H. Yahya Bin Afan Meninggal pada Tanggal 05 September 2008 di Desa Halayung Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan, menurut informasi beberapa orang Guru, beliau adalah seorang WALI ALLAH dan merupakan orang pilihan dari Datu Suban (Tatakan) sehingga beliau diberi Amaliyah secara langsung oleh Datu Suban (Wallahu'alam), dan beliau mendapat MA"UNAH...........Amien,,,,,,
Laman
▼
Jumat, 12 Juni 2015
Kamis, 19 Februari 2015
Habib Abdullah Bin Ja’far Assegaf
Habib Abdullah bin Ja`far
bin Umar bin Ja`far bin Syeckh bin Segaf Assegaf, lahir di Empang Bogor pada
hari Senin 8 Juni 1981, bertepatan dengan 5 Sya`ban 1401 H
Ia adalah putra kedua pasangan Habib Ja`far Assegaf dengan
Syarifah Fathmah binti Hasan bin Muhsin bin Abdullah bin Muhsin Al-Attas. Ia
adik kandung Habib Hasan bin Ja`far Assegaf, pengasuh dan pendiri Majelis Nurul
Musthofa. Kedua adiknya yang juga kini sudah terjun di dunia dakwah adalah
Habib Musthofa dan Habib Qosim.
Sejak kecil Habib Abdullah dididik dengan pendidikan agama
yang ketat. Sang ayah, Habib Ja`far, sangat keras dalam mengawasi perkembangan
anak-anaknya, terutama dalam hal menanamkan pengetahuan agama. Tak
mengherankan, di samping belajar di madrasah, Habib Abdullah juga belajar ngaji
kepada seorang ustadz yang sengaja dipanggil datang ke rumah.
Di usia tujuh tahun, Habib Abdullah sudah diwajibkan untuk
tidak lepas membaca Ratib Al-Attas selepas shalat Maghrib.
Setelah ratiban, selepas shalat Maghrib, ia berangkat ke
madrasah sampai jam setengah sembilan malam. Sedangkan di pagi harinya, ia
belajar di SDN Empang 2 Bogor. “Waktu itu Abah selalu berpesan, ‘Kamu harus
jadi orang alim. Tapi kamu harus tetap melihat kepada kakak kamu (Habib
Hasan)’.”
Habib Abdullah menuturkan bahwa abahnya sering bercerita,
ada satu keluarga memiliki empat orang putra. Keempat putranya itu menjadi
orang besar karena putra pertamanya lebih dahulu menjadi orang besar. “Abah
bilang, insya Allah kakakmu, Hasan, bakal jadi.” Karenanya, sejak kecil, Habib
Abdullah selalu disarankan oleh abahnya untuk mengikuti jejak kakaknya, Habib
Hasan. Itulah sebabnya, baginya, Habib Hasan bukan sekadar kakak, tetapi juga
guru dan pembimbing yang diteladaninya.
Lulus dari SD tahun 1993, Habib Abdullah melanjutkan belajar
ke SMPN 10 Cipaku dan lulus tahun 1996.
Setamat dari SMP, ia, yang selama itu selalu meraih
peringkat sepuluh besar dan sangat menyukai pelajaran Matematika dan Fisika,
tidak memiliki tekad lain kecuali masuk ke sekolah menengah atas favorit. Maka
ia pun mendaftarkan diri dan diterima di SMAN 4 Bogor.
Namun ternyata sang ayah tidak mengizinkannya untuk
melanjutkan ke sekolah umum, dan bermaksud memasukkannya ke pesantren. Meski
demikian Habib Abdullah tetap bersikeras untuk tetap melanjutkan pendidikan di
sekolah umum, sampai-sampai ayahnya berkata, “Abah masukin kamu SD, SMP, biar
bisa baca tulis, biar enggak dibohongin orang. Abah mau kamu mendalami agama.
Kalau mau melanjutkan ke sekolah umum, silakan cari duit sendiri.”
“Tapi waktu itu saya tetap keukeuh dengan pendirian untuk
masuk ke sekolah umum sampai-sampai Abah ngediemin saya,” kata Habib Abdullah
mengenang abahnya, yang wafat tahun 2002.
Setelah kurang lebih enam bulan lamanya, akhirnya Habib
Abdullah menyerah. “Ya udah deh, Abah, saya nyerah, terserah Abah aja kalau
memang mau masukin saya ke pesantren.”
Selama enam bulan itu, Habib Abdullah meniru apa yang
dilakukan Habib Hasan. Setiap hari yang dilakukannya hanya pulang-pergi dari
rumah ke masjid.
Tidak lama kemudian Habib Abdullah dikirim ke pesantren
Habib Nagib di Bekasi
Namun baru beberapa hari, suasana pesantren, yang sama
sekali baru bagi Habib Abdullah, sudah membuatnya tidak kerasan, terlebih lagi
sejak awal ia tidak berminat untuk masuk ke pesantren. “Saya pun langsung
nelepon Abah, saya sengaja bikin-bikin kisah-kisah yang nggak enak ke Abah....
Pokoknya yang penting waktu itu saya bisa pulang.”
“Sudah bisa baca Maulid belum?”
“Belum, Abah.”
“Nggak bisa. Kalau sudah bisa baca Maulid, kamu baru boleh
pulang.”
Mendengar kata-kata sang ayah, akhirnya Habib Abdullah
menggunakan waktu sepenuhnya untuk mempelajari Maulid, agar secepatnya bisa
pulang. Kurang lebih tiga bulan lamanya, dan Maulid Al-Habsyi pun sudah
dikuasainya dengan baik.
Habib Abdullah pun kemudian dijemput pulang kembali ke
Empang.
Di pertengahan tahun 2007, Habib Abdullah diantar oleh Habib
Hasan menuju Pesantren Darullughah Waddakwah (Dalwa). Di pesantren inilah,
setelah bertemu dengan Habib Hasan Baharun, pandangan Habib Abdullah tentang pesantren
dan dunianya mulai berubah. Mulai saat itu tekad dan cintanya sepenuhnya untuk
pesantren.
“Waktu itu, ketika dites, karena semua materinya kebanyakan
bahasa Arab, sedangkan membaca Al-Qur’an saja yang saya bisa, akhirnya saya pun
ditempatkan di kelas III Ibtidaiyah Diniyah.” Adapun untuk Mu`adalahnya
(sekolah persetaraan)-nya, Habib Abdullah tetap melanjutkan ke tingkat Aliyah
hingga tamat dan mendapatkan ijazah.
Tahun 2000 adalah tahun duka bagi Habib Abdullah. Pada tahun
itu, sang guru ruhani, Habib Hasan Baharun, dipanggil oleh Allah SWT. Pada
tahun itu juga, Habib Abdullah mohon diri kepada Habib Zein bin Hasan Baharun,
penerus Habib Hasan, untuk melanjutkan pendidikan Diniyahnya ke Hadhramaut di
bawah tanggungan Habib Abdullah Krasak, yang masih termasuk keluarga dari
ibunya.
Namun Allah berkehendak lain. Sebelum ia berangkat ke
Hadhramaut, Habib Abdullah Krasak sudah terlebih dahulu dipanggil menghadap
Allah SWT.
Sepeninggal Habib Abdullah Krasak, Habib Abdullah meminta
pendapat Habib Shodiq Baharun, adik Habib Hasan Baharun, untuk langkah
selanjutnya. Atas saran beliau, Habib Abdullah diminta untuk datang ke Darul
Musthofa, Batik Keris, Solo, untuk membantu-bantu Habib Sholeh, pengasuh
pesantren.
