Pada suatu kurun waktu dizaman dahulu, disuatu tempat didaerah aliran
sungai Amandit di Kalimantan Selatan, terdapatlah sebuah kerajaan.
Riwayat kerajaan ini hanyalah terceriterakan sambung bersambung dari
mulut kemulut, karena pada suatu ketika terjadi sbuah kebakaran besar
yang selain menghabiskan seluruh keraton dan isinya, juga rumah
lembaga-lembaga kerajaan lainnya. Termasuk diantara yang terbakar itu
adalah gedung hikayat dan sejarah yang menyimpan segala catatan-catatan
mengenai kerajaan.
Orangpun lama kelamaan lupa silsilah nama
raja-raja yang pernah memerintah disitu. Bahkan pada akhirnya orang juga
lupa akan nama kerajaan itu sendiri. Dalam ceritera ini, biarlah untuk
mudahnya kita namakan kerajaan itu sebagai kerajaan Hulu Amandit.
Dalam
kurun waktu akhir-akhir dari keberadaan kerajaan itu, kerajaan Hulu
Amandit diperintah oleh seorang baginda tua, yang diingat orang sudah
puluhan tahun memerintah, dari usia muda hingga keusia beliau yang
hamper 80 tahun. Dibawah pemerintahan beliau, negeri aman, makmur,
tenteram dan sejahtera, tidak pernah kekurangan sesuatupun. Beliau
berputera 2 orang, seorang pangeran putera mahkota dan seorang puteri.
Sebagai
seorang raja yang berfikiran maju dan bersifat bijaksana, baginda
memberikan pendidikan yang sangat cukup bagi putera mahkota dan sang
puteri. Keduanya mendapatkan pendidikan dan latihan yang sangat cukup
bagi sorang pangeran dan seorang puteri raja. Bahkan putera mahkota
dikirim berguru, tidak hanya ke Negara tetangga seperti Kerajaan Banjar
dan kesultanan-kesultanan lain didaerah aliran Sungai Barito, hinga yang
dipesisir pulau Jawa seperti Gresik, Demak, Cirebon dan Banten, namun
juga hingga ke tanah Mesir dan Arab, bahkan suatu waktu ke negeri Cina.
Maka
menjadiliah putera mahkota seorang pangeran yang sangat pandai dan
piawai didalam berbagai ilmu. Namun bagai kata pepatah: tak ada gading
yang tak retak, ada satu cacat sifat pada sang putera mahkota yang
sangat menonjol yang sangat merisaukan fikiran baginda raja.
Baginda
sering termenung, merenung sendiri; “ Kita semua insan Tuhan memang
harus ada keras kepalanya, namun itu sebaiknya hanya untuk
mempertahankan yang benar, sampai sebatas keras hati atau kemauan untuk
mencapai sesuatu yang baik”.
“Na’udzubillah, alangkah keras kepalanya
anakku ini. Sekali ia berpendapat, tak seorang, bahkan aku dan
ibundanya pun dapat mengubah atau melenturkan pendiriannya”.
Bagindapun
sering berulang kali memikirkan, apakah sifat buruk puteranya itu
berasal dari keturunan, dari baginda sendiri atau permaisuri. Namun
sambil memohon ampun kehadapan Tuhan bahwa beliau harus menilai diri
sendiri dengan pujian, rasa-rasanya beliau adalah seseorang yang mau
saja mendengarkan dan mengikuti pendapat orang lain. Orang-orang,
rakyat, seperti yang didengar baginda sendiri, selalu memuji diri
baginda sebagai seorang raja yang arif dan bijkasana. Begitipun dengan
permaisuri, Menurut baginda, rakyat sangatlah menghormati permaisuri
sebagai seorang wanita yang lemah lembut, ramah tamah, rendah hati dan
tiada banyak perkataan. Berulang kali beliau merenung sedemikian, namun
selalu sampai pada kesimpulan, bahwa sifat dan sikap putera mahkota itu
bukanlah diturunkan oleh nenek moyang, tetapi dari sananya, dari akunya
sang anak itu sendiri. Dan terakhir biasanya baginda menghibur diri
sendiri dengan kesimpulan untuk berdoa semoga sifat putera mahkota yang
kurang menyenangkan, yang satu itu lambat laun akan berubah sendiri.
Adapun
sifat putera mahkota yang sedemikian itu, tak pelak lagi, menimbulkan
dikeraton satu lingkaran kubu antar pejabat dan kerabat bangsawan yang
banyak hanya menyanjung-nyanjung serta memuja-mujinya. Perilaku
sedeikian tentulah bukan tanpa maksud dan tujuan. Bangsawan-bangsawan
itu hanyalah mencari keuntungan pribadi untuk mencari kedekatan dengan
putera mahkota, terutama mengharapkan jabatan-jabatan penting kelak,
pada saat putera mahkota menjadi raja. Jadilah orang-orang yang kurang
beritikad baik itu disebut sebagai pembisik-pembisik bagi putera
mahkota.
Demikianlah kerajaan itu, sebuah negeri yang berbasis
agrarian, aman makmur damai sentosa dan berbahagia, diperintah dan
diayomi oleh baginda tua dengan permaisuri, keduanya sangatlah arif
bijksana, dicintai dan dihormati. Namun ibarat kata pepatah, untung tak
dapat diraih, malang tak dapat ditolak, suatu ketika, oleh karena
penyakit usia tua, bagida jatuh gering dan meninggal dunia. Dengan
segala kebesaranpun baginda dimakamkan.
Walau banyak cerdik
pandai dan tetua-tetua negeri merasa kurang berkenan dihati, oleh karena
tidak ada plihan lain, putera mahkotapun dinobatkan menjadi raja,
menggantikan almarhum baginda tua. Ternyata program pertama baginda baru
adalah kunjungan muhibah ke Negara-negara tetangga dan manca Negara
dimasa itu. Kepada pembesar dan rakyat baginda menyatakan bahwa ini
adalah perjalanan penting kerajaan untuk memperkenalkan diri.
Maka
pada suatu hari, berangkatlah dari pelabuhan kerajaan Hulu Amnadit,
tidak kurang dari belasan buah kapal membawa baginda dan sri ratu serta
robongan pembesar, pejabat dan kerabat, orang-orang yang semua dipilih
oleh baginda. Tidak dilupakan pembekalan yang cukup untuk diperjalanan
serta satu kapal khusus memuat cendera mata yang akan dipersembahkan
kepada raja-raja atau kepala-kepala negara yang akan dikunjungi. Juga
rombongan dilengkapi dengan cukup awak dan pengawal.
Tujuan
perjalanan adalah kerajaan-kerajaan disepanjang sungai Barito, kerajaan
Banjar di Selatan, menyeberang laut ke kerajaan-kerajaan sepanjang
pantai utara pulau Jawa, ke barat ke kesultanan di Palembang, Siak Sri
Indrapura, Samdra Pasai, mengarungi lautan Hindia hingga ke Madagaskar.
Pulangnya singgah di Maladewa, Sailan dan India, singgah di Siam dan
Patani di Malaka, menyeberang ke Pontianak dan Mempawah, ke utara lagi
lalu ke timur singgah di kesultanan Moro menyisiri pantai utaa Selebes
ke kesultanan-kesultanan Halmahera, Ternate dan Tidore. Dari kepulauan
Maluku ini perjalanan pulang menyinggahi kerajaan-kerajaan Gowa dan
Bone, meyebeangi selat Makassar memasuki kembali sungai Barito dan
Amandit.
Pada masa itu perjalanan tidaklah semahal pejalanan
zaman sekarang. Kapal-kapal tidak memerlukan bahan bakar, hanya menunggu
angina rahmat Illahi. Persediaan makananpun tidak terlalu banyak karena
disetiap pelabuhan kerajaan yang disinggahi, kapal-kapal dibekali isi
hadiah dari tuan rumah. Persediaan yang mustahak pada masa itu hanyalah
juadah-juadah kering seperti amping beras dan kerak nasi kuning, wajik
dan cengkaruk (sejenis penganan manis dibuat dari beras ketan yang
disangrai, ditumbuk dengn gula merah dan gorengan kelapa parut), ikan
asin basah dan kering untuk persediaan sewaktu-waktu.
Adapu
baginda sangat bersuka cita dengan perjalanan itu. Raja-raja serta
pembersar-pembesar dari kerajaan-kerajaan yang disinggahi sangatlah
ramahnya berbasa basi dan beradat istiadat. Disetiap penjemputan,
gerbang istana selalu digelari permadani merah dan megah, diiringi
kesenian-kesenian, upacara adat dan tari-tarian. Perjamuan makan
besarpun selalu digelar menghormati tetamu.
Cenderamata yang
didapatpun berlimpah-limpah, dimuatkan ke kapal-kapal untuk dibawa
pulang. Sebagai balasan, baginda menghadiahkan berkarung-karung akar
kayu pasak bumi, khas dari pedalaman hulu Barito. Raja-raja yang
menerimapun sangatlah bersuka cita karena konon katanya akar kayu pasak
bumi itu air seduhannya dapat merangsang gairah para raja-raja
diperaduan.
Adapun perjalanan itu lamanya tidak kurang dan tidak
lebih dari empat belas bulan purnama. Sementara baginda bepergian,
kerajaan dijalankan dengan aman dan tenteram oleh adinda puteri dibantu
oleh pembesar-pembesar yang ditinggal. Tidaklah selama itu terjadi
sesuatu kejadian yang luar biasa.
Demikianlah, berminggu-minggu
hingga bahkan berbulan-bulan lamanya, baginda masih terbayang dan
terngiang diliputi rasa puas dan mimpi bahagia perjalanan muhibah tadi.
Hanya rakyat jelata dan tetua-tetua yang arif yang merasakan bahwa
perjalanan baginda itu sama sekali tidak ada manfaatnya, terutama bagi
rakyat jelata. Mereka ini terkenang kembali akan almarhum raja tua yang
sepanjang hidupnya hanya pernah satu kali naik haji ke mekah dan singgah
di Patani di Malaka dan Kesunanan Ampel di Surabaya. Almarhum adalah
seorang pemimpin Negara yang sangat hati-hati untuk tidak membuang-buang
waktu dan biaya, raja yang sangat memikirkan Negara dan rakyat.
Sekembalinya
memerintah, Raja Baru Hulu Amandit tadi banyak sekali membuat
peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan yang menyusahkan rakyat.
Tingkah laku para pembisikpun besimaharajalela. Dan puncak daripada
kemalangan kerajaan adalah ketika dibentuknya dewan menteri yang baru.
Menteri-menteri yang tua yang tergolong arif dan bijaksana, yang dulu
diangkat dan menjadi handalan dan kepercayaan bagi baginda tua almarhum,
diberhentikan dan diganti dengan orang-orang dari lingkaran kubu
pembisik dalam istana. Dengan sifat baginda yang sangat keras kepala
itu, keputusan-keputusan bag inda adalah kata akhir. Walau seberapa
buruk dan tidak bijaksanapun keputusan-keputusan itu dirasakan
orang-orang yang arif maupun rakyat jelata. Para pejabat yang baru
tinggal mengaminkan, bertepuk tangan mengia-ia kan segala keputusan
raja, walau yang paling buruk atau tidak masuk akal sekalipun.
Adalah
pada masa itu rakyat harus selalu menurut dan menerima. Orang tidak
oleh tidak setuju dengan keputuan raja sehingga rakyat yang sedih hanya
boleh menangis sendiri dan mengurut dada. Tidak pernah terlintas dibenak
rakyat utnuk berunjuk rasa seperti orang dimasa kini.
Demikianlah
pemerintahan kerajaan serta rakyatnya berjalan, sampai pada suatu
ketika terjadi malapetaka. Dengan tidak diketahui sebab musabab dan asal
muasalnya, pada suatu musim kemarau yang panjang yang diikuti oleh
kekeringan yang sangat, dilereng barat pegunungan Meratus, membujur dar
utara ke selatan, terjadi kebakaran hutan. Kebakaran itu mulai dan
melintasi kawasan yang tidak berpenduduk sehungga orang-orang di Hulu
Amandit baru tahu akan adanya, setelah api hamper mencapai gunung
Madang, ujung kerajaan di Tenggara. Orang-orang sudah tidak mampu lagi
memadamkannya serta merekapun sangatlah cemas. Namun untung ketika itu
terjadi musim mulai berganti. Musin hujan tiba. Hujan itulah yang secara
alami memadamkan kebakaran. Sebagai sisa bencana itu, hutan bekas
kebakaranpun menjadi gundul.
Sebetulnya daerah Hulu Amandit
tergolong dataran yang agak tinggi. Berbeda dengan negeri-negeri
sepanjang hiliran sungai Barito yang rendah dan berawa, banjir hampir
tak pernah terjadi. Namun setelah kebakaran besar tersebut, hutan
gundulpun tidak dapat menahan dan meresapkan air. Pada suatu musim hujan
yang lebat dan panjang, terjadilah banjir dinegeri Hulu Amandit. Banjir
itu sedemikian besar, hingga merendam hamper seluruh kebun dan
persawahan diseluruh negeri. Hama tikus dan lain-lainnya tumbuh subur
dan panen pangan gagal total. Rakyatpun hidup seadanya dengan sisa-sisa
pangan yang masih ada. Tetua-tetua serta orang arif dan rakyat jelata
berfikir panjang, terutama untuk masa depan. Merekapun membentuk suatu
perutusan menghadap raja untuk memohon demi penanggulangan musibah
hingga kemasa depan, agar dicanangkan program. Pertama, rakyat memburu
tikus-tikus dan istana mengganjar sejumlah hadiah untuk tiap jumlah ekor
tikus yang dapat dibunuh, dan jedua, rakyat dikerahkan menanam
bibit-bibit pohon di gunung Madang agar hutan tumbuh kembali sehingga
air hujan dari dari hulu dan lereng pegunungan Meratus akan tersangga.
Namun sedikitpun baginda tidak memperdulikan usul-usul tersebut. Dengan
lagak sinis dan sombong, raja menjawab, “ Ah, tahu apa kalian, aku puny
aide lebih baik.”
Tersebutlah di ibukota kerajaan ada lima batang
pohon kayu besar yang sangat disayangi rakyat. Dua pohon johar besar
dipekarangan mesjid jami istana telah tumbuh sejak puluhan bahkan
mungkin ratusan tahun yang lalu. Keduanya begitu megah namun anggun dan
cantik, dilambangkan rakyat sebagai penaung dan mengayom mereka,
terutama dalam menjalankan ajaran agama yang kokoh. Lalu dua batang
pohon lantung (sejenis pohon karet hutan) yang jangung dan langsing
tumbuh dikanan kiri halaman istana, pucuk-pucuknya nan tinggi diatas
tempat burung-burung cantik bermain dan bersarang, berusia ratusan tahun
sejak sebelum Keraton didirikan, pelambang bagi rakyat untuk
kepanjangan usia, kelestarian dan kedaulatan negeri.Pohon-pohon tadi
adalah sisa-sisa dari hutan yang ditebang sewaktu keraton didirikan.
Bangunan-bangunan keraton hamper seluruhnya dibuat dari jenis-jenis
pohon tadi yang ditebang dibuat kayu bangunan. Mesjid agung seluruhnya
dibuat dari kayu batang pohon johar.
Dipekarangan kediaman
panglima perang, tumbuhlah batang pohon kedondong yang besar. Pohon ini
sama juga tua usianya dan menghasilkan buah kedondong yang besar, lebih
besar dari kepalan tinju manusia dan sangat manis, berbuah sepanjang
tahun tanpa henti-hentinya dengan lebat. Hampir seluruh bayi dinegeri
itu dilahirkan dari kehamilan ibu-ibu yang mengdamnya buah kedondong
dari halaman rumah tuanku panglima. Karena buahnya yang lebat dan terus
menerus, siapapun diizinkan mengambilnya terutama bagi kaum wanita yang
sedang hamil.
