DATU DAN WALI

=============================================================================================

Mari kita dukung pelestarian khazanah cerita rakyat Daerah Kalimantan Selatan seperti Maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu kurungan serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin dan tumenggung mat lima mempertahankan benteng gunung madang, panglima bukhari dan perang hamuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais di bamban, datu janggar di malutu, datu bagut di hariang, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di taal, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Baseri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan. Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

Senin, 01 April 2013

LEGENDA SANGKURIANG

Sangkuriang adalah legenda yang berasal dari Tanah Sunda. Legenda tersebut berkisah tentang terciptanya danau Bandung, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang, dan Gunung Bukit Tunggul. Dan berbagai cerita menarik yang patut disimak dari legenda tersebut adalah kisah cerita cinta antara anak dan ibunya.

Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.

Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan. Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembara.

Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.

Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan. Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembara.

Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan memiliki kecantikan abadi. Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya. Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya.

Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi ketika melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan. Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.

Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota. Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.

Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama “Tangkuban Perahu.” mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.

Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota. Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.

Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama “Tangkuban Perahu.”

Selasa, 19 Maret 2013

Cerita K.H. HADERANI

Jika berbicara sosok beliau maka tidak bisa lepas dari kataTassawuf, dan siapa yang tidak kenal beliau setiap orang membahas Tassawuf di daerah Puruk Cahu tidak terlepasmenyebut nama beliau, waktu ane masih kecil setiap bulan Ramadhan beliau sering datang dan ceramah di Masjid At-Taqwa Puruk Cahu setelah sholat Subuh, masih terbersit di ingatanku tentang ceramah beliau tentang akal dan Nafsu, setelah ane beranjak SMA ane baca2 buku copyan beliau karena bapak ane termasuk murid beliau.... Lahir Di Puruk Cahu, 16 Agustus 1933. Putera ke 10 dari H. Nawawi bin H. Abdul Hamid Negara. Sejak di bangku Madrasah Ibtida'iyah bercita- cita ingin menjadi muballigh, Haderanie kecil telaten mempelajari ilmu agama dari ibunya, lalu julak galuh (saudara ibu) yang diperistri keturunan kelima Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. sewaktu duduk di Sek. Men. Islam Pertama, beliau mengikuti juga Pendidikan Kilat Muballigh yang dipimpin KH Asnawi Hadisiswoyo ( yang saat itu menjabat sebagai Kepala KUA Kalimantan 1950), Beliau direkomendasikan Tuan Guru Haji Suriansyah untuk mengikuti pendidikan diKulliyah Muballighin diSemarang, Jawa Tengah. Selanjutnya, beliau berguru antara lain kepada KH Zainal Ilmi (Martapura), KH Hanafi Gobet (Banjarmasin), dan KH Abdussamad (Alabio). selanjutnya meneruskan pendidikan pada Madrasah Muballighin dan Kulliyah Muballighin di Semarang, dengan Prof. KH Saifudin Zuchri. Beliau seangkatan dengan KH Musta'in Ramli dan KH Najib Wahab Hasbullah (Rois Awwal Syuriyah NU pusat) Beliau Penganut Tarekat Syazaliyah (Syekh Abu Hasan Al-Syazily) ini mengikuti talkin dzikir Syekh Abu Alawi Abdul Hamid Alawi Al-Kaff (Mekah) yang kemudian diturunkan kepada sembilan muridnya di Palangkaraya. Tahun 1955, Haderanie bersama Usman Rafiq, Mawardi Yasin, Tarmizi, dan Gusti Muhammad Yusuf membangun organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Muara Teweh, Barito. Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) NU Kalimantan Tengah sejak berdiri hingga tahun 2005 ini juga anggota Mustasyar Pengurus Besar (PB) NU periode 1999-2004. Ketika berusia 23 tahun, Dalam pemerintahan menjabat ketua DPRD tk. II Barito, Wk. Ketua Dewan Pemerintahan Kab. Barito, sebelum terbaginya Kalimantan menjadi 4 Propinsi-(U.U 27/59). Tahun 1967 di angkat sebagai anggota Badan Pemerintahan harian tk. I Kalimantan Tengah, dengan tugas membantu Gubernur, sampai akhir masa jabatan tahun 1972 Beliau Menikahi Mastian Ruslin binti Asran bin Ahmad, suami istri ini dikarunia sembilan anak, yaitu Ashary, Astuti Rahmi, Madurasmi, Murniwati, Asrarul Haq, Asmarani, Asyraful Auliya, Asyiah Arrani (meninggal dunia), dan Kumala Sari. Sep 18, 2012.
Sebagai Guru, beliau pernah sebagai tenaga pengajar pada SMEP Neg dan SMA negeri di Muara Teweh, beliau mengajar Bhs Inggris dan Tata Buku, juga pernah menjadi dosen agama Islam di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Cabang Palangkaraya ini mengajar tauhid dan tasawuf Sebagai Pendakwah beliau memimpin pengajian khusus tauhid dan Tassawuf di Banjarmasin (1966 - 1967), di Palangka raya, Muara Teweh sampai pelosok2 pedalaman Barito Utara, terutama di daerah Puruk Cahu (sekarang menjadi Kabupaten Murung Raya) dan juga Surabaya. Tercatat ribuan jumlah pengikut Pengajian khusus Beliau, tahun 1955 aktif dalam Partai Politik NU, Tahun 1972 pindah dan bermukim di Surabaya dan selama bermukin di sana Beliau tetap mengajar tauhid dan tasawuf dan menulis dan menerbitkan beberapa buku antara lain :
-   Ma’rifat, Musyahadah,
Mukasyafah, dan Mahabbah ( 4M )
-    Asmaul Husna
-    Permata Yang Indah (terjemahan Ad-Durr An-Nafis :  karya Syeikh Muhammad
Nafis Al-Banjari)
-   Maut & Dialog Suci
     (terjemahan Mukhtashar At- Tadzkira karya Imam Qurthubi)

Beliau meninggal dunia hari Ahad, 28-12-2008 pukul 18.35 WITA atau 17.35 WIB di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin, Beliau dikebumikan di Kompleks Makam Muslimin Jl Tjilik Riwut Km 2,5, Palangkaraya.

SYEKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ

Syekh Abdurrahman Shiddq Al-Banjari Sapat Indra Giri dilahirkan ditahun 1857 M, di desa Dalam Pagar martapura kalimantan Selatan, beliau lahir di akhir masa pemerintahan Sultan Adam Al-Watsiq billah bin sultan Sulaiman Al-Mu'tamidillah, ayah beliau adalah Syekh Muhammad Afif (Datu Landak) bin Anang Mahmud bin H.Jamaluddin bin Kyai Dipasunda bin Pardi (Pangeran Diponogoro), sedang ibunya adalah Syafura binti Mufti H.Muhammad Arsyad Lamak Pagatan bin Mufti H.Muhammad As'ad putra Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, ketika beliau berusia 3 bulan ibunya meninggal dunia dan kemudian diasuh oleh saudari ibunya yang bernama Sa'idah, didalam asuhan bibinya dan juga nenek kakeknya (Syekh Muhammad Arsyad Lamak), kakeknya ini meinggal ketika usianya baru sekitar satu tahun dan mulai saat itu hingga dewasa beliau diasuh oleh neneknya yang bernama Ummu Salamah, neneknya ini adalah seorang perempuan sholeh yang berilmu pengetahuan dan suka beribadah, maka dalam pemeliharaannya itu Abdurrahman kecil di didik serta diajari membaca Al-Qur'an, kemudian setelah dewasa barulah beliau disuruh belajar ilmu agama ke Dalam Pagar Martapura,guru guru beliau di Dalam Pagar antara lain :
- KH. Muhammad Said Wali
- KH. Muhammad Khatib
- KH. Abdurrahman Muda
setelah sekian lama belajar dikampung halaman maka beliau berkeinginan menuntut ilmu ketanah suci,menurut riwayat sebelum beliau pergi ke Tanah Suci Mekkah beliau berdagang emas perak dan permata hingga keluar daerah hingga ke Pulau Bangka,Sumatera Selatan,padang Sumatera Barat,setelah dirasa cukup oleh beliau untuk melaksanakan cita cita beliau menuntut ilmu ke Tanah Suci dengan ijin dari orang tua dan keluarganya akhirnya pada tahun 1887 M beliau berangkat ke Tanah Suci Mekkah, diantara guru guru beliau di Mekkah adalah 
- Sayyid Bakri Syatha
- Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
- Syekh Muhammad Sa'id Ba Bashil
- Syekh Nawawi Al-Bantani
Beliau bermukim di Mekkah sekitar 7 tahun, 5 tahun belajar ilmu agama 2 tahunnya beliau mengajar (tawliah)di Masjidil Haram, dan pada waktu disana lah salah satu gurunya menambahkan nama dibelakang dengan Ash-Shiddiq, dalam salah satu riwayat beliau pulang ke kampung pada tahun 1894 M setelah mendapatkan ijin dari guru guru beliau, beliau pulang ke Indonesia dengan salah satu sahabatnya di Mekkah yaitu Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, setelah sampai di Batavia mereka berpisah menuju daerah masing masing, kedatangan Syekh Abdurrahman Shiddiq disambut dengan sangat meriah oleh masyarakat dan sanak kerabat beliau, walaupun ada sedikit kesedihan karena orang yang selama ini mengasuh beliau yaitu neneknya telah berpulang ke Rahmatullah waktu beliau masih menuntut ilmu di Mekkah, dan setelah setahun beliau berada di Martapura Kalimantan Selatan beliau pindah ke Sumatera bersama keluarganya.
Indra Giri adalah sebuah kerajaan yang terletak di kepulauan Riau (sumatera) dulu ke Sultanan nya dibawah Sultan Kerajaan Johor Malaysia, disini lah beliau memilih tinggal di sebuah kampung yang bernama Sapat, dikampung ini beliau membuka lahan pertanian dan perkebunan serta membuat irigasi untuk pengairan sawah sawah, dengan demikian banyaklah orang orang berpindah kekampung ini dan akhirnya ramailah kampung tersebut dan ramailah penduduknya, namun hal ini tidaklah melupakan beliau untuk mengajarkan ilmu ilmunya kepada masyarakat setempat hingga masyhur lah nama beliau kesegenap pelusuk negri, hingga pada suatu hari datanglah utusan dari Istana Kerajaan Negri Indra Giri menemuinya untuk menyampaikan undangan dari Sultan Mahmud Syah supaya beliau berkunjung ke Istana Kerajaan, pada saat pertemuan mereka Sultan meminta beliau supaya mau menjadi Mufti Kerajaan Indera Giri karena keluasan ilmu beliau,pada mulanya beliau menolak, memang sebelum nya iya juga pernah ditawarkan jabatan Mufti oleh gurunya yaitu oleh Habib Utsman bin Yahya Betawi Jakarta yang pada saat itu menjabat sebagai Mufti,tapi tawaran itu beliau tolak dengan halus, adapun di Indera Giri Sultan Mahmud Syah berulang kali mengharap beliau agar menerima tawaran itu, semula ia menolak tapi setelah Sultan memohon dengan berdasarkan kepentingan umat akhirnya beliau menyetujuinya, disamping mengajar dan berdakwah beliau sempat pula mengarang berbagai macam kitab seperti kitab Tauhid, Fiqih, Tasawuf serta kitab kitab lainnya yang berkaitan dengan agama, diantara karangan beliau adalah :
1. Aqa'idul Iman
2. Fathul Alim
3. Amal Ma'rifat
4. Maw'izha lin Nafsi
5. Majmu'ul Ayat wal Hadits
6. Takmilah Qawlul Mukhtashar
7. Asrarus Shalah
8. Kumpulan Khutbah Jum'ad dan Dua Hari Raya
9. Bay'ul Hayawan lil Kafirin
10.Kitabul Fara'idh
11.syair Ibarat Khabar Kiamat
12.Syajarah al-Arsyadiyyah
13.Pelajaran Agama Islam Untuk Anak-Anak
Menurut salah seorang keturunannya, selama Syekh Abdurrahman Shiddiq menjabat sebagai Mufti beliau tidak pernah menggunakan gaji jabatannya untuk dirinya, gaji tersebut beliau bagi bagikan kepada orang orang yang memerlukannya, adapun untuk biaya hidup sekeluarga beliau dapat dari hasil kebun dan pertanian beliau sendiri, bahkan dari hasil itu banyak murid murid yang beliau tanggung biaya hidupnya, setelah sekian lama beliau bermukim di Sapat Indera giri, maka terakhir kali ia datang ke Martapura Kalimantan Selatan untuk ziarah ke makam datuknya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, tak berapa lama setelah kembali ke Sapat Indera Giri beliau pun jatuh sakit, maka pada hari senin tanggal 4 Sya'ban 1356 H, bertepatan dengan tanggal 10 Maret 1939 M roh nya yang mulia kembali ke Rahmatullah dalam usia 82 tahun,jasadnya dimakamkan di kampung Hidayat Sapat Indera Giri.
Kepergian beliau ke Hadirat Sang Khaliq membawa amal bakti yang tak ternilai harganya, karena dimasa hidupnya yang hanya menuntut ilmu dan beribadah serta mengajak orang-orang ke jalan Allah SWT. Subhanallah ... mudah mudahan kita semua dikumpulkan dengan orang orang sholeh di akhirat nanti... amiin Ya Robbal Alamin

Kamis, 21 Februari 2013

Legenda Putri Nai Manggali

Pada suatu hari Raja Panggana yang terkenal pandai memahat dan mengukir mengadakan pengembaraan keliling negeri. Untuk biaya hidupnya, Raja Panggana sering memenuhi permintaan penduduk untuk memahat patung atau mengukir rumah. Walaupun sudah banyak negeri yang dilaluinya dan banyak sudah patung dan ukiran yang dikerjakannya, masih terasa padanya sesuatu kekurangan yang membuat dirinya selalu gelisah.

Untuk menghilangkan kegelisahannya, ia hendak mengasingkan diri pada satu tempat yang sunyi. Di dalam perjalanan di padang belantara yang penuh dengan alang-alang ia sangat tertarik pada sebatang pohon tunggal yang hanya itu saja terdapat pada padang belantara tersebut. Melihat sebatang pohon tunggal itu Raja Panggana tertegun. Diperhatikannya dahan pohon itu, ranting dan daunnya. Entah apa yang tumbuh pada diri Raja Panggana, ia melihat pohon itu seperti putri menari. Dikeluarkannya alat-alatnya, ia mulai bekerja memahat pohon itu menjadi patung seorang putri yang sedang menari. Ia sangat senang, gelisah hilang. Sebagai seorang seniman ia baru pernah mengagumi hasil kerjanya yang begitu cantik dan mempesona. Seolah-olah dunia ini telah menjadi miliknya. Makin dipandangnya hasil kerjanya, semakin terasa pada dirinya suatu keagungan.

Pada pandangan yang demikian, ia melihat patung putri itu mengajaknya untuk menari bersama. Ia menari bersama patung dipadang belantara yang sunyi tiada orang. Demikianlah kerja Raja Panggana hari demi hari bersama putri yang diciptakannya dari sebatang kayu. Raja Panggana merasa senang dan bahagia bersama patung putri. Tetapi apa hendak dikata, persediaan makanan Raja Panggana semakin habis. Apakah gunanya saya tetap bersama patung ini kalau tidak makan ? biarlah saya menari sepuas hatiku dengan patung ini untuk terakhir kali. Demikian Raja Panggana dengan penuh haru meninggalkan patung itu. dipadang rumput yang sunyi sepi tiada berkawan. Raja Panggana sudah menganggap patung putri itu sebagian dari hidupnya.

Berselang beberapa hari kemudian, seorang pedagang kain dan hiasan berlalu dari tempat itu. Baoa Partigatiga demikian nama pedagang itu tertegun melihat kecantikan dan gerak sikap tari patung putri itu. Alangkah cantiknya si patung ini apabila saya beri berpakaian dan perhiasan. Baoa Partigatiga membuka kain dagangannya. Dipilihnya pakaian dan perhiasan yang cantik dan dipakaikannya kepada patung sepuas hatinya. Ia semakin terharu pada Baoa Partigatiga belum pernah melihat patung ataupun manusia secantik itu. dipandanginya patung tadi seolah-olah ia melihat patung itu mengajaknya menari.

Menarilah Baoa Partigatiga mengelilingi patung sepuas hatinya. Setelah puas menari ia berusaha membawa patung dengannya tetapi tidak dapat, karena hari sudah makin gelap, ia berpikir kalau patung ini tidak kubawa biarlah pakaian dan perhiasan ini kutanggalkan. Tetapi apa yang terjadi, pakaian dan perhiasan tidak dapat ditanggalkan Baoa Partigatiga. Makin dicoba kain dan perhiasan makin ketat melekat pada patung. Baoa Partigatiga berpikir, biarlah demikian. Untuk kepuasan hatiku baiklah aku menari sepuas hatiku untuk terakhir kali dengan patung ini. Iapun menari dengan sepuas hatinya. Ditinggalkannya patung itu dengan penuh haru ditempat yang sunyi dan sepi dipadang rumput tiada berkawam.

Entah apa yang mendorong, entah siapa yang menyuruh seorang dukun perkasa yang tiada bandingannya di negeri itu berlalu dari padang rumput tempat patung tengah menari. Datu Partawar demikian nama dukun. Perkasa terpesona melihat patung di putri. Alangkah indahnya patung ini apabila bernyawa. Sudah banyak negeri kujalani, belum pernah melihat patung ataupun manusia secantik ini. Datu Partawar berpikir mungkin ini suatu takdir. Banyak sudah orang yang kuobati dan sembuh dari penyakit. Itu semua dapat kulakukan berkat Yang Maha Kuasa.

Banyak cobaan pada diriku diperjalanan malahan segala aji-aji orang dapat dilumpuhkan bukan karena aku, tetapi karena ia Yang Maha Agung yang memberikan tawar ini kepadaku. Tidak salah kiranya apabila saya menyembah Dia Yang Maha Agung dengan tawar yang diberikannya padaku, agar berhasil membuat patung ini bernyawa. Dengan tekad yang ada padanya ini Datu Partawar menyembah menengadah keatas dengan mantra, lalu menyapukan tawar yang ada pada tangannya kepada patung. Tiba-tiba halilintar berbunyi menerpa patung. Sekitar patung diselimuti embun putih penuh cahaya.

Waktu embun putih berangsur hilang nampaklah seorang putri jelita datang bersujud menyembah Datu Partawar. Datu Partawar menarik tangan putri, mencium keningnya lalu berkata : mulai saat ini kau kuberi nama Putri Naimanggale. Kemudian Datu Partawar mengajak Putri Naimanggale pulang kerumahnya.

Konon kata cerita kecantikan Putri Naimanggale tersiar ke seluruh negeri. Para perjaka menghias diri lalu bertandang ke rumah Putri Naimanggale. Banyak sudah pemuda yang datang tetapi belum ada yang berkenan pada hati Putri Naimanggale. Berita kecantikan Putri Naimenggale sampai pula ketelinga Raja Panggana dan Baoa Partigatiga. Alangkah terkejutnya Raja Panggana setelah melihat Putri Naimanggale teringat akan sebatang kayu yang dipahat menjadi patung manusia.

Demikian pula Baoa Partigatiga sangat heran melihat kain dan hiasan yang dipakai Putri Naimanggale adalah pakaian yang dikenakannya kepada Patung, Putri dipadang rumput. Ia mendekati Putri Naimanggale dan meminta pakaian dan hiasan itu kembali tetapi tidak dapat karena tetap melekat di Badan Putri Naimanggale. Karena pakaian dan hiasan itu tidak dapat terbuka lalu Baoa Partigatiga menyatakan bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. Raja Panggana menolak malahan balik menuntut Putri Naimanggale adalah miliknya karena dialah yang memahatnya dari sebatang kayu. Saat itu pula muncullah Datu Partawar dan tetap berpendapat bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. Apalah arti patung dan kain kalau tidak bernyawa. Sayalah yang membuat nyawanya maka ia berada di dalam kehidupan. Apapun kata kalian itu tidak akan terjadi apabila saya sendiri tidak memahat patung itu dari sebatang kayu. Baoa Partigatiga tertarik memberikan pakaian dan perhiasan karena pohon kayu itu telah menajdi patung yang sangat cantik. Jadi Putri Naimanggale adalah milik saya kata Raja Panggana. Baoa Partigatiga balik protes dan mengatakan, Datu Partawar tidak akan berhasrat membuat patung itu bernyawa jika patung itu tidak kuhias dengan pakaian dan hiasan. Karena hiasan itu tetap melekat pada tubuh patung maka Raja Partawar memberi nyawa padanya. Datu Partawar mengancam, dan berkata apalah arti patung hiasan jika tidak ada nyawanya ? karena sayalah yang membuat nyawanya, maka tepatlah saya menjadi pemilik Putri Naimanggale. Apabila tidak maka Putri Naimanggale akan kukembalikan kepada keadaan semula. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga berpendapat lebih baiklah Putri Naimanggale kembali kepada keadaan semula jika tidak menjadi miliknya.

Demikianlah pertengkaran mereka bertiga semakin tidak ada keputusan. Karena sudah kecapekan, mereka mulai sadar dan mempergunakan pikiran satu sama lain. Pada saat yang demikian Datu Partawar menyodorkan satu usul agar masalah ini diselesaikan dengan hati tenang didalam musyawarah. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mulai mendengar kata-kata Datu Partawar. Datu Partawar berkata : marilah kita menyelesaikan masalah ini dengan hati tenang didalam musyawarah dan musyawarah ini kita pergunakan untuk mendapatkan kata sepakat. Apabila kita saling menuntut akan Putri Naimanggale sebagai miliknya saja, kerugianlah akibatnya karena kita saling berkelahi dan Putri Naimanggale akan kembali kepada keadaannya semula yaitu patung yang diberikan hiasan. Adakah kita didalam tuntutan kita, memikirkan kepentingan Putri Naimanggale? Kita harus sadar, kita boleh menuntut tetapi jangan menghilangkan harga diri dan pribadi Putri Naimanggale.

Tuntutan kita harus kita dasarkan demi kepetingan Putri Naimanggale bukan demi kepentingan kita. Putri Naimanggale saat sekarang ini bukan patung lagi tetapi sudah menjadi manusia yang bernyawa yang dituntut masing-masing kita bertiga. Tuntutan kita bertiga memang pantas, tetapi marilah masing-masing tuntutan kita itu kita samakan demi kepentingan Putri Naimanggale.

Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mengangguk-angguk tanda setuju dan bertanya apakah keputusan kita Datu Partawar ? Datu Partawar menjawab, Putri Naimanggale adalah milik kita bersama. Mana mungkin, bagaimana kita membaginya. Maksud saya bukan demikian, bukan untuk dibagi sahut Datu Partawar. Demi kepentingan Putri Naimanggale marilah kita tanyakan pendiriannya. Mereka bertiga menanyakan pendirian Putri Naimanggale.

Dengan mata berkaca-kaca karena air mata, air mata keharuan dan kegembiraan Putri Naimanggale berkata : “Saya sangat gembira hari ini, karena kalian bertiga telah bersama-sama menanyakan pendirian saya. Saya sangat menghormati dan menyayangi kalian bertiga, hormat dan kasih sayang yang sama, tiada lebih tiada kurang demi kebaikan kita bersama. Saya menjadi tiada arti apabila kalian cekcok dan saya akan sangat berharga apabila kalian damai. Mendengar kata-kata Putri Naimanggale itu mereka bertiga tersentak dari lamunan keakuannya masing-masing, dan memandang satu sama lain. Datu Partawar berdiri lalu berkata : Demi kepentingan Putri Naimanggale dan kita bertiga kita tetapkan keputusan kita :
a. Karena Raja Panggana yang memahat sebatang kayu menjadi patung, maka pantaslah ia menjadi Ayah dari Putri Naimanggale. SUHUT
b. Karena Baoa Partigatiga yang memberi pakaian dan hiasan kepada patung, maka pantaslah ia menjadi Amangboru dari Putri Naimanggale. BORU
c. Karena Datu Partawar yang memberikan nyawa dan berkat kepada patung, maka pantaslah ia menjadi Tulang dari Putri Naimanggale. HULA-HULA

Mereka bertiga setuju akan keputusan itu dan sejak itu mereka membuat perjanjian, padan atau perjanjian mereka disepakati dengan :
Pertama, bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale Raja Panggana, Baoa Partigatiga dan Datu Partawar akan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi dan mungkin terjadi dengan jalan musyawarah.
Kedua, bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale dan turunannya kelak, Putri Naimanggale dan turunannya harus mematuhi setiap keputusan dari Raja Panggana, Baoa Partigatiga dan Datu Partawar.

Demikian legenda PUTRI NAI MANGGALE yang menggambarkan (turi-turian) asal muasal DALIHAN NA TOLU didalam kekerabatan Batak. Dari cerita tersebut, bahwa hakikat DNT adalah musyawarah untuk menyelesaikan masalah demi kebaikan orang yang dikasihi dalam hal ini PUTRI NAI MANGGALE

Legenda Datu Ayuh, Tingkai dan Badil

Masuknya Islam ke daerah Kotabaru yang datarannya menyatu dengan pulau Kalimantan.

Masuknya Islam ke daerah itu diperkirakan tahun 1570. Konon, Sultan Tamjidillah dari Martapura memiliki anak yang bernama Ratu Intan. Ratu Intan inilah yang kemudian memasuki daerah Pamukan Utara hingga memiliki daerah kekuasaan di sana.

Sebelumnya, agama Hindu-Budha sudah lebih dahulu sampai di daerah itu. Agama ini dibawa oleh dua kakak beradik bernama Tingkai dan Badil. Tingkai dan Badil ialah dua pemuda yang diam di daerah Kalteng. Karena merasa bosan, mereka lalu bertualang ke daerah Jawa, mempelajari gamelan, hingga pulang lagi ke Kalteng dan berniat pergi ke tempat lain.

Mereka menebang pohon yang jatuh ke pinggir sungai dan arahnya ke Kalimantan Tenggara. Semenjak itu mereka bertolak dan sampai di daerah Pamukan Utara. Di daerah ini mereka mendirikan 40 balai berupa macam-macam bentuk, bisa berwujud batu maupun pohon. Konon sekarang sudah ditemukan lebih dari 20 balai.

Sesudahnya kedatangan mereka pula, berkembang cerita tentang dukun yang sedang melakukan Balian (upacara adat). Saat Balian dilangsungkan ada yang tertawa dalam rumah. Karena merasa tersinggung, maka didoronglah rumah itu oleh sang dukun. Maka baik rumah maupun orang-orang yang didalamnya, mereka yang tidak sempat lari, berubah menjadi batu.

Di masa sebelum islam pula berkembang cerita Datu Pujung dan Datu Ayuh. Datu Pujung menguasai wilayah Kotabaru Selatan, sementara Datu Ayuh menguasai bagian Utara. Datu Ayuh sekarang dipercaya muksa (menghilang). Semasa hadirnya, Datu Ayuh ialah seseorang yang ditakuti karena kesaktiannya.

Sewaktu gotong royong diadakan, Datu Ayuh hanya tidur. Ia pun dipinta penduduk untuk ikut menselesaikan atap dengan mengumpulkan Daun Nipah. Maka pergilah Datu Ayuh dan kembali membawa seikat Daun Nipah dengan lebar hanya sepergelangan tangan orang dewasa. Namun setelah ikatannya dibuka, daun itu langsung berlimpah-limpah banyaknya. Masa-masa itu dipercaya kalau penduduk sekitar masih menganut agama Hindu atau Kaharingan.

Sayang, sebagaimana cerita Pak Syukri, tidak ada data hingga bukti bangunan fisik atau tulisan-tulisan yang mendukung. Jadi apa yang diceritakan oleh pak Agits hanya sekadar mulut ke mulut. Namun sebagai pendukung legenda itu, Ratu Intan memang disemayamkan di daerah tepi sungai Bakau, Kecamatan Pamukan Utara, yang berjarak 263 km dari Kotabaru.

Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga

Tapaktuan sangat terkenal dengan sebuah Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga. Cerita tersebut sangat hidup didalam masyarakat disana yang sangat mudah untuk dapat kita dengar dari A sampai Z. Adapun Legenda tersebut dibarengi dengan ornamen ornamen yang memiliki bentuk dan rupa seperti yang tersebut di dalam cerita tersebut. Ada baiknya saya ceritakan sedikit tentang Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga itu.

”Alkisah, dizaman dahulu kala, ribuan tahun lalu, di Aceh Selatan hidup dua ekor naga yang sangat perkasa dan memiliki ilmu sakti mandraguna. Sepasang naga ini, memiliki anak yang bernama Putri Naga. Putri ini cantik jelita. Putri nan rupawan ini, katanya didapat dari perebutan sepasang Naga (Jantan dan Betina) dengan orangtua sang putri.
Konon ceritanya, suatu ketika – tidak ada masyarakat yang mengetahui tahun pasti, sepasang naga tengah berjalan-jalan menyusuri lautan yang bergelombang. Si Naga jantan tiba-tiba berhenti, tertegun memperhatikan sebuah titik hitam di tengah laut. Titik hitam itu menarik perhatiannya. Lamat-lamat titik hitam itu mendekat ke arah sang naga. Gelombang laut yang membawanya mendekat. Si Naga Jantan dan Betina terus memperhatikan titik hitam itu. Ketika titik hitam itu semakin mendekat, Sang Naga terjun alang kepalang. Titik hitam itu adalah tiga sosok manusia, berada lam perahu kecil yang diombang-ambingkan gelombang laut Aceh Selatan. Ketiga manusia itu adalah sepasang suami-istri bersama bayinya. Bayi mungil ini berada dalam pangkuan ibunya. Mereka sengaja datang ke daerah itu bermaksud mencari rempah-rempah yang keberadaannya sudah cukup dikenal. Aceh Selatan sejak zaman Belanda menjajah daerah itu memang dikenal kaya akan hasil alam. Nilam, Cengkeh dan Pala merupakan tumbuhan yang dominan disana. Bahkan tumbuhan itu hingga kini menjadi komuditi unggulan daerah itu.
setelah melihat ketiga anak manusia itu, Sepasang Naga sakti yang bisa melakukan terhentak. Lalu, dia meniup perahu yang sudah sangat dekat itu. Sekali tiup saja, perahu kecil itu terombang-ambing dan tenggelam ditelan ombak deras. Kemudian Naga Betina, menjulurkan lidahnya menangkap putri kecil yang terhempas dari perahu itu.

Pasangan Naga ini sangat senang mendapatkan putri berbentuk manusia. Konon naga itu memang sudah lama mengidam-idamkan seorang putri. ”Setelah selamat dan menepi kedarat orangtua si Putri begitu sedih kehilangan buah hatinya dan tidak tahu ke mana putrinya menghilang. Mereka berpikir bahwa anak perempuan kesayangannya sudah hilang tenggelam dalam lautan dan badai atau hilang entah ke mana, Akhirnya sepasang naga membawa putri mungil hasil rampasan mereka ke sebuah pulau, pulau ini terletak di Batu Hitam, Kecamatan Tapaktuan Aceh Selatan.

Kedua Naga itu sangat menyanyangi putri pungut mereka. Bahkan, Naga betina selalu memeluk putri kecil dalam cengkeramnya agar tidak hilang. Sang Putri kecil, setelah sadar dari pingsannya, menangis sejadi-jadinya begitu melihat sosok Naga aneh dan menyeramkan. Si Putri kecil Ia takut. Diapun terus menangis sekuat-kuatnya. Naga betina pusing memikirkan tangisan putri itu. Terpaksa dia menggunakan kesaktiannya untuk menenangkan si Putri agar tak mengeluarkan air mata lagi.
Putri ini diberi nama Putri Bungsu. Mereka sangat mengasihi putri ini. Bahkan Naga Jantan menciptakan tempat bermain nan indah di gunung itu. Semua buah-buahan dan minuman tersedia disana. Semua itu dilakukan agar Putri Bungsu betah tinggal bersama mereka. ”Putri inilah yang kemudian disebut Putri Naga,”.

Waktu terus bergulir. Putri Bungsu merangkak remaja. Dia menetap bersama naga disebuah gua yang dalam. Suatu hari, sang Putri Bungsu secara tak sengaja mendengar obrolan sepasang Naga. Dari luar gua dia terus menyimak percakapan itu. Dia tersentak. Sadar, bahwa dirinya bukan keturunan naga. Dia memiliki orang tua yang juga berasal dari bangsa manusia. Niat untuk melarikan diripun muncul dalam benaknya. Putri Bungsu tidak gegabah. Dia bersabar untuk menemukan waktu yang tepat melarikan diri dari gunung itu. Dia takut akan kesaktian kedua naga tersebut.
Waktu yang dinantikanpun tiba. Dari atas gunung, Putri Bungsu melihat sebuah kapal berlayar dibawah kaki gunung itu. Gunung ini memang tepat berada di depan laut. Naga Jantan kala itu sedang tertidur dipinggir laut. Perlahan dia mengangkat kaki, sedikit menjinjing agar langkahnya tidak didengar Naga Jantan.
Perahu layar semakin dekat. Dia bimbang. Teringat akan kesaktian naga tersebut. Jarak Naga Jantan beristirahat dengan laut sangat dekat. Khawatir ketahuan, diapun mengurungkan niat untuk kabur dari gunung itu.
Siang-malam Putri nan cantik jelita itu mencari akal. Ide cemerlangpun muncul dikepalanya. Satu dia mengajak pasangan Naga berjalan-jalan menyusuri pantai di pulau itu. Naga kelelahan dan tertidur pulas. Putri Bungsu tak menyianyiakan kesempatan emas itu. Kakinya diseret ke atas sebuah bukit kecil yang dekat dengan laut. Agar dia bisa melihat perahu yang melintas. Jarang sekali perahu yang mahu mendekat ke pulau itu. Namun hari itu keberuntungan Putri Naga. Sebuah perahu kecil merapat. Dia melambaikan tangan. Awak perahu ada yang menyapanya.
Putri bungsu naik ke atas kapal dan ikut bersama awak kapal itu. Naga yang baru terbangun dari tidur, terkejut setengah mati. Putri kesanyangannya telah pergi. Dalam benaknya, Naga berujar, pasti perahu itu yang melarikan putriku. Dia mengejar perahu yang berjalan sangat pelan itu.

Lalu apa hubungan Putri Bungsu, Naga dan Tuan Tapa? sabar…. saya akan lanjutkan ya..

Sepasang Naga itu mengejar perahu tersebut. Sementara itu, di Gua Kalam, tidak jauh dari bukit itu, seorang manusia sedang bertapa. Dia tersentak dari pertapaanya. Seakan dia sadar akan ada bencana besar dibumi. Inilah Tuan Tapa. Dia keluar dari gua tersebut. Lalu menatap ke laut lepas. Terlihat sepasang Naga dengan kemarahan puncak sedang mengejar sebuah perahu nelayan. Tuan Tapa terkenal dengan tongkat saktinya.
Dihadangnya Naga yang sedang mengejar perahu. Perkelahian hebatpun tak dapat dihindarkan. Dari mulut kedua Naga menyemburkan api. Tuan Tapa menghela tongkatnya hingga mengeluarkan air deras dan memadamkan api Naga. Tak mau kalah, sang Naga jantan pun mengeluarkan ribuan anak panah berapi yang diarahkan ke Tuan Tapa. Tuan Tapa bisa menghindari serangan itu. Tak ketinggalan, Naga betina juga mengeluarkan pisau-pisau beracun yang juga berhasil dielakkan Tuan Tapa.
Karena terus-menerus mengeluarkan kekuatannya, kesaktian kedua Naga mulai berkurang. Kesempatan itu dimanfaatkan Tuan Tapa untuk menyerang lebih dahsyat. Dengan tongkat sakti miliknya, Tuan Tapa mengayunkan benda panjang itu ke arah dua Naga. Naga betina, mencoba menghindar dengan cara melarikan diri menjauhi Tuan Tapa. Saat lari kencang tak tahu arah itulah sang Naga betina menabrak sebuah pulau hingga terbelah pulau. Pulau terbelah ini kemudian oleh masyarakat Aceh Selatan disebut sebagai Pulau Dua, di Kecamatan Tapaktuan Aceh Selatan

Sementara Tuan Tapa mengejar sang Naga jantan yang sudah terluka akibat serangan ‘tongkat sakti’. Tuan Tapa memukul tongkat saktinya bertubi-tubi ke tubuh Naga jantan hingga hancur berkeping-keping dan jatuh terjerembab ke tanah. Tubuh Naga jantan hancur berserakan dan darah berceceran yang menyebar memerahkan tanah, bebatuan dan lautan.
Saat ini bekas tempat ceceran darah Naga itu kini masih terlihat berupa tanah dan batu yang memerah. Kini disebut dengan Tanah Merah ( Batu Mirah ). Sedangkan hati sang Naga, yang pecah dan terlempar menjadi beberapa bagian akibat pukulan tongkat sakti Tuan Tapa, peninggalannya hingga sekarang masih terlihat berupa batu-batu berwarna hitam berbentuk hati. Daerah ini kemudian diberi nama Desa Batu Hitam, masih dikecamatan yang sama.
Sementara di tempat pertempuran Naga dan Tuan Tapa, masih meninggalkan jejak berupa tongkat. Tongkat mirip baru itu, dipercayai sebagai tongkat Tuan Tapa.
Bagaimana nasib sang Putri? Sang Putri akhirnya kembali hidup normal layaknya manusia dan hidup bahagia bersama kedua orangtuanya. Putri Bungsu kemudian mendapat julukan sebagai ‘Putri Naga’.”

Dan Lagenda ini telah diperkuat dengan subuah bukti yang telah ditinggalkan oleh Si Tuan Tapa berupa Tongkat dan Topinya yang berapa di tengah laut Tapaktuan dan hanya bisa di lihat dari sebuah gunung yang bernama Gunung Lampu menjelang senja hari saja. Kemudian sebuah Tapak kaki dan makam Tuan Tapa yang ukurannya wowww,,, that is so big,,, .

Begitulah sedikit cerita tentang Legenda Kota Tapaktuan. Karena kisah ini pula, orang menyebutkan Aceh Selatan sebagai Kota Naga. Bahkan, jika memasuki kota Tapaktuan pemerintah Daerah Aceh Selatan mengukir gambar naga tepat di dinding pinggir jalan. Sekitar seratus meter dari arah timur kantor Bupati Aceh Selatan.

Legenda Pulau Langkawi

PULAU Langkawi adalah sebuah pulau yang letaknya tak berapa jauh dengan Negeri Perlis. Hanya satu jam perjalanan dengan menumpang feri cepat. Langkawi sebuah pulau yang dikelilingi beberapa pulau kecil lainnya. Bila kita berangkat dari Kuala Keudah menuju Langkawi membutuhkan waktu sekitar dua jam. Tapi kalau dari Pulau Pinang menuju Perlis sedikit lebih jauh sehingga bisa memakan waktu dua jam lebih.
Untuk menuju Langkawi dari Keudah bisa juga ditempuh dengan menggunakan pesawat udara, karena di Langkawi juga ada bandara internasional. Bandaranya sangat bagus dengan tempat parkir sangat luas dan bisa mendarat segala jenis pesawat.

Begitu juga pelabuhan lautnya yang bernama Kuah Jetty. Pelabuhan laut ini sangat luas layaknya sebuah bandar internasional. Di pelabuhan ini bisa kita dapati segala keperluan, mulai dari toko-toko bebas bea masuk (Duty Free Complex), toko makanan, alat pecah-belah yang sangat lengkap dan banyak sekali pilihannya. Juga ada toko arloji, elektronik, toko sepatu, tas wanita, dan masih banyak lagi layaknya seperti sebuah pasar besar.

Lapangan parkir di pelabuhan ini sangat besar, bersih dan teratur, serta bisa menampung ratusan kendaraan terutama taksi. Pada waktu kita sudah mulai dekat dengan pulau Langkawi, kita dapat saksikan keindahan pemandangan alam yang luar biasa dengan hotel-hotel puluhan lantai yang berderet di pinggir laut di hampir semua pulau yang digelar Langkawi Permata Keudah.

Pelabuhan Kuah Jetty memiliki dua tempat sandaran kapal, yang satu khusus untuk feri penumpang yang hilir mudik dari pagi sampai malam. Tiap hari tak kurang dari 43 feri yang beroperasi di pelabuhan Kuah Jetty Langkawi dengan penumpang yang selalu penuh. Setiap feri berlantai dua bisa memuat sekitar 250 penumpang. Satu lagi adalah pelabuhan yang agak kecil untuk merapat kapal pesiar kecil yang lumayan banyak jumlahnya. Mungkin milik pribadi atau untuk disewakan.

Di dekat pelabuhan sebelah kanan ada sebuah patung elang raksasa dalam keadaan siap terbang. Patung elang ini merupakan Landmark-nya Pulau Langkawi (Eagle Square/Daratan Long), di mana patung elang raksasa itu tampak sedang mengepak sayapnya seakan ingin terbang ke laut lepas.

Legenda Mahsuri

Objek wisata di Pulau Langkawi ini sangat banyak dan selalu ramai dikunjungi orang. Ada puluhan objek wisata yang sangat menarik bagi pelancong dalam dan luar negeri. Sehingga arus penumpang laut dan udara ke Langkawi ini selalu penuh.

Di setiap tempat wisata tampak selalu ramai dengan wisatawan. Di tempat-tempat wisata itu tersedia berbagai kebutuhan wisatawan, seperti cenderamata, tempat hiburan, penjual segala jenis makanan dan segala fasilitas lainnya.

Salah satu tempat wisata yang sangat ramai dikunjungi wisatawan di Langkawi adalah objek wisata Oriental Village. Di tempat wisata ini dijual berbagai suvenir, tempat permainan, kebun binatang, kereta kuda, dan kolam ikan.

Puluhan puluhan cable car selalu hilir mudik di antara pegunungan, sehingga kita dapat menikmati keindahan pulau Langkawi dari atas kereta layang. Oriental Village ini terletak di kaki gunung di antara hutan-hutan yang sangat lebat dan sejuk.

Selain Oriental Village juga ada lagi tempat wisata yang ramai dikunjungi yaitu Mahsuri Internasional Exhibition Centre. Tempat wisata ini sangat luas dan banyak dikunjungi karena tertarik dengan legenda yang terjadi terhadap seorang wanita cantik bernama Mahsuri.

Menurut ceritanya, Mahsuri ini dihukum bunuh pada 1235 H atau bersamaan 1819 M akibat fitnah dan iri hati orang lain terhadapnya.

Semasa menerima hukuman wanita ini bersumpah bahwa Pulau Langkawi tidak akan aman dan makmur selama tujuh keturunan. Sehingga Langkawi Indah Bumi Bersejarah ini ditampilkan gambar dalam bentuk visual yang menceritakan riwayat hidup Mahsuri bersama suaminya dan ketika mereka dijatuhkan hukuman oleh pengadilan.

Di pulau Langkawi ini juga banyak terdapat benda-benda peninggalan sejarah masa lalu. Seperti sebuah rumah yang terbuat dari kayu dan penuh dengan ukiran-ukiran yang sangat indah. Rumah ini mirip dengan rumah yang ada di Aceh (mirip rumah Aceh). Di dekat rumah inilah terdapat makam Mahsuri yang kelihatan telah dipugar dengan sangat bagus.

Di sekitar objek wisata ini sekarang banyak dimanfaatkan oleh pedagang kecil yang menjual berbagai benda suvenir bagi pengunjung dan ada atraksi pembuatan kue kekarah yang sama persis dengan kue kekarah di Aceh. Kue kekarah ini sangat banyak pembelinya karena dianggap sangat unik cara membuatnya dan enak dimakan.

Boleh dikatakan, hampir seluruh Pulau Langkawi merupakan tempat wisata. Bahkan ada lagi tempat wisata menarik di Langkawi ini, tempat wisata Telaga Tujuh, Telaga Harbour Park, Legenda Park, Durian Perangin, Sky Bridge at Cable Car, Lake of Pregnant Maiden, Gua Teluk Dedap, dan beberapa pulau yang dijadikan tempat wisata menarik serta masih banyak tempat wisata lainnya.

Tak heran jika pengunjung wisatawan ke Pulau Langkawi ini selalu ramai setiap hari, sehingga feri yang banyaknya mencapai 43 unit setiap harinya selalu penuh dengan penumpang, belum lagi dengan pesawat udara.

Setelah menginap satu malam di Pulau Langkawi, rombongan Majelis Adat Aceh (MAA) kembali ke Pulau Pinang melalui Kuala Perlis.

Kesan yang didapat dari kunjungan muhibah ini ternyata masyarakat di Semenanjung Melayu baik di Kampung Aceh Yan Keudah ataupun di Perlis dan Langkawi, sangat menghormati setiap tamu yang berkunjung, tak terkecuali pejabat kerajaan yang menyambut rombongan MAA Aceh dengan hormat dan mulia