Di Solo, selain membantu di Darul Musthofa, Habib Abdullah
juga aktif mendatangi majelis Habib Anis Solo untuk menimba ilmu kepada beliau.
Belum setahun tinggal di Darul Musthofa, Habib Hasan, yang
waktu itu sudah memiliki majelis yang besar, meneleponnya untuk kembali ke
Jakarta. Habib Hasan memintanya agar aktif membantu di Majelis Nurul Mushthofa.
“Karena keinginan Habib Hasan tidak lain hanya agar masyarakat Jabodetabek ini,
khususnya, dan masyarakat Indonesia, pada umumnya, mengenal dan mencintai
Rasulullah, untuk membatu dan meneruskan apa-apa yang sudah dilakukan oleh para
alim ulama, asatidz, kiai, dan habaib, selama ini,” kata Habib Abdullah.
Kini, selain diamanati sebagai ketua Yayasan Nurul
Mushthofa, Habib Abdullah juga dipercaya untuk mengasuh Nurul Mushthofa wilayah
Ciganjur dan sekitarnya serta mendampingi Habib Hasan di setiap kegiatan
gabungan majelis Nurul Mushthofa.
Tahun 2004, Habib Abdullah menikah dengan Syarifah Fathimah
binti Umar bin Alwi Al-Haddad dan kini sudah dikaruniai tiga orang putra.
"Yang tertua bernama Muhammad, kedua Abdurrahman, dan yang ketiganya masih
dalam kandungan."
“Ganti Namanya dengan Nama Ane”
Sebelum mengakhiri kisahnya, Habib Abdullah menuturkan satu
kenangan terindah bersama Al-Walid Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf,
meskipun ia sendiri belum sempat mengaji kepada beliau.
Ketika putra keduanya lahir, Habib Abdullah memberinya nama
“Muhsin”, mengambil dari nama kakeknya, Habib Muhsin bin Abdullah bin Muhsin
Al-Aththas. Namun putranya itu lahir dalam kondisi sangat kritis.
Dalam situasi semacam itu, Habib Abdullah hanya pasrah
kepada Allah. Ia pun shalat Hajat dan memohon kesembuhan sang putra
tercintanya. Tapi hari demi hari kondisi sang putra belum juga menunjukkan
tanda-tanda adanya perubahan.
Melihat situasi seperti itu, Habib Hasan, sang kakak,
menyarankan agar Habib Abdullah pergi menemui Al-Walid Habib Abdurrahman
Assegaf Bukit Duri untuk meminta “air”, karena beliau adalah wali min
awliyaillah, wali di antara wali-wali Allah.
Tanpa pikir panjang lagi, Habib Abdullah segera menuju ke
kediaman Al-Walid dan mengutarakan maksud dan tujuannya.
“Nama anak ente siape?”
“Muhsin, Bib.”
“Dari mane nama itu diambil?”
“Ane ambil dari nama kakeknya, Bib. Muhsin bin Abdullah bin
Muhsin Al-Aththas.”
Mendengar nama itu, Al-Walid diam sejenak.
“Emang namanya keberatan, Bib.”
“Ah, enggak. Bagus... bagus....”
Setelah minta air dan didoakan, Habib Abdullah pun segera
mohon diri untuk kembali ke rumah sakit.
Namun belum lagi sampai di pintu majelis, tiba-tiba Al-Walid
berseru, “Walad, ta`al... (Nak, sini...).”
Dengan wajah terkejut Habib Abdullah segera kembali
menghampiri Al-Walid, yang masih duduk di tempat shalatnya.
“Ente mau anak ente sembuh, sehat.”
“Ye, Bib.”
“Ganti namanya dengan nama ane.”
Sontak saja, kata-kata Al-Walid, yang tidak diragukan lagi
kewaliannya itu, bagaikan hujan membasahi bumi yang tengah kering kerontang
dilanda kemarau panjang.
Tanpa menunda, saat itu juga Habib Abdullah langsung
menelepon agar nama “Muhsin” yang diubah menjadi “Abdurrahman”.
“Alhamdulillah, mulai saat itu juga kondisi Abdurrahman
berangsur-angsur membaik,” kata Habib Abdullah. “Ini sungguh merupakan
keajaiban dari Allah....”
Habib Seqqaf bin Muhammad as-Seqqaf
Buah
Ma'rifat kepada Allah
Sesungguhnya
tidak memandang keutamaan diri sama sekali
adalah buah ma'rifat kepada Allah dan
kebesaran-Nya.
Al-Habib
Segaf bin Muhammad Assegaf, semoga Allah meridhainya, hidup pada abad ke-12
Hijriyyah. la tumbuh besar dalam asuhan dan didikan ayahandanya, Al-Habib
Muhammad bin Umar bin Thaha Assegaf.
Kepada
ayahnya, di antaranya ia mempelajari kitab Tuhfah, karya Ibn Hajar, sampai-sampai
ia hampir menghafal isinya, juga kitab Minhaj, karya Imam An-Nawawi, yang
dengan kitab ini disebutkan pintu hatinya sering terbuka (Fath).
Begitu
bersemangatnya ia belajar, hingga ia selesai menelaah kitab Al-Ubab, karya
Al-Muzjid, dalam satu majelis diteras rumahnya. Al-Ubab adalah kitab yang cukup
tebal di antara kitab-kitab penting dalam Madzhab Imam Syafi'i.
la juga
dapat menghafal Al-Quran dengan hafalan yang sangat kuat. Itu dikarenakan,
setiap kali ia telah menghafalnya, ia mengulanginya lagi. Disebutkan, ia telah
menghafalnya sampai tujuh kali hafal. Menceritakan pengalamannya tentang hal
itu, ia bertutur, "Jika ibuku melihat aku terlalu banyak belajar, beliau
merasa kasihan. Adakalanya beliau lalu mengambil mushaf dari tanganku, karena
kasihan melihat diriku."
Sejak dari
kecil pula ia telah terbiasa hidup secara zuhud. Zuhudnya Habib Segaf adalah
zuhudnya kaum arifin yang menyadari bahwa “cinta dunia merupakan
sebesar-besamya hijab dalam menempuh jalan menuju Allah”, la pernah menjual
barang-barang miliknya dengan harga yang rendah, sebagai tanda ketidaksukaannya
kepada barang-barang tersebut.
Selain sikap
hidup yang zuhud, sejak masa kecilnya ia juga telah membiasakan diri beribadah
dengan tekun. la selalu bangun di akhir malam untuk mengerjakan shalat Tahajjud
di masjid Habib Thaha bin Alwi. la pernah mengatakan, "Aku tak pernah
meninggalkan shalat di akhir malam sepanjang hidupku, sekalipun hanya sekali.
Dan aku, berkat karunia Allah, sudah melakukannya sejak berusia tujuh tahun."
Kepekaan
sosialnya juga telah terasah sejak ia masih kecil. la pergi ke luar kota untuk
sekadar membawa ikatan kayu bakar perempuan-perempuan yang lemah hingga menuju
ke dalam kota . Dimalam hari, ia mengisi kolam-kolam di kota yang biasa
dipergunakan sebagai tempat minum binatang ternak. Itu semua dilakukannya untuk
menggembleng jiwanya dan mengatasi hawa nafsunya, di samping juga karena merasa
kasihan terhadap makhluk-makhluk Allah yang lemah.
