Situs Candi Laras
Candi Laras adalah situs candi berukuran kecil yang terdapat di
Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan yang
ditemukan pada lokasi yang dinamakan penduduk engan sebutan Tanah Tinggi
yang terletak pada posisi koordinat 252',6" LS dan 114 56'0,7" BT. Pada
situs candi ini ditemukan potongan-potongan arca Batara Guru memegang
cupu, lembu Nandini dan lingga. Semuanya disimpan di Museum Lambung
Mangkurat, Banjarbaru.
Menurut riwayat, situs kerajaan Candi laras yaitu kerajaan Hindu Syiwa dengan rajanya yang bernama Raden Panji Sari Kaburangan.
Situs tersebut sudah banyak yang hilang karena terkubur lumpur akibat banjir dan sebagian lagi hilang dicuri.
Ditempat ini sering orang melakukan ritual secara pribadi untuk maksud tertentu khususnya dalam bidang kanuragaan dan pesugihan.
Letak candi ini tidak berada pada lokasi yang strategis, sehingga diperkirakan candi ini didirikan untuk maksud-maksud tertentu dan diperkirakan merupakan candi kenegaraan. Di dalam daerah yang berdekatan dengan candi ini, yaitu di daerah aliran sungai Amas ditemukan pula sebuah arca Buddha Dipangkara dan tulisan beraksara Pallawa yang berkaitan dengan agama Buddha, berbunyi "siddha" (selengkapnya seharusnya berbunyi "jaya siddha yatra" artinya "perjalanan ziarah yang mendapat berkat"). Daerah sekitar situs candi Laras pada masa lampau merupakan wilayah Kerajaan Negara Daha, sehingga diperkirakan kerajaan ini menganut agama Syiwa-Buddha.
Secara fisik, bangunannya berupa sumur tua dan terdapat beberapa
batang kayu ulin besar yang berumur ratusan tahun yang tertanam tidak
jauh dari sumur tersebut. Lokasinya pun terletak di sebuah pematang yang
dikelilingi persawahan warga sekitar. Selain itu, ada dua buah batu
besar yang oleh warga sekitar disebut Batu Babi. Saat ini, benda sejarah
tersebut disimpan di Museum Banjarbaru. Situs purbakala Candi Laras ini diperkirakan dibangun pada 1300
Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan
Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang
warga Tapin.Situs tersebut sudah banyak yang hilang karena terkubur lumpur akibat banjir dan sebagian lagi hilang dicuri.
Ditempat ini sering orang melakukan ritual secara pribadi untuk maksud tertentu khususnya dalam bidang kanuragaan dan pesugihan.
Letak candi ini tidak berada pada lokasi yang strategis, sehingga diperkirakan candi ini didirikan untuk maksud-maksud tertentu dan diperkirakan merupakan candi kenegaraan. Di dalam daerah yang berdekatan dengan candi ini, yaitu di daerah aliran sungai Amas ditemukan pula sebuah arca Buddha Dipangkara dan tulisan beraksara Pallawa yang berkaitan dengan agama Buddha, berbunyi "siddha" (selengkapnya seharusnya berbunyi "jaya siddha yatra" artinya "perjalanan ziarah yang mendapat berkat"). Daerah sekitar situs candi Laras pada masa lampau merupakan wilayah Kerajaan Negara Daha, sehingga diperkirakan kerajaan ini menganut agama Syiwa-Buddha.
Kalau dilihat dari tahun berdirinya, sebenarnya Candi Laras lebih tua dari candi serupa yang ada di Amuntai yakni Candi Agung yang didirikan pada saat pemerintahan kerajaan Negara Dipa, 1350 Masehi.
Namun dari aspek pengelolaan aset sejarah, Candi Agung memiliki daya pesona yang menarik wisatawan ketimbang Candi Laras. Laiknya sebuah ladang yang tidak memiliki nilai historis, sehingga terlalu tendensius ketika situs purbakala Candi Laras ini dikatakan sebagai salah satu objek wisata sejarah di Kabupaten Tapin......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar