipilihnya yang benar. Oleh karena tetap tidak terdapat persusaian pendapat, akhirnya, Aji mengambil jalan ke arah kiri, sedangkan Kilip mengambil jalan ke arah kanan. Ternyatam jalan yang dipilih Kiliplah yang benar. Di ujung jalan itulah terletak Talengka’ Bawotn Tatau.
Di jalan yang benar inilah Kilip akhirnya menemukan hal-hal yang baik, menyenangkan, serta membawa kebahagiaan. Sebaliknya, jalan ke kiri yang dipilih Aji adalah jalan yang salah. Jalan yang dipilihnya menuju ke daerah/tempat dimana ia akan menemukan hal-hal yang buruk, membawa kemalangan, serta kematian bagi manusia.
Di tempat yang baru itu, baik Aji maupun Kilip disambut dengan pesta-pesta besar dan masing-masing di jamu oleh tuan rumah. Aji dan Kilip di tempat yang terpisah juga diberi petunjuk membuat rumah serta mempelajari berbagai macam adat-istiadat, upacara dan kesenian, dengan maksud agar pengetahuan yang mereka perolah itu kelak dapat diterapkan di tempat asalnya setelah pulang nanti.
Akhirnya setelah merasa cukup dalam mempelajari segala sesuatu di tempat yang baru, kedua orang itu pun memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Dalam perjalanan pulang ternyata Aji dan Kilip bertemu lagi di persimpangan jalan, tempat mereka dulu berselisih mengenai arah. Aji dan Kilip kemudian saling bercerita mengenai pengalaman masing-masing, yang ternyata sangat berbeda.
Begitu sampai di kampong halamannya, Tenukung Renayas, Aji dan Kilip masing-masing mendirikan sebuah rumah panjang (luu) sesuai dengan bentuk yang pernah mereka lihat di tempat perantauan. Selanjutnya, dalam kehidupan sehari-hari mereka juga menirukan semua adat-istiadat dan tingkah laku yang mereka ketahui dari hasil peninjauannya  ke daerah lain dahulu.
Namun hasilnya, kebiasaan yang diperlihatkan kedua rumah panjang (luu) itu ternyata saling bertolak belakang. Jika pada rumah panjang Kilip selalu dimeriahkan dengan pesta yang penuh kegembiraan seperti yang dipelajarinya dahulu di perantauan, sementara di rumah panjang Aji yang dipertunjukkan adalah upacara-upacara sedih dan kematian seperti yang dipelajarinya dahulu pula. 
Pada akhirnya nasib kedua rumah panjang (luu) itu juga bertolak belakang. Jika rumah panjang Kilip selalu diliputi kegembiraan, sebaliknya rumah panjang Aji selalu dirundung kesedihan.