Kelima pohon tadi diperintahkan raja untuk
ditebang. Rakyatpun kaget. Apalagi yang akan mereka jadikan perlambang
kelestarian, kebesaran dan kemakmuran negeri seperti di zaman almarhum
baginda tua serta nenek-nenek moyang, selain kedua pohon johar dan kedua
pohon lantung itu? Apalagi mereka membayangkan bahwa anak-anak balita
dimasa depan akan tampak sebagai anak-anak yang dungu dengan mulut
terbuka sedikit menganga serta air liur yang mengalir dari sudut-sudut
mulut dan bibir terus menerus akibat ketidak-lulusan ibu-ibu mereka wktu
mengidam buah kedondong dari halaman tuanku panglima.
Namun
rakyat harus menurut dan walhasil merekapun terpaksa menebang kelima
pohon tadi. Setelah itu, datanglah raja kembali memberi perintah agar
batang pohon-pohon kayu dipotong-potong melintang menjadi
penampang-penampang setebal tiga jari tangan kanan tidur. Rakyatpun
mengerjakannya. Perintah berikutnya adalah penampang-penampang adi
diracik-racik hinga setebal lidi korek api, diraut sampai halus dan
rapi, dan salah satu ujungnya diruncingkan menjadi bagaikan tusuk gigi.
Kesana kemari baginda mengontrol kerja rakyat sambil berteriak,
“Raut…raut terus…licinkan…runcingkan…!!”.
Setiap segenggam
bilah-bilah tadi diikat dengan tali serat batang pisang, tiap
gelondingan dimuat, diatur dalam kotak-kotak kayu dan kotak-kotak ini
dimuatkan ke kapal. Semuanya sebanyak sepuluh buah kapal. Segenap
pekerjaan tadi dikerjakan tanpa mesin sedikitpun, terselesaikan rakyat
tidak kurang dalam tempo Sembilan puluh hari kerja siang dan malam.
Setelah
semuanya siap termuat, besok pagnya baginda dengan serombongan pejabat
kerajaan kepercayaannya, berangkat berlayar membawa kesepuluh kapal yang
memuat bilah-bilah kayu kecil tadi. Tidak seorangpun yang tinggal
dikerajaan diberitahu negeri mana yang akan dituju. Alkisah rakyat yang
ditinggalkan terbingung-bingung memikirkan kelakukan raja. Namun lama
kelamaan mereka merasa tidak begitu penting memikirkan hal itu lagi,
karena mereka harus pergi ke hutan-hutan untuk mencari umbi-umbian,
berburu atau memancing ala kadarnya untuk sekedar mendapatkan yang dapat
dimakan. Pada akhirnyapun rakyat lupa akan kepergian raja mereka.
Selang kurang lebih lima enam bulan kemudian, pada suatu hari rombongan
raja kembali tiba di pelabuhan Hulu Amandit. Muatan kapalpun dibongkar,
ternyat ada lima belas kapal berisi beras. Setelah separuhnya disisihkan
untuk lumbung istana, sisanya dibagikan kepada rakyat. Dan dapatlah
setiap orang barang satu dua gantang, cukup untuk makan nasi sekeluarga
barang sepuluh hari.
Raja sangat bangga dan bercerita tentang
kehebatan idenya. Pada perjalanan muhibah dahulu, sewaktu singgah di
negeri Siam, raja Siam bercerita bahwa mereka mendapat hadiah sapisapi
dari kerajaan India.orang Siam mengembangkan peternakan sapid an
berhasil. Daging sapi berlimpah-limpah dan koki-koki negeri Siam dikirim
ke India dan Timur Tengah belajar memasak sate kebab, kari dan gulai.
Akibat menu-manu itu orang Siam terancam sakit gigi karena sering
keselilitan. Karena asyknya beternak disamping mengembangkan pertanian,
walau pohon kelapa tumbuh melimpah dinegerinya, orang Siam malas
membuat, dan kekurangan tusuk gigi.
Maka tatkala raja Hulu
Amandit membawa tusuk gigi itulah orang Siam sangat sukacita. Ditukarlah
tusuk gigi itu dengan beras dalam jumlah kapal yang sama ditambahi
hadiah lima kapal lagi, semua menjadi lima belas kapal penuh beras Siam.
Sekarang
mengertilah rakyat Hulu Amandit bahwa lima pohon negeri kecintaan
mereka telah betul-betul menjadi tusuk gigi. Mereka tidak dapat merasa
betul-betul bersukacita, malah menjadi sedih. Lambat laun satu orang,
dua orang, empat orang, sepuluh orang hingga hamper seluruh orang-orang
arif dan rakyat jelata tidak hanya merasa sedih, sedikit-sedikit berubah
menjadi gusar dan akhirnya marah. Mereka merasa terhina, dipermalukan
raja mereka sendiri. Untuk pertama kali rakyat Hulu Amandit mengadakan
pertemuan rahasia dan untuk pertama kali mereka memutuskan untuk
berunjuk rasa, menyampaika memorandum ke istana.
Memorandum yang
akan disampaikan berbunyi; Bahwa rakyat merasa sakit hati karena
pertama, dihinakan menjadi bangsa kuli pembuat tusuk gigi dan kedua,
rakyat sedih karena lima batang pohon kesayangan mereka telah hilang
ditebang untuk dijadikan tusuk gigi. Betul betul tusuk gigi. Dalam
memorandum tahap pertama itu mereka, untuk pertama kali, menuntut raja
meminta maaf kepada rakyat.
Maka pada hari yang ditentukan,
berbondong-bondonglah rakyat dari segenap penjuru Hulu Amandit dari
Hamalau, Simpur dan Sungai Raya, dari Gambah, Tabihi, Bakarung, Taniran
dan Hangkinang, dari Telaga Langsat sampai Haruyan, dari Muara Banta,
Padang Basung, sampai ke Gunung Madang, dari LokLoa sampai Jambu
berbaris ke istana. Mereka tidak membawa poster dan spandukseperti orang
berunjuk rasa jaman sekarang, juga tidak seorangpun membawa senjata
biar senjata tumpul sekalipun. Yang dibawa hanyalah kaleng-kaleng bekas,
tutup-tutup panic dan kuali, nyiru-nyiru dan tudung-tudung saji. Semua
hiruk pikuk dipukuli batangan kayu.
Adalah Su Tjap dari pimpinan
rombongan orang Hangkinang yang mendengar bunyi dari Tugamal dibarisan
paling belakang orang Hamalau. Mereka waktu itu berbaris menurut urutan
abjad huruf arab dari nama-nama kampong. Bunyinya khas trot tot tot,
selang tak lama trat tat tat atau trit tit tit dari arah ekor Tugamal.
Su Tjap mengarahkan telinga dan mendengarkan lgi dengan teliti. Memang
dari arah ekor Tugamal. Benar, benar, benar, orang diseluruh negeri tahu
bahwa Tugamal menderita sakit hernia atau disebut kondor oleh orang
Jawa, naik berok olh orang Jakarta atau burut burut kata orang Banjar,
Kadang-kadang sebagian dinding usus terjepit didinding bagian bawah
ruang perut yang lembek sehingga isi usus termasuk angina tidak bisa
lewat. Kalau hernianya hanya kecil, biasanya terjepitnya hanya sebagian
dan usus bisa lepas bebas lagi kembali normal dengan perobahan posisi
orang. Namun pada waktu itu, orang percaya bahwa orang yang tidak bisa
melewatkan angina harus makan obat. Obatnya ialah biji buah kidaung
(sejenis petai-petaian yang bijinya kurang lebih sebentuk dan sebesar
biji semangka belanda). Biji buah kidaung ini digoreng kering atau
dengan pasir, isi bijinya dimakan seperti makan kuaci. Dan orang segera
bisa melepas angina, bahkan dengan hebat. Rupanya hernia Tugamal kemarin
sore kumat dan malamnya dia makan biji kidaung, sehingga itulah,
pagi-paginya tatkala ikut barisan, trot tot tot, tret tet tet. Su Tjap
tak ragu lagi..
Ia berlari-lari kedepan sambil sebentar-sebentar
berteriak,”Ya kentut. Ya kentut!” Demikianlah Su Tjap berlari
berkeliling, berbicara sebentar dengan pimpinan masing-masing rombongan
kampong, sampai akhirnya seluruh barisan terhenti dan
pemimpin-pemimpinnya berkumpul disebuah lapangan kecil untuk berunding.
Pemimpin-pemimpin rombongan tak lama kemudian kembali ke barisan
masing-masing dan atas instruksinya barisan-barisan pada bubar dan
kembali kekampungnya. Unjuk rasapun batal.
Sore harinya orang
laki-laki rakyat jelata pergi ke hutan-hutan mencari buah kidaung.
Malamnya ibu-ibu dan nenek-nenek sibuk menggoreng biji kidaung tadi yang
langsung dimakan beramai-ramai oleh bapak-bapak dan pemuda-pemuda.
Haripun larut malam dan semua orang beristirahat. Selama itu orang-orang
istana tidak ada tahu apa yang siang tadi telah terjadi dan apa yang
besok direncanakan rakyat akan terjadi.
Selepas sembahyang subuh
esok harinya, barisan rakyat dimulai lagi. Hari ini mereka bertangan
kosong, tidak membawa benda apapun. Juga barisan menjadi lebih diatur,
semua berbaris empat orang empat orang memanjang dari depan kebelakang.
Sehingga panjangnya sampai kiloan meter. Orang-orang berbaris tanpa
banyak berbunyi-bunyi atau berkata-kata. Terlihat banyak orang dalam
barisan itu yang kadang-kadang tersengal-sengal menahan nafas
mengempiskan perut seakan-akan menahan sesuatu jangan sampai terlepas
dari badan mereka. Sekali-sekali ada yang usahanya gagal dan
terdengarlah trot tot tot atau trit tit tit kecil-kecilan.
Seluruh
rakyat negeri itu sangat tahu akan kegiatan rutin baginda raja. Setelah
bangun untuk sembahyang subuh, baginda biasanya tidur lagi. Nanti
tatkala matahari sudah tinggi hampir sepenggalan, baginda terjaga.
Setelah minum air putih, dengan sebatang rokok terselip dimulut, baginda
keluar kebelakang istana. Demikianlah tepat barisan terdepan rakyat
sampai dibelakang istana, mereka melihat raja memasuki kamar persiraman
dan pelepasan hajat baginda. Baginda sedikitpun tidak menyadari apa yang
terjadi disekeliling.
Bagaikan dikomando, keempat orang
dibarisan tadi maju dan bercerai. Satu ke utara, satu ke timur, satu ke
selatan dan satu ke barat dinding kamar mandi baginda. Dengan serempak
pula mereka, yang memakai sarung menyiingsing sarung tinggi-tinggi, yang
bercelana melorotkan celana agak sedikit, mmbelakangi dinding kamar
mandi, menungging dan mulai melepaskan tembakan beruntun – trot tot tot,
trat tat tat, ada juga yang tret tet tet dan trit tit tit.
Selesai
empat orang ini, dengan tenang mereka bubar memberi kesempatan berbuat
sama bagi empat orang dibelakangnya. Lama kelamaan, baginda didalam
kamar mandi, melalui sebuah lobang kecil didinding ingin mengintip
rakyat yang menembak. Ingin beliau lari keluar tapi takut akan barisan
rakyat yang begitu panjang. Akhirnya selesailah pekerjaan seluruh rakyat
dalam barisan sedikit waktu sebelum lohor. Disekitar istanapun sudah
lengang lagi. Orang-orang istana tahu bahwa raja ada didalam kamar mandi
dan tahu apa semua yang telah terjadi. Mereka membuka pintu kamar
mandi. Namun raja tidak ada didalamnya. Raja raib tak tentu rimbanya.......