Sehelai Daun
Guru Habib
Segaf yang paling utama adalah ayahnya, yaitu Habib Muhammad bin Umar bin Thaha
Assegaf, seorang ulama besar yang disepakati kewalian-nya. Habib Muhammad
semasa hidupnya dipercaya memegang jabatan qadhi.
Sedar kecil,
Habib Segaf selalu dekat dengan ayahnya. Bahkan hampir-hampir tidak pernah
berpisah dengannya. Selain menonjol dalam keilmuan, sifat wara' sang ayah juga
sangat dikenal dan menurun kepadanya.
Sekali waktu
ia pemah berjalan di belakang ayahnya. Saat melewati tepian sawah, ia memetik
sehelai daun. Kemudian ayahnya menoleh ke arahnya seraya mengatakan, "Dari
mana engkau memperolehnya di akhirat nanti jika Tuhanmu menanyai engkau
tentang sehelai daun itu?" Setelah
berusia lanjut, ia mengatakan, "Pertanyaan ayahku itu senantiasa
terngiang-ngiang di dalam hatiku dan masih melekat sampai sekarang."
Selain
kepada ayahnya, ia juga berguru kepada Habib Ali bin Abdullah Assegaf. Habib
Ali, seorang wali yang diyakini telah mencapai maqam quthb, maqam tertinggi
dalam kewalian, adalah gurunya yang paling terkemuka, bahkan termasuk syaikhul
futuh (guru pembuka tabir pengetahuan) baginya.
Sejak muda
usia, gurunya ini dikenal rajin bermujahadah dengan mujahadah yang sangat
berat. Kepada gurunya ini, ia meleburkan dirinya selebur-lebumya, sampai-sampai
diibaratkan hampir bercampur dengan darah dagingnya.
Di antara
akhlaq terpuji Habib Ali, semasa hidupnya, bahkan di dalam sakit yang berakhir
dengan kewafatannya, ia tidak pemah meninggalkan satu sunnah pun dari
sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW.
Setelah
Habib Ali bin Abdullah Assegaf wafat, Habib Segaf mendirikan sebuah bangunan
kubah di atas makam tempat bersemayamnya jasad mulia itu.
Selain
berguru kepada Habib Ali bin Abdullah Assegaf, ia juga menuntut ilmu kepada
Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfagih, Habib Ahmad bin Zein AI-Habsyi, Habib
Muhammad bin Zein Bin Smith, Habib Umar Hamid, Habib Hasan bin Abdullah bin
Alwi AI-Haddad, dan Syaikh Muhammad bin Yasin Ba Qais.
Mirip Akhlaq
Rasulullah
Akhlaq Habib
Segaf mirip dengan akhlaq Rasulullah SAW. la adalah seorang yang shiddiq, atau
jujur, hingga bila ia berbicara sering ia mengulang-ulanginya. "Saya
khawatir, bertambah satu kalimat itu adalah dusta." la selalu berkata
benar walau di tempat-tempat yang membahayakan jiwanya, seperti di hadapan
sultan atau orang-orang zhalim.
la juga
seorang yang telah mencapai sifat wara' sampai pada suatu tingkat yang jarang
ditemukan di masa sekarang, hingga disebutkan sedikit sekali bahkan dari
kalangan orang shalih yang mencapai tingkatan wara' seperti yang dimiliki-nya.
Sifat wara' sudah menyatu dalam hidupnya dan tidak pemah berpisah dengannya
walau sekejap mata pun, baik dalam hal makan, minum, maupun urusan lainnya.
Soal
pakaian, bila hendak membuat baju, ia mengambil kapas dari tempat yang baik,
lalu ia serahkan kepada wanita yang ia tahu keadaannya sangat miskin sekali.
Kemudian ia serahkan kepada tukang tenun yang wara'.
Soal
makanan, ia juga sangat hati-hati. la membeli makanan dari seorang yang sangat
ia kenal, dan masih terhitung kerabatnya, yaitu Habib Muhammad bin Alwi bin
Thaha. Ia membeli makanan darinya dikarenakan ia tahu persis setiap tahapan
proses dan asal-muasal makanan yang ia beli. Mengenai hal itu, ia mengatakan,
"Aku perhatikan makanan darinya lebih mendekati kepada halal, karena ia
adalah seorang pemilik sawah, dan ada petani yang mengurusnya."
Di rumah
tinggalnya, selain terdapat harta milik keluarganya sendiri, ia juga
mendapatkan sedikit bagian dari wakaf masjid, sebagai pengurus masjid.
Jika ia
disuguhi kutma, ia akan menanyakan hal itu, "Ini wakaf, atau dari uang
kalian?"
Jika dijawab
"Dari wakaf, kurma itu dikembalikannya. Tentang hal itu ia mengatakan,
"Barangkali aku bukan orang yang telah melaksanakan seluruh tugas dengan
sebenar-benarnya."
Di antara
akhlaq terpuji lainnya adalah ia tidak memandang keutamaan diri sama sekali dan
ia benar-benar merasa membutuhkan Allah Ta'ala. Sesungguh-nya tidak memandang
keutamaan diri sama sekali adalah buah dari ma'rifat kepada Allah dan
kebesaran-Nya.
Selain
akhlaq terpuji di atas, Habib Segaf juga memiliki banyak keunggulan sifat.
Berikut sekilas dari beberapa sifat utamanya:
• Sabar
Menghadapi Musibah. Suatu hari, seorang anaknya yang sangat dicintainya dan
sangat ia harapkan akan menggantikannya kelak, yaitu Abdurrahman, jatuh sakit.
Dari hari ke hari penyakitnya bertambah parah, hingga berakhir dengan kematian.
Pada saat
itu, seluruh penduduk kota menjadi gempar, karena putra Habib Segaf ini dikenal
sebagai seorang pemuda yang, sekalipun baru berumur 17 tahun, keluasan ilmunya
sulit dicari tandingannya. Menyaksikan kedukaan orang banyak itu, ia sendiri
hanya tersenyum, bahkan ia mengatakan, "Di hatiku muncul perasaan gembira
yang sangat besar.... Aku ridha... aku ridha."
•
Mendahulukan Orang Lain, la adalah seorang yang banyak berpuasa. Suatu malam,
di saat akan berbuka, ia disuguhi makanan yang lezat. Saat itu ia mengatakan,
"Antarkan makanan ini kepada Abdun Masyik." Abdun Masyik adalah
seorang yang dikenal sebagai lelaki shalih pada saat itu.
Allah
menggambarkan orang yang memiliki sifat demikian dalam firman-Nya, "Dan
mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun
mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
mereka itulah orang-orang yang beruntung." - QS AI-Hasyr (59): 9.
Jika musim
kemarau berkepanjangan dan keadaan semakin bertambah berat, ia mendatangi
orang-orang kaya dan berutang kepada mereka dan kemudian menitipkan uangnya itu
di toko-toko. Setiap kali ia melihat ada orang yang sedang kesusahan, ia
menyuruh orang tersebut mendatangi toko-toko yang telah dititipinya uang untuk
mengambil barang-barang yang dibutuhkan.
Beberapa
kali ia juga melunasi utang-utang kerabatnya tanpa sepengatahuan para
kerabatnya itu, padahal ia sendiri bukanlah terhitung orang yang mampu. Bahkan
untuk itu, seperti telah disebut di atas, ia sendiri terpaksa berutang. Namun
demikian, dalam masalah berutang pun ia seorang yang selalu berusaha
menyegerakan untuk melepaskan diri dari utang. la selalu memikirkan utangnya
bila dalam waktu agak cukup lama ia belum dapat melunasinya. Tampak di wajahnya
tanda-tanda kesedihan hingga ia dapat melunasi utangnya tersebut.