LEGENDA BATU SULI

Legenda Batu Suli  dipercayai oleh masyarakat Dayak Ngaju dan Ot Danum benar-benar pernah terjadi. Menurut cerita orang-orang tua, dahulu kala sebuah tebing batu yang disebut batu Suli pernah roboh sehingga menutup hubungan lalu-lintas ikan dari Kahayan Hulu ke Kahayan Hilir.
Kejadian ini sungguh tidak mengenakan bagi bangsa Ikan, dahulu mereka mempunyai kekerabatan dan sanak saudara di Kahayan Hulu atau sebaliknya di Kahayan Hilir. Lama kelamaan keadaan itu tidak tertahankan lagi bagi bangsa Ikan, meraka merasa seperti terpenjara akibat putusnya aliran sungai Kahayan itu. Mereka benar-benar tersiksa aikbat peristiwa tebing longsor itu. 
Masalah besar bangsa ikan itu harus dicarikan pemecahannya. Untuk menanggulanginya, kemudian para ikan berkumpul dan mengadakan musyawarah besar di Sungai Kahayan. Musyawarah besar bangsa ikan itu akhirnya menghasilkan keputusan yaitu untuk menegakkan kembali tebing yang telah roboh itu.
Akhirnya pada hari yang telah disepakati ribuan bangsa ikan berkumpul untuk bersama-sama menegakkan tebing yang menghambat sungai Kahayan itu. Ikan tapa sesuai dengan hasi musyawarah ditunjuk sebagai mandor. Pekerjaannya mengharuskan ia terus-menerus berteriak-teriak secara lantang agar semangat para pekerja bangsa ikan itu selalu tinggi. Sementra ikan pipih sesuai hasil musyawarah juga diberi tugas untuk memanggul tebing yang roboh itu di atas punggungnya yang pipih.
Begitulah kerja keras bangsa ikan itu pun berlangsung sampai berhari-hari lamanya. Ahirnya berkat usaha keras segenap bangsa ikan itu, tebing Batu Suli dapat ditegakkan kembali seperti sedia kala. Tentu saja hasil keras itu disambut dengan rasa bahagian oleh segenap bangsa ikan. Perasaan terpenjara sekian lama akhirnya bisa bebas lagi, dan bangsa ikan pun dapat kembali saling berhubungan antara di Kahayan hilir dan Kahayan hulu.
Namun, rupanya hasil keras itu harus ditebus mahal oleh bangsa ikan yang terlibat dalam pekerjaan besar itu. Setiap ikan yang turut mengambil bagian dalam pekerjaan itu, harus menanggung akibat pekerjaan besar itu. Sebagai contohnya, keturunan ikan tapa, misalnya, karena kakeknya dahulu terlalu banyak membuka mulut untuk berteriak-teriak dalam tugasnya sebagai mandor, maka kini semua anak keturunannya memiliki mulut yang berukuran besar.
Sementara keturunan ikan pipih, karena kakeknya harus memanggul tebing yang sangat berat itu, punggungnya bungkuk dan tulangnya hancur. Maka kini semua keturunan ikan pipih mempunyai punggung yang bungkuk dan tulangnya yang halus-halus,,,,

Senin, 06 Mei 2013

Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia disebut juga Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo . Nasab As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim Nasab Maulana Malik Ibrahim menurut catatan Dari As-Sayyid Bahruddin Ba'alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa volume (jilid). Dalam Catatan itu tertulis: As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin As-Sayyid Barakat Zainal Alam bin As-Sayyid Husain Jamaluddin bin As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Al-Imam Isa bin Al-Imam Muhammad bin Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Ja’far Shadiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti Nabi Muhammad Rasulullah
Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap As-Samarqandy.[2] Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya Kakek Bantal.
Isteri Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim memiliki, 3 isteri bernama: 1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak, bernama: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah 2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu: Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad 3. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu: Abbas dan Yusuf. Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu Haji Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji (Sunan Ngudung). Selanjutnya Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq [Sunan Kudus].
Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.

Kisah Sunan Ampel

Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad, menurut riwayat ia adalah putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seorang putri Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Champa Terakhir Dari Dinasti Ming. Nasab lengkapnya sebagai berikut: Sunan Ampel bin Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Sayyid Jamaluddin Al-Husain bin Sayyid Ahmad Jalaluddin bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Sayyid Alwi Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin Sayyid Ali Khali’ Qasam bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwi bin Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid Isa bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah. Sunan Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo, berputera: Sunan Bonang,Siti Syari’ah,Sunan Derajat,Sunan Sedayu,Siti Muthmainnah dan Siti Hafsah. Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera: Dewi Murtasiyah,Asyiqah,Raden Husamuddin (Sunan Lamongan,Raden Zainal Abidin (Sunan Demak),Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2. Makam Sunan Ampel teletak di dekat Masjid Ampel, Surabaya

Senin, 01 April 2013

KISAH SA IJAAN & IKAN TODAK

Pada zaman dahulu kala ada seorang Datu sakti mandraguna yang karena kesaktiannya kala itu beliau dapat bertapa di tengah laut. Wow kebayang tidak ada orang duduk sambil bersila di tengah lau. Hehehehe jangan dicoba ya, diatas baskom aja adik-adik! Kakak Gori jamin pasti basah kuyup deh…. Hehehehe.

Nama beliau adalah Datu Mabrur. Benar lho, beliau kala itu sedang bertapa diantara Pulau Kalimantan dan Selat Makassar. Menurut legenda Datu Mabrur bertapa disana adalah untuk memohon kepada Tuhan Sang Pencipta agar diberikan sebuah pulau oleh-Nya, yang nantinya akan dijadikan tempat bermukim bagi anak cucu dan keturunannya kelak.