• Mudah
Memaafkan. Sekali waktu, Sultan Muhsin bin Umar, penguasa kala itu, ingin
mengangkatnya untuk mengurus anak-anak yatim. Karena merasa berat dengan amanah
itu, ia tidak mau menerima pengangkatan tersebut. Rupanya Sultan tersinggung
dan kemudian mengancam akan membunuhnya. la menyuruh salah seorang budak-nya
untuk menembak Habib Segaf, seraya mengatakan, "Kalau kau tidak berhasil
membunuhnya, kau akan kubunuh."
Singkat
cerita, ketika Habib Segaf keluar dari rumah salah seorang sahabatnya yang
bernama Umar Ash-Shabban , ia pun ditembak oleh budak itu dengan jarak yang
cukup dekat, hingga mengenai dan menembus sisi samping perutnya. la pun
terjatuh. Namun sebelum sampai jatuh di tanah, ia telah menghalalkan perbuatan
budak itu. la khawatir, bila ia mati sebelum memaafkan, dengan sebab perbuatan
itu si budak kelak akan disiksa di akhirat. Namun demikian, ia selamat dari
usaha pembunuhan itu.
Sungguh benar
apa yang difirmankan Allah SWT, "Sifat-sifat yang baik tersebut tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." -
QS Fushshilat (41): 35.
• Membersihkan Hati sebelum Tidur. Apabila
hendak tidur, ia merenungkan keadaan dirinya dan memperhatikan hatinya, apakah
pada saat itu di dalam hatinya terkandung niat yang kurang baik terhadap
seseorang yang memusuhinya atau menzhaliminya. Bilamana mendapatkan hal itu, ia
segera menghilangkannya terlebih dahulu, lalu ia menghadapkan hatinya kepada
Allah dengan niat yang sebaliknya.
Sepanjang
hidupnya, ia tidak tidur kecuali dalam keadaan yang paling baik hatinya, karena
ia khawatir akan dijemput maut pada saat tidumya. Inilah kebiasaan dirinya di
setiap malam.
• Menggembirakan Hati Orang Lain. la terkadang
duduk-duduk bersama para pengemis yang biasa berkeliling ke rumah-rumah untuk
meminta sedekah. la duduk sambil minum kopi bersama mereka. Apabila ada orang
yang menderita kusta atau belang yang hendak menjabat tangannya, yang terkadang
orang lain enggan melakukannya, ia justru me-nyambut jabatan tangan itu dengan
hangat. Betapa besar perbuatan menggembirakan orang-orang yang hancur hatinya,
yang karena penyakitnya ia sampai mengasingkan diri dari orang banyak....
• Membela
Kaum Tertindas. Apabila ada orang-orang yang mendapat gangguan dari orang-orang
yang zhalim, atau ada kasus-kasus dengan pihak penguasa, ia membelanya dengan
keadaannya, hartanya, dan perkataannya. Karena sifat wara'nya, ia tidak mau
menerima apa-apa dari seorang pun dari usaha yang telah dilakukannya itu.
• Tidak Gila
Hormat. la sebenarya tidak suka orang mencium tangannya. Mencium tangannya
bagai menyusahkan hatinya. Apalagi bagi yang hendak mencium kakinya.
"Cukup tangan saja," demikian ia mencegahnya. Namun demikian, ia
memahami ke-inginan orang-orang yang hendak bertabarruk kepadanya dengan
mencium tangannya. Dalam hal itu, ia masih berusaha mendulang kebajikan dari hal
tersebut. la, yang memang terbiasa memakai minyak wangi, sengaja membanyakkan
minyak wangi di punggung te-lapak tangan kanannya. "Semoga itu menjadi
balasan bagi orang yang menciumnya," ujarya beharap.
• Hadir
bersama Si Miskin. Bila diminta hadir untuk suatu jamuan atau walimah
pernikahan, ia tidak bersedia hadir kecuali kalau ia melihat di sana ada
orang-orang mukmin yang miskin, lemah, dan melarat. Beberapa kali ia keluar
rumah tempat diadakan sebuah jamuan karena syarat tadi tak terpenuhi. Akhimya,
para pemilik hajat itu pun memintanya kembali, "Kembalilah, dan jangan
patahkan hati kami. Engkau boleh membawa siapa saja yang kau kehendaki."
Maka ia pun
kembali dengan terlebih dulu mencari orang yang dikehendakinya, yaitu
orang-orang dari kaum dhu'afa. Setelah usai jamuan, ia mengatakan,
"Berilah para peminta-minta itu." la tidak keluar dari rumah itu
kecuali bila mereka telah mengeluarkan sesuatu untuk para peminta-minta
tersebut.
Terompah
Sang Guru
Di
keheningan subuh itu, ia bangkit berdiri untuk shalat Subuh dan tidak
meninggalkan satu pun dari sunnah-sunnah shalat.Usai shalat, ia merasakan
perutnya melilit. Oleh anaknya, ia dipapah menuju kamar kecil. Kemudian ia
mengambil wudhu kembali dengan dibantu oleh anaknya.
Setelah
berwudhu, ia kembali ke tempatnya seraya menghadapkan diri kepada Tuhannya.
Ketika rasa sakitnya bertambah, putranya mendengar ia mengucapkan sebuah ayat
AI-Quran, "Dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin dengan
kemenangan yang baik."-QSAI-Anfal{8):17.
Setelah
ajalnya semakin mendekat, perkataan terakhir yang diucapkannya adalah, "Ya
Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah
sebaik-baik Yang memberi tempat." - QS AI-Mukminun (23): 29.
Habib Segaf
bin Muhammad Assegaf wafat pada Sabtu subuh, tanggal 11 Syawwal 1195 H/1781
M.Setelah ia wafat, keluarganya membuka lemarinya. Di dalamnya tidak di-dapati
harta benda dunia selain sepasang terompah milik gurunya, Habib Ali bin
Abdullah Assegaf, yang ia ciumi setiap hari, karena kecintaannya yang mendalam
kepada sang guru.
Habib Luthfi Bin Muhammad Al-Haddad
Haddad bin Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Ja’far bin
Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy
Al-Hadad bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwy bin Ahmad
bin Abu Bakar Al–Thowil bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Faqih
bin Abdurrohman bin Alwy bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi’ Qosam bin
Alwi bin Muhammad Shohib Shouma’ah bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhajir
Ilallah Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far
Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam As-Sibth
Al-Husein bin Al-Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib suami Az-Zahro
Fathimah Al-Batul binti Rosulullah Muhammad SAW.
Sederhana dan teduh. Itulah kesan pertama bila kita berjumpa
Habib Lutfi Al-Haddad, Walau ia masih relatif muda, orang yang berdekatan
dengannya akan merasa terayomi.
Ia lahir di Probolinggo, Jawa Timur, tahun 1981, dari
seorang ibu, Syarifah Qomariyah binti Husin Alaydrus, dan ayah, Muhammad bin
Haddad Al-Haddad. Ia anak pertama dari lima ber¬saudara. Ia juga mempunyai
saudara satu ibu yang berlainan ayah, empat orang, salah satunya Habib Ali
Zainal Abidin Alaydrus, pendiri Majelis Nurul Qoma¬riyah di Cileduk, Tangerang.
Habib Lutfi Al-Haddad sangat senang bersilaturahim ke
rumah-rumah anak didiknya. Di pesantren tempat ia mengajar, Pondok Pesantren
Darul¬lughoh wa Da’wah (Dalwa), Bangil, Jawa Timur, ia mendidik
santri-santrinya seperti mendidik adik-adiknya sendiri. Para santri pun merasa
tak ada jarak dengannya, yang juga alumnus STAI Dalwa dan Ponpes Dalwa Jurusan
Syari’ah.
Ghirah Keilmuan
Ketika masih menuntut ilmu di pesan¬tren, Habib Lutfi
belajar sangat keras. Di pesan¬tren tempat ia belajar, para santri diwajib¬kan
bisa membaca, menulis, dan berbi¬cara dengan bahasa Arab. Hanya diberi waktu
selama tiga bulan, mereka harus sudah bisa menggunakan bahasa Arab.
Suatu ketika ia ditemui Abuya Hasan Baharun (alm.), pengasuh
pe¬santren. Ia, yang sedang asyik mem-baca Wirdul Lathif di masjid, setelah
sha¬lat Subuh, kaget ketika melihat siapa yang datang mendekatinya.
“Lutfi Amir, kamu ingin menjadi artis atau orang alim?”
Habib Hasan Baharun tiba-tiba menanyakan hal yang di luar dugaan.
“Ingin menjadi orang alim, Abuya…,” jawabnya.
Habib Hasan Baharun tersenyum men¬dengar jawaban itu.
“Saya ingin menjadi santri yang ama¬nah, tidak mau melanggar
aturan, agar hidup saya berkah di dunia dan akhirat.” Ia tanamkan niat untuk
menjadi manusia yang beramal shalih, yang bermanfaat bagi umat.
Habib Lutfi terkejut mengapa hal itu dita¬nya¬kan oleh Habib
Hasan Baharun. Ter¬nyata, setelah diselidiki, umi Lutfi Al-Had¬dad pernah
bertanya langsung ke¬pada Habib Hasan Baharun mengenai seorang artis, saat itu
saudaranya ada yang menjadi artis.
Ia tergolong santri yang cerdas dan pintar. Selama mondok di
Darullughah, ia telah diminta untuk mengajar.
Berkhidmah selama Lima Tahun
Sudah menjadi kewajiban para san¬tri, mereka diminta
mengajar minimal se¬lama satu tahun sebelum meninggalkan pesantren. Tetapi,
karena kecintaannya kepada para santri dan senang meng¬ajar, Habib Lutfi
mengajar hingga lima lima tahun.
Ia berkhidmah di cabang Pondok Pesantren Darullughah,
setelah lulus dari Darullughah tahun 2004, di Pesan¬tren Ba’alawi, Pandean,
Bangil. Ia meng¬ajar bahasa Arab, tauhid, fiqih, hadits, dan masih banyak lagi.
Dalam kesehariannya mengajar, ia begitu dekat dengan
santri-santrinya. Ia bisa menempatkan dirinya sebagai orangtua, sahabat, kakak,
maupun se¬ba¬gai guru. Ia menampung segala keluh kesah santrinya dan kemudian
memberi¬kan solusi.
Habib Lutfi adalah guru yang sangat dicintai
santri-santrinya, sampai suatu ketika, saat ia diminta dakwah ke Banjar¬masin,
murid-muridnya terharu dan me¬rasa kehilangan, karena begitu dekatnya mereka
dengannya.
Selama berkhidmah di Pesantren Ba’alawi, ia sama sekali
tidak minta ba¬yaran. Semua dilakukannya karena ke¬cintaannya akan syiar Islam,
dan cita-citanya berdakwah lillahi ta’ala.
Setelah berkhidmah selama lima ta¬hun di Pondok Pesantren
Ba’alawy, Habib Lutfi Al-Haddad pernah diajak berdakwah ke Sampit, pedalaman di
Kalimantan. Ia diajak oleh teman seke¬lasnya, (alm.) Ustadz Muhib Sayyidil
Anwar, waktu mereka masih bersama-sama mondok di Darullughah.
Dihadapi dengan Senyum
Dari kecil Habib Lutfi Al-Haddad memang sudah mempunyai
keinginan untuk ber¬dakwah. Ini tak lepas dari bimbingan dan dorongan kedua
orangtuanya.
Mengajar dan menjadi murabbi telah ia jalani tak kurang dari
10 tahun sejak ia lulus dari Darullughah wad Dakwah. Memang ia sangat menikmati
rutinitas yang ia jalani selama itu.
“Saya sangat senang mengajar, dan saya cinta anak-anak,”
ujarnya, yang saat ini tengah menanti buah hati per¬tamanya setelah dua tahun
menikah.
Namun, perjuangan dakwahnya tak selalu mulus. Tak sedikit
orang yang me¬nyikapi dakwahnya dengan fitnah, caci¬an, dan makian. Tapi semua
itu ia hadapi dengan senyum. Ia telah bertekad de¬ngan sepenuh hati untuk
menjalankan apa yang telah ia niatkan, berdakwah. Ia tak mengharap penghargaan
di mata manusia, tujuannya hanya mengharap ridha Allah.
Ia menginginkan agar ilmu yang di¬dapatnya bisa bermanfaat
untuk orang banyak, dan meneruskan perjuangan Rasulullah SAW, demi menciptakan
ma¬syarakat yang mengerti dan menjalan¬kan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Kini, Habib Lutfi sudah mencapai apa yang dicita-citakannya
sejak kecil. Kegiatan dakwahnya dilakukan hampir setiap hari, memenuhi undangan
siapa saja tanpa pilih-pilih. Mengajar, mengisi taushiyah, ke mana pun dan di
mana pun. Ia juga mengisi undangan salah satu televisi swasta untuk mengisi
tau-shiyah subuh, hampir setiap hari.
Di tengah kepadatan jadwal sehari-harinya, ia masih
menyempatkan diri untuk mendatangi dan menerima jama’ahnya, bahkan secara
individual.
Majelis Nurul Qomariyah
Kini, setelah hijrah ke Tangerang, tepatnya di Cileduk,
Habib Lutfi berdakwah membantu kakaknya, Habib Ali Zainal Abidin Alaydrus,
yang telah men¬dirikan Majelis Nurul Qomariyah, pada bulan Maret 2010. Ia telah
mendapat ridha dari Habib Zein bin Hasan Baharun ketika menyampaikan
keinginannya untuk membantu sang kakak di Majelis Nurul Qomariyah.
Semua santri dan murid serta ja¬ma’ah¬nya di Jawa Timur,
tempat asal¬nya, bersedih ketika Habib Lutfi Al-Haddad berpamitan untuk
membantu majelis kakaknya di Cileduk, Tangerang. Mereka sangat kehilangan sosok
Habib muda yang rendah hati dan tak mem¬batasi diri dalam setiap pergaulannya.
Di Majelis Nurul Qomariyah, ia meng¬ajarkan kepada
santri-santrinya semua ilmu yang telah didapatnya ketika belajar di
Darullughah.
Kini, Majelis Nurul Qomariyah makin berkembang. Undangan
untuk dakwah bersama sang kakak hampir setiap ming¬gu datang. Undangan untuk
mengajar dan mengisi taushiyah hampir setiap hari.
Habib Lutfi Al-Haddad semakin ber¬semangat menjalani
hari-harinya, karena ia merasa dibutuhkan umat. Dan nya¬tanya umat memang
sangat membutuhkannya....
Syekh Umar Bin Syekh Yusuf
Riwayat
singkat :
beliau
adalah orang yang ber kepribadiaan yang amat luhur, serta zuhud dan wara ..
beliau
adalah orang yang ikut serta dalam pembangun mesjid Agung Al-Karomah martapura
..
sewaktu itu
beliau bergelar Lothoh, pergilah beiau bersama 3 keluarga nya mengambil kayu
ulin beserta syeikh muhammad afif atau dikenal datu landak ..
beliau
termasuk zuriyat oleh syeikh muhammad arsyad al-banjary.
tugas beliau
sewaktu berangkat mencari kayu ulin tersebut hanya menjadi tukang pijat bagi ke
3 keluarga nya tersebut ..
jikalau
tidak khilaf beliau mempunyai 4 istri.
istri yg
tertua yaitu bertempat di pesayangan .. dan melahirkan 7 orang anak ..
lalu beliau
berpindah ke tungkaran ( kampung keramat ).
selama 3
hari beliau di tungkaran sekeluarga tiada makan, anak pun tidak berani
mempertanyakan makan apa kita hari ini. sampai di hari ke 4 anak beliau pun
memberanikan diri untuk mengatakan bahwa diri nya lapar ..
setelah itu
beliau mengambil batu, dan batu tersebut pun dimasak oleh istri beliau hingga 3
sampai 4 bulan tidak makan melainkan meminum air tanggaran batu tsb ..
baru lah
tanaman beliau berbuah seperti singkong dll ..
batu tsb pun
masih ada dan sangat banyak orang yg mencari nya
ternyata
batu dan piring cangkir beliau tsb beliau lempar ke dalam sumur yg berada di
samping makam beliau.
al-hasil
skrg banyak org yg jauh-jauh dtg hanya untuk mengambil barokah air yg ada di
dalam sumur tsb. dan ada yg tidak percaya cerita ini, lalu dia mengambil botol
dan mengambil air yg berada di sumur itu sambil berkata " jikalau benar
didalam sumur ini ada batu beliau, maka air yg ada di botol ini pasti akan
menjadi batu. "
tatkala
diangkat botol tersebut masya allah, separu air yg ada di dalam botol tersebut
menjadi batu layak nya es batu ( keras ) ..
dan ada pula
habib yg ziarah dan engambil barokah air itu dgn mengambil barokah wali dan
semoga mendapat keturunan, setelah 4 bulan istri beliau hamil ..
dan ada pula
habaib yg ziarah mengatakan " ini memang sumur org wali, jadi tergantung
innamal a'amalu binniyat saja lagi "
tentang
riwayat sumur tsb pun tidak diketahui oleh guru ramli yg menjadi petugas makam
beliau selama 4 tahun, adapun kejadian nya berawal dari orang banjar yg datang
ziarah selama 40 hari 40 malam .. sewaktu hari ke 40 org banjar tsb di temui
oleh syeikh umar yg memberi amanah agar sumur tsb dicari dan di bersihkan oleh
guru ramli ..
setelah itu
disampaikan lah amanah tsb kpd guru ramli dan langsung beliau cari bersama org
banjar itu .. setelah di pukul-pukul tanah sekitar makam, ternyata keluar air
itu ke atas hingga sekitar 2 meter lebih ..
beliau juga
mempunyai beberapa karangan perukunan yg beliau bagi sampai ke pengaron ..
di ceritakan
oleh anak beliau yg perempuan bernama jambrud yg berumur sekitar 150 thn,
menceritakan kepadaku guru ramli : " sebelum beliau wafat, beliau menabuk
lubang, betakun anak sidin, gasan apa pian menabuk lubang bah ?". beliau
menjawab " kena nyaman luh ae mun urang kada tahu xwa langsung mengubur ja
lagi "
ternyata 4
hari kemudian beliau wafat, beluman waktu siang banar sudah datangan urg dalam
pagar, telok selong, ada yg membawa kain, ada yg membawa macam-macam tu pang
.. pas 40
hari bini sidin yg ke empat buik ke log gobang, bini yg kedua kdd bisi anak,
bini yg ke tiga iya yg di sungai danau banyak bisi anak "
demikian lah
riwayat beliau ini semoga berkat riwayat singkat beliau ini, kita dimudahkan
urusan dunia dan akhirat dan mati khusnul khothimah ..
Aamiin.
FHOTO ASLI
KAROMAH HABIB LUTHFI BIN YAHYA
Kisah tentang sebuah niat yang mengalahkan logika ilmiah.
Kisah nyata Muhammad Syamsuri, beliau adalah Anggota Helm aktif (Grup Helm MR
yaitu aktivis Majelis Rasulullah saw yang bertugas mengatur lalu lintas dan
menghimbau Jama’ah Majelis Rasulullah saw agar mematuhi peraturan lalu lintas
dan menggunakan helm bagi pengendara motor, serta mengatur kelancaran lalu
lintas ketika ada pengajian Majelis Rasulullah saw.)
Kisah ini dialami oleh saudara kita, namanya Muhammad
Syamsuri. Beberapa waktu lalu beliau kecelakaan mobil di Tol Cipularang dan
mengalami retak tulang kaki sehingga harus menggunakan kursi roda. Dokter sudah
angkat tangan. Namun Syam tidak putus asa. Ia pergi ke Habib Luthfi bin Yahya
Pekalongan untuk minta doa. Syam ini adalah murid Habib Luthfi.
Pertama kali bertemu, Habib Luthfi bertanya kepada Syam
tentang niatnya jika kakinya sembuh. Syam menjawab bahwa ia ingin kembali kerja
di Jakarta. Spontan Habib Luthfi menjawab bahwa ia tidak mungkin sembuh seumur
hidup, harus memakai kursi roda. Syam dan keluarganya menangis mendengar kabar
itu. Setelah itu Habib Luthfi pun pergi dan membiarkan Syam selama 3 minggu di
rumahnya.
Selama waktu itu Syam hanya bengong dan meratapi nasibnya.
Hingga suatu malam Syam bermimpi didatangi Habib Munzir al Musawa yang lantas
rebahan di samping Syam dan memberikan lembar jadwal majlis MR sambil berbisik,
"Bilang Habib Luthfi bahwa kamu ikut saya di Jakarta".
Pagi harinya Syam lantas menemui Habib Luthfi dan berkata
bahwa ia di Jakarta membantu dakwah Habib Munzir dengan mengatur lalu lintas.
Mendengar hal itu Habib Luthfi kaget dan lantas bertanya apa yang menyebabkan
dia berubah niat? Syam lantas menceritakan mimpinya. Habib Lutfi kemudian
memeluk Syam dan berkata, "Kamu besok sembuh. Pulang ke Jakarta
berkah". Habib Luthfi kemudian mengusap kaki Syam dengan air beberapa
kali.
Malam harinya yaitu Senin malam bertepatan dengan majlis
rutin MR di Al Munawar minggu lalu, jam 21.00 kaki Syam sudah bisa digerakkan
dan bisa untuk berjalan. Akhirnya Syam bisa berjalan seperti sebelumnya dan
kini Syam sudah kembali membantu dakwah Habib Munzir dengan aktif membantu
mengatur lalu lintas di Al Munawar.
Karomah dua orang wali dan niat yang lurus mengalahkan
logika ilmiah medis yang sudah mengatakan tidak akan sembuh.
Subhanallah….
Cerita Abu al-Abbas al-Mursi
Wali Qutb kita ini adalah al-Imam Syihabuddin Abu al-Abbas,
Ahmad bin Umar al-Anshory, al-Mursi radiallahu 'anhu. sebagian ahli sejarah ada
yang mengatakan bahwa nasab beliau sampai pada sahabat Sa'ad bin Ubadah
radiallahu 'anhu pemimpin suku Khazraj. Al-Mursi dilahirkan tahun 616 H (1219
M) di kota Marsiyyah, salah satu kota di Andalus Spanyol.
Masa kanak-kanak al-Mursi
Al-Mursi melewatkan masa kecilnya yang penuh berkah di tanah
kelahirannya itu. Lazimnya seorang alim dan pendidik, ayahnya mengirim al-Mursi
kecil kepada salah satu waliyullah untuk membimbing menghapal Alquran dan
mengajarinya ilmu-ilmu agama. Secepat kilat ia terlihat kehebatan dan
kecerdasannya. Lebih dari itu ia yang masih sekecil itu telah memperoleh
anugrah Allah berupa cahaya ilahi yang merasuk dalam kalbunya. Suatu ketika
al-Mursi bercerita : "Ketika aku masih usia kanak-kanak aku mengaji pada seorang
guru. Aku menorehkan coretan pada papan. Lalu guru tadi mengatakan :"
seorang sufi tidak pantas menghitamkan yang putih". Seketika aku menjawab
: "permasalahannya bukan seperti yang Tuan sangka. Tapi yang benar adalah
seorang sufi tidak pantas menghitamkan putihnya lembaran hidup dengan noda dan
dosa”.
Al-Mursi kecil juga mengatakan: "ketika aku masih
kanak-kanak, di sebelah rumahku ada tukang penguak rahasia (peramal) lalu aku
mendekatinya. Besoknya aku datang ke guruku yang termasuk waliyullah. Maka
guruku itu mengatakan padaku satu syair: “Wahai orang yang melihat peramal
sembari terkesima. Dia sendiri sebetulnya peramal, kalau dia merasa.
Masa muda
Al-Mursi meneruskan hidupnya pada jalan cahaya ilahi sampai
menginjak dewasa. Semakin hari semakin tambah ketakwaan dan keimanannya.
Ayahnya melihatnya sebagai kebanggaan tersendiri. Maka dia dipercaya oleh
ayahnya untuk mengelola perdagangannya bersama saudaranya Muhammad Jalaluddin.
Dengan begitu, ia telah mengikuti jejak orang-orang saleh dalam hal menggabungkan
antara ibadah dan mencari rizqi. Demi menjaga amanat ini ia rela
berpindah-pindah tempat dari kota Marsiyah ke kota lainnya untuk berniaga,
sambil hatinya berdetak mengingat Allah SWT.
Pada tahun 640 H kedua orang tuanya bersama seluruh keluarga
berkeinginan menunaikan ibadah haji. Tapi sayang, takdir berbicara lain.
Sesampainya di pesisir Barnih, kapal mereka terkena gelombang. Banyak penumpang
kapal yang meningal termasuk kedua orang tuanya. Singkat cerita al-Mursi muda
dan saudaranya melanjutkan perjalannya ke Tunis untuk berdagang, meneruskan
usaha ayahya.
Pertemuan dengan al-Syadziliy
Al-Mursi menceritakan perjumpaannya dengan Syaikh Abu
al-Hasan as-Syadzily sebagai berikut: "Ketika aku tiba di Tunis, waktu itu
aku masih muda, aku mendengar akan kebesaran Syaikh Abu al-Hasan. Lalu ada
seseorang yang mengajakku menghadap beliau. Maka aku jawab : "aku mau
beristikharah dulu"! Setelah itu aku tertidur dan bermimpi melihat seorang
lelaki yang mengenakan jubah (Burnus) hijau sambil duduk bersila. Di samping
kanannya ada seorang laki-laki begitu juga di samping kirinya. Aku memandangi
lelaki nan berwibawa itu. sejurus kemudian lelaki itu berkata : "aku telah
menemukan penggantiku sekarang"! Di saat itulah aku terbangun.
Selesai menunaikan sholat subuh, seseorang yang mengajakku
mengunjungi Syaikh Abu al-Hasan datang lagi. Maka kami berdua pergi ke kediaman
Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzili. Aku heran begitu melihatnya. Syekh yang ada di
hadapanku inilah yang aku lihat dalam mimpi. Dan keherananku semakin menjadi
ketika Syekh Abul Hasan berkata padaku: "Telah aku temukan penggantiku
sekarang". Persis seperti dalam mimpiku. Selanjutnya beliau bilang :
"siapa namamu ?" Lalu aku sebutkan namaku. Dengan tenang dan penuh
kewibawaan beliau berujar : "Engkau telah ditunjukkan padaku semenjak 20
tahun yang lalu!".
Semenjak kejadian itu al-Mursi terus mendapatkan
wejangan-wejangan dari gurunya Syaikh Abu al-Hasan ini. Mereka berdua membangun
pondok (Zawiyyah) Zaghwan di daerah Tunis, di mana as-Syadzili menyebarkan ilmu
kepada murid-murid-muridnya yang beraneka ragam latar belakang dan profesinya.
Ada dari kalangan ulama', pedagang juga orang awam.
Syaikh al-Syadzili sebetulnya sudah lama meninggalkan Tunis.
Ia pergi ke Iskandariyah kemudian ke Mekkah. Kembalinya ke Tunis lagi ini
membuat orang bertanya-tanya. Dalam hal ini dia menjawab : "Yang membuatku
kembali lagi ke Tunis tidak lain adalah laki-laki muda ini (maksudnya Abul
'Abbas al-Mursi)". Setelah itu Al-Syadzily kembali lagi ke Iskandariah,
karena ada perintah dari Nabi Muhammad SAW dalam mimpinya.
Ada cerita dari al-Mursi tentang perjalanan ke Iskandariah
ini : "Ketika aku menemani Syaikh dalam perjalanan menuju ke Iskandariah,
aku merasa sangat susah sehingga aku tidak mampu menanggungnya. Lalu aku
menghadap Syaikh. Ketika beliau melihat penderitaanku ini, beliau berkata:
"Hai Ahmad…!", aku menjawab: "Iya tuanku", Beliau berkata:
"Allah telah menciptakan Adam alaihis salam dengan tangan-Nya, dan
memerintahkan malaikat-Nya untuk bersujud padanya. Allah kemudian
menempatkannya di dalam surga, lalu menurunkannya ke bumi,. Demi Allah… Allah
tidak menurunkannya ke bumi untuk mengurangi derajatnya, tapi justru untuk
menyempurnakannya. Allah telah menggariskan penurunannya ke bumi sebelum Dia
menciptakannya, sebagaimana firmannya "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
seorang khalifah di muka bumi".. (QS. 2:30). Allah tidak mengatakan di
langit atau di surga. Maka turunnya Adam ke bumi adalah untuk memuliakannya
bukan untuk merendahkannya, karena Adam menyembah Allah di surga dengan di beri
tahu (Ta'rif) lalu diturunkan ke bumi supaya beribadah pada Allah dengan
kewajiban (Taklif), ketika dia telah mendapatkan kedua ibadah tadi, maka
pantaslah dia menyandang gelar pengganti (Khalifah). Engkau ini juga punya
kemiripan dengan Adam. Mula-mula kamu ada di langit ruh, di surga pemberitahuan
(Ta'rif) lalu engkau diturunkan ke bumi nafsu supaya engkau menyembah dengan
kewajiban (Taklif). Ketika engkau telah sempurna dalam kedua ibadah itu
pantaslah engkau menyandang gelar pengganti (Khalifah)".
Begitulah Syaikh Al-Syadzili mengantarkan Al-Mursi menuju ke
jalan Allah demi memenuhi hatinya dengan rahasia-rahasia ilahiyah supaya kelak
bisa menggantikannya, bahkan bisa dikatakan supaya dia jadi Abu al-Hasan itu
sendiri. Sebagaimana Al-Syadzili sendiri pernah mengatakan : "Wahai Abu
al-Abbas… demi Allah., aku tidak mengangkatmu sebagai teman kecuali supaya kamu
itu adalah saya, dan saya adalah kamu. Wahai Abu al-Abbas.. demi Allah, apa
yang ada dalam diri para wali itu ada dalam dirimu, tapi yang ada pada dirimu
itu tidak ada dalam diri para wali lainnya".
Persatuan antara keduanya ini di jelaskan oleh Ibn
Atho'illah al-Askandari: "Suatu ketika Syaikh al-Syadzili ada di rumah
Zaki al-Sarroj, sedang mengajar kitab al-Mawaqif karangan al-Nafari, lalu
beliau bertanya: "Kemana Abu al-Abbas?" Ketika Syaikh al-Mursi
datang, beliau berkata: "Wahai anakku… bicaralah! Semoga Allah
memberkahimu… bicaralah ! jangan diam", maka Syaikh Abu al-Abbas
mengatakan: "Lalu aku di beri lidah Syaikh mulai saat itu".
Pada banyak kesempatan Syaikh al-Syadzili memuji ketinggian
kedudukan Syaikh al-Mursi, beliau mengatakan: "Inilah Abu al-Abbas,
semenjak dia sampai pada ma'rifatullah tidak ada halangan antara dirinya dan
Allah SWT. Kalau saja dia meminta untuk ditutupi, pasti permintaan itu tidak
akan dikabulkan.
Ketika ada perselisihan antara Syaikh al-Mursi dengan Syaikh
Zakiyyuddin al-Aswani, Syaikh al-Syadzili bekata: "Wahai Zaki…
berpeganglah pada Abu al-Abbas, karena demi Allah, semua wali telah ditunjukkan
oleh Allah akan diri Abu al-Abbas ini. Hai Zaki… Abu al-Abbas itu seorang
laki-laki yang sempurna".
Hal yang sama juga terjadi ketika ada perselisihan antara
Syaikh al-Mursi dengan Nadli bin Sulton. Syaikh al-Syadzily mengatakan:
"Wahai Nadli… tetaplah bersopan santun pada Abu al-Abbas! Demi Allah, dia
itu lebih tahu lorong-lorong langit, dibanding pengetahuanmu akan lorong-lorong
kota Iskandariah"! As-Syadzili juga mengatakan: "Kalau aku mati, maka
ambillah al-Mursi, karena dia adalah penggantiku, dia akan mempunyai kedudukan
tinggi di hadapan kalian, dan dia adalah salah satu pintu Allah".
Ilmu al-Mursi
Imam Sya'roni menceritakan bahwa suatu ketika ada seseorang
yang mengingkari keilmuan Syaikh al-Mursi. Orang tersebut mengatakan:
"berbicara tentang ilmu yang ada itu hanya ilmu lahir, tetapi mereka,
orang-orang sufi itu mengaku mengetahui hal-hal yang diingkari oleh
syara'". Di kesempatan yang lain orang ini menghadiri majlis Syaikh
al-Mursi. Tiba-tiba dia jadi bingung hilang kepintarannya. Seketika itu juga ia
tidak mengingkari adanya ilmu batin. Dengan sadar dan penuh sesal ia berkata :
"Laki-laki ini sungguh telah mengambil lautan ilmu Tuhan dan tangan
Tuhan". Akhirnya dia menjadi salah satu murid dekat al-Mursi. Abu al-Abbas
mengatakan : "Kami orang-orang sufi mengkaji dan mendalami bersama ulama'
fiqih bidang spesialisai mereka, tapi mereka tidak pernah masuk dalam bidang
spesialis kami".
Rupanya kealiman al-Mursi tidak terbatas pada ilmu fiqh dan
tasawuf. Ibnu Atho'illah menceritakan dari Syaikh Najmuddin al-Asfahani :
“Syaikh Abu al-Abbas berkata padaku: "Apa namanya ini dan itu dalam bahasa
asing?" Tersirat dalam hatiku bahwa Syaikh ingin mengetahui bahasa ajam
maka aku ambilkan kamus terjemah. Beliau bertanya: " Kitab apa ini?",
Aku jawab : "Ini kitab kamusnya". Lalu Syaikh tersenyum dan berkata:
" Tanyakan padaku apa saja, terseserah kamu, nanti aku jawab dengan bahasa
arab, atau sebaliknya". Lalu aku bertanya dengan bahasa asing dan beliau
menjawab dengan memakai bahasa Arab. Kemudian aku bertanya dengan bahasa Arab,
beliau menjawab dengan bahasa asing. Beliau berkata: " Wahai Abdullah…
ketika aku bertanya seperti itu tidak lain adalah sekedar basa-basi bukan
bertanya sesungguhnya. Bagi wali tidak ada yang sulit, bahasa apapun itu.
Dalam penafsiran ayat "Hanya Engkaulah yang kami sembah
dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan. "(QS. 1:5), al-Mursi menafsiri
sebagai berikut, "Hanya Engkaulah yang kami sembah maksudnya adalah
Syariah, dan hanya kepada-Mulah kami memohon adalah Haqiqoh. Hanya Engkaulah
yang kami sembah adalah Islam, dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan
adalah Ihsan. Hanya Engkaulah yang kami sembah adalah Ibadah, dan hanya
kepada-Mulah kami mohon pertolongan adalah Ubudiyyah. Hanya Engkaulah yang kami
sembah adalah Farq, dan hanya kepada-Mulah kami mohon pertolongan adalah Jam'.
Karomah Kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa menyebabkan ia
banyak mempunyai karomah, di antaranya:
* Al-Mursi telah mengabarkan siapa penggantinya setelah ia
meninggal. Orang itu adalah Syaikh Yaqut al-Arsyi yang lahir di negeri
Habasyah. Suatu ketika ia meminta murid-muridnya agar membuat A'sidah (sejenis makanan).
Iskandariah pada saat itu tengah musim panas. Karena heran ada seseorang yang
bertanya : "Bukankah A'sidah itu untuk musim dingin ?". Dengan tenang
al-Mursi menjawab : " A'sidah ini untuk saudara kalian Yaqut orang
Habasyah. Dia akan datang kesini ".
* Ada seseorang yang datang menghadap al-Mursi dengan
membawa makanan syubhah (tidak jelas halal-haramnya) untuk mengujinya. Begitu
melihat makanan itu al-Mursi langsung mengembalikannya pada orang tersebut
sambil berkata: "Kalau al-Muhasibi hendak mengambil makanan syubhah otot
tangannya bergetar, maka 60 otot tanganku akan bergetar" .
* Pada suatu masa perang, penduduk Iskandariah semua
mengangkat senjata untuk berjaga-jaga menghadapi serangan musuh. Demi melihat
hal ini, Syaikh al-Mursi mengatakan: " Selama aku ada ditengah-tengah
kalian, maka musuh tidak akan masuk". Dan memang musuh tidak masuk ke
Iskandariah sampai Abu-al Abbas al-Mursi meninggal dunia.