Dengan kebulatan tekadnya, Datu Mabrur tidak mundur dalam tapanya. Walaupun ketika malam hari cuaca sangat dingin, angin, hujan, embun, dan kabut seakan membekukan tubuhnya. Dan dikala siang terik matahari membakar seluruh tubuhnya yang hanya dibungkus sehelai kain. Tubuh Datu Mabrur kala itu menjadi sangat kurus karena dia tidak pernah makan, kecuali meminum air hujan dan embun yang membasahi bibirnya. Walau demikian tidaklah mundur tekadnya. Seluruh penderitaan itu sirna tatkala membayangkan mendapatkan sebuah pulau bagi anak cucunya kelak, tidak dibawah kekuasaan Pulau Kalimantan ataupun Pulau Sulawesi.

Pada suatu ketika menjelang hari akhir pertapaannya, saat itu kondisi air laut tenang sekali. Tiba-tiba seekor ikan besar muncul dari permukaan laut seakan terbang mengarah padanya. Rupanya ikan itu sengaja menyerang beliau. Menyaksikan itu Datu Mabrur tidak beringsut dari duduk tapanya, namun beliau hanya menepis serangan mendadak itu dengan tatapan matanya. Sungguh ajaib, hanya dengan tatapan matanya ikan itu terpelanting dan jatuh kembali ke air tanpa mampu menyentuh tubuh Datu Mabrur. Serangan ikan ini terjadi berulang kali. Bahkan tiba-tiba muncul ribuan ikan beraneka macam, berbobot besar mengepung beliau dengan memperlihatkan gigi dan tanduk runcingnya berkumpul mengelilingi beliau bagaikan prajurit perang yang sedang mengepung pertahanan musuhnya.

Para ikan ganas yang mengepung Datu Mabrur pada akhirnya benar-benar melakukan serangan beruntun tanpa henti kearah beliau, namun seluruh ikan yang menyerang tersebut jatuh. “Dar.. der dur.. gubrakk byurrr”, persis ketika Datu Mabrur membuka matanya secara tiba-tiba.

Merasakan gerombolan ikan ini tidak akan berhenti menyerangnya, maka Datu Mabrur langsung berkata :

“Hai.. Ikan! Kenapa kalian mengganggu tapaku, ikan apa kalian ini?”, ujar Datu Mabrur.

“Kami ikan todak, dan aku Raja Ikan Todak yang menguasai perairan ini. Tahukah kau, tapamu membuat lautan kami bergelora? Kami terusik! Dan aku memutuskan untuk menyerangmu, tapi kami akui dirimu memang sakti. Hai Datu Mabrur, aku Raja Ikan Todak mulai hari ini mengakui takluk oleh mu”, ujar Raja Ikan Todak menjawab.

“Ehm…jadi itu rakyatmu?”, tanya Datu Mabrur sambil menunjuk ribuan ikan yang mengepung karang tempatnya bertapa.

“Ya, Datu. Tapi, sebelum menyerangmu tadi, kami telah bersepakat. Kalau aku kalah, kami akan menyerah dan mematuhi apa pun perintahmu Datu”, ujar Raja Ikan Todak menjawab dengan nada penuh kebesaran jiwa.

Walau demikian hingga berakhirnya hari pertapaannya, Datu Mabrur belum juga mendapatkan tanda atau wangsit bahwa permohonannya akan dikabulkan. Karena sejauh mata memandang yang tampak hanya laut luas yang membiru, hembusan angin laut yang menderanya. Tidak ada tanda-tanda pulau yang diharapkannya akan hadir dipelupuk matanya.

Disela-sela harinya, Datu Mabrur membantu mengobati Raja Ikan Todak yang terluka akibat pertempuran dengannya kemarin. Raja Ikan Todak menawarkan Datu Mabrur untuk tinggal di istana bawah lautnya yang terbuat dari emas dan permata, serta dilayani oleh dayang-dayang putri duyung yang rupawan. Akan tetapi tawaran menggiurkan itu ditolak dengan hormat oleh Datu Mabrur, sambil menceritakan niatnya bertapa diperairan itu.

Bak gayung bersambut sayap mengepak, maksud dan impian Datu Mabrur justru ditanggapi dengan seriusoleh Raja Ikan Todak dengan menyanggupi akan mengabulkan keinginan dan niat tapa sang Datu.

“Aku takkan berdusta, ini sumpah seorang Raja!”, ujar Raja Ikan Todak bersemangat.

Mendengar hal ini Datu Mabrur tersenyum lembut dengan penuh kasih sayang mengangkat sang Raja Ikan Todak itu dan mengembalikannya ke laut.

“Sa-Ijaan!”, seru Raja Ikan Todak.

“Sa-Ijaan!”, sahut Datu Mabrur.

Sebelum tengah malam sebelum batas waktu pertapaannya berakhir, Datu Mabrur dikejutkan oleh suara gemuruh yang datang dari dasar laut. Ternyata dilihatnya jutaan ikan dari berbagai jenis muncul sembari mendorong daratan baru dari dasar laut dibawahnya. Sambil mendorong, jutaan ikan tadi serentak berteriak “Sa-Ijaan!”, yang artinya seiya sekata/sepakat/satu suara

Melihat hal ini Datu Mabrur tercengang dikarang pertapaannya memandang Raja Ikan Todak benar-benar memenuhi sumpahnya. Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Sang Pencipta, ia menamakannya Pulau Halimun.

Alkisah, Pulau Halimun kemudian disebut Pulau Laut. Sebab pulau ini timbul dari dasar laut dan dikelilingi laut. Sebagai hikmahnya, kata Sa-Ijaan dan Ikan Todak dijadikan slogan dan lambang Pemerintah Kabupaten Kotabaru, Kalimatan Selatan.

Nah adik-adik yang caem dan manis-manis, ada beberapa hal yang patut kita tiru dari legenda ini. Mau tahukan, ini nih :

Pertama. Jika kalian punya impian, maka bulatkan tekad untuk mencapai impianmu. Walaupun dalam perjalanan mencapai mimpi itu tidaklah mudah karena banyak sekali tantangannya, tetapi kalian harus tetap kokoh menjalaninya agar impian kalian tercapai.

Kedua. Sebagai seorang manusia kalian semua bakalan jadi pemimpin lho adik-adik. Jadi apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin adalah untuk masa depan yang terbaik bagi anak cucunya kelak. Dan seorang pemimpin yang penuh ketulusan, tidak akan tergoyahkan dalam mencapai tujuannya. Walaupun digoda dengan emas, permata, kekuasaan dan wanita yang ditawarkan sebagai pengganti mimpinya.

Ketiga. Jika nanti dalam perjalanan hidupmu menemukan sebuah tantangan antara kalah dan menang, maka bersikaplah gagah dan berjiwa besar. Contohnya ketika Raja Todak kalah dalam pertempuran melawan Datu Mabrur, sang raja tidak malu lho mengakui kalah oleh sang Datu walaupun dihadapan rakyatnya sendiri.

Keempat. Yakinkan dalam hati kalian adik-adik bahwa ketulusan, persahabatan serta kesetiaan dalam menjaga janji dan sumpah sangat besar nilainya. Baik bagi sang Datu yang tulus merawat luka musuhnya maupun kebesaran hari Raja Todak yang membantu sahabatnya mencapai impian, mengikat hubungan mereka menjadi sebuah legenda sepanjang masa yang diingat dan diukir oleh anak cucu Datu Mabrur sebagai penghargaan tinggi bagi Raja Todak dan kerajaannya.

Baiklah adik-adik, Kakak Gori rasa cukup dulu dongeng kali ini (jadi ingat waktu kecil dulu hehehe, jadi ingat kampung) semoga adik-adik terilhami ya! Dan ini merupakan salah satu bentuk kita mencintai ragam budaya serta khasanah cipta karsa nusantara yang wajib sama-sama kita cintai. Ingat lho ini untuk anak dan cucu kalian nanti adik-adik.

LEGENDA LANCANG KUNING

Si Lancang Kuning  :
Alkisah tersebutlah sebuah cerita, di daerah Kampar pada zaman dahulu hiduplah si Lancang dengan ibunya. Mereka hidup dengan sangat miskin. Mereka berdua bekerja sebagai buruh tani.

Untuk memperbaiki hidupnya, maka Si Lancang berniat merantau. Pada suatu hari ia meminta ijin
pada ibu dan guru ngajinya. Ibunya pun berpesan agar di rantau orang kelak Si Lancang selalu ingat pada ibu dan kampung halamannya. Ibunya berpesan agar Si Lancang jangan menjadi anak yang durhaka.

Si Lancang pun berjanji pada ibunya tersebut. Ibunya menjadi terharu saat Si Lancang menyembah lututnya untuk minta berkah. Ibunya membekalinya sebungkus lumping dodak, kue kegemaran Si Lancang.

Setelah bertahun-tahun merantau, ternyata Si Lancang sangat beruntung. Ia menjadi saudagar yang kaya raya. Ia memiliki berpuluh-puluh buah kapal dagang. Dikhabarkan ia pun mempunyai tujuh orang istri. Mereka semua berasal dari keluarga saudagar yang kaya. Sedangkan ibunya, masih tinggal di Kampar dalam keadaan yang sangat miskin.

Pada suatu hari, Si Lancang berlayar ke Andalas. Dalam pelayaran itu ia membawa ke tujuh isterinya. Bersama mereka dibawa pula perbekalan mewah dan alat-alat hiburan berupa musik. Ketika merapat di Kampar, alat-alat musik itu dibunyikan riuh rendah. Sementara itu kain sutra dan aneka hiasan emas dan perak digelar. Semuanya itu disiapkan untuk menambah kesan
kemewahan dan kekayaan Si Lancang.

Berita kedatangan Si Lancang didengar oleh ibunya. Dengan perasaan terharu, ia bergegas untuk menyambut kedatangan anak satu-satunya tersebut. Karena miskinnya, ia hanya mengenakan kain selendang tua, sarung usang dan kebaya penuh tambalan. Dengan memberanikan diri dia naik ke geladak kapal mewahnya Si Lancang. Begitu menyatakan bahwa dirinya adalah ibunya Si Lancang, tidak ada seorang kelasi pun yang mempercayainya. Dengan kasarnya ia mengusir ibu tua tersebut. Tetapi perempuan itu tidak mau beranjak. Ia ngotot mintauntuk dipertemukan dengan anaknya Si Lancang. Situasi itu menimbulkan keributan. Mendengar kegaduhan di atas geladak, Si Lancang dengan diiringi oleh ketujuh istrinya mendatangi tempat itu. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa perempuan compang camping yang diusir itu adalah ibunya. Ibu si Lancang pun berkata, "Engkau Lancang ... anakku! Oh ... betapa rindunya hati emak padamu. Mendengar sapaan itu,. dengan congkaknya Lancang menepis. Anak durhaka inipun berteriak, "mana mungkin aku mempunyai ibu perempuan miskin seperti kamu. Kelasi! usir perempuan gila ini."

Ibu yang malang ini akhirnya pulang dengan perasaan hancur. Sesampainya di rumah, lalu ia mengambil pusaka miliknya. Pusaka itu berupa lesung penumbuk padi dan sebuah nyiru. Sambil berdoa, lesung itu diputar-putarnya dan dikibas-kibaskannya nyiru pusakanya. Ia pun berkata, "ya Tuhanku ... hukumlah si Anak durhaka itu." Dalam sekejap, turunlah badai topan. Badai tersebut berhembus sangat dahsyatnya sehingga dalam sekejap menghancurkan kapal-kapal dagang milik Si Lancang. Bukan hanya kapal itu hancur berkeping-keping, harta benda miliknya juga terbang ke mana-mana.

Kain sutranya melayang-layang dan jatuh menjadi negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Gongnya terlempar ke Kampar Kanan dan menjadi Sungai Oguong. Tembikarnya melayang menjadi Pasubilah. Sedangkan tiang bendera kapal Si Lancang terlempar hingga sampai di sebuah danau yang diberi nama Danau Si Lancang.
...

LEGENDA MALIN KUNDANG

Legenda Malin Kundang : Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.
Legenda dari Sumatera Barat
Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. "Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak", ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.
Